Jakarta, KPonline-Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memastikan peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 akan digelar pada 1 Mei 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Agenda tersebut disebut akan menjadi momentum penyampaian aspirasi buruh KSPI kepada pemerintah, sekaligus bentuk apresiasi atas sejumlah langkah yang tengah dijalankan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pernyataannya, KSPI menyebut keputusan pelaksanaan May Day di Monas diambil setelah adanya diskusi dan dialog dengan Presiden Prabowo Subianto. Presiden KSPI sekaligus tokoh Partai Buruh, Said Iqbal, menjelaskan bahwa peringatan May Day tahun ini diarahkan sebagai ruang dialog antara gerakan buruh dan pemerintah.
Menurut KSPI, terdapat 11 isu utama atau 11 tuntutan yang akan dibawa dalam momentum May Day tersebut. Meski rincian lengkapnya belum seluruhnya diumumkan ke publik, isu-isu yang biasa diperjuangkan gerakan buruh mencakup peningkatan kesejahteraan pekerja, perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK), penghapusan sistem kerja yang merugikan buruh, jaminan sosial, kepastian upah layak, hingga penciptaan lapangan kerja yang bermartabat.
KSPI juga menyampaikan bahwa sebagian dari tuntutan tersebut telah mulai dikerjakan atau sedang diproses oleh pemerintah. Karena itu, organisasi buruh tersebut menyatakan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas kesediaannya membuka ruang komunikasi dengan kalangan pekerja.
“Banyak yang sudah dikerjakan dan sedang dikerjakan oleh pemerintah,” demikian garis besar sikap KSPI dalam menyambut peringatan May Day tahun ini.
Bagi gerakan buruh, May Day bukan hanya seremoni atau perayaan tahunan, tetapi panggung politik dan sosial bagi kaum pekerja untuk menyuarakan nasib mereka. Di Indonesia, May Day kerap diisi dengan aksi massa, panggung rakyat, hingga penyampaian tuntutan kepada pemerintah pusat maupun daerah.
Tahun ini, seperti tahun sebelumnya (2025) pemilihan Monas sebagai lokasi utama perayaan Mayday dinilai simbolis. Monas merupakan ruang publik nasional yang sering menjadi lokasi kegiatan kenegaraan dan pertemuan besar masyarakat sipil.
Sejumlah media nasional pun melaporkan Presiden Prabowo juga dijadwalkan bakal hadir dalam peringatan tersebut bersama ribuan buruh dari berbagai daerah.
Dalam kesempatan yang sama, KSPI dan Partai Buruh juga menyampaikan belasungkawa atas tragedi kereta api di Bekasi Timur. Pernyataan itu menjadi bentuk solidaritas terhadap korban dan keluarga yang terdampak musibah tersebut.
KSPI dan Partai Buruh menilai keselamatan transportasi publik harus menjadi perhatian serius negara, terutama di kawasan industri dan wilayah padat pekerja seperti Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan sekitarnya yang setiap hari menjadi jalur mobilitas buruh.
KSPI dan Partai Buruh juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam pembangunan underpass dan flyover di 1.800 titik perlintasan kereta api sebidang. Program ini dinilai penting karena menyangkut keselamatan masyarakat serta kelancaran distribusi logistik dan mobilitas pekerja.
Menurut KSPI dan Partai Buruh, pembangunan jalur layang dan terowongan di perlintasan sebidang merupakan langkah strategis yang selama puluhan tahun belum dituntaskan secara masif.
Jika terealisasi, proyek tersebut berpotensi menekan angka kecelakaan lalu lintas, mengurangi kemacetan di kawasan industri, serta mempercepat perjalanan para pekerja dari rumah ke tempat kerja.
MayDay 2026 dipandang sebagai ujian kembali hubungan antara pemerintahan Prabowo dan gerakan buruh nasional. KSPI dan Partai Buruh berharap pemerintah tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi juga melahirkan kebijakan nyata yang berpihak kepada pekerja, sesuai janji Prabowo dalam pidatonya di Mayday 2025.
Di lain sisi, pemerintah membutuhkan stabilitas hubungan industrial agar investasi terus tumbuh tanpa mengorbankan hak-hak pekerja. Karena itu, dialog antara negara, pengusaha, dan serikat buruh menjadi kunci.
Dengan membawa 11 isu ke Monas, KSPI menegaskan bahwa suara kaum buruh tetap menjadi bagian penting dari arah pembangunan Indonesia. Dan pada 1 Mei nanti, Monas bukan hanya menjadi tempat perayaan, tetapi juga panggung harapan jutaan pekerja Indonesia.