Kisah Relawan JamkesWatch Akan Dibukukan

Jakarta, KPonline –¬†JamkesWatch bekerjasama dengan Media Perdjoeangan akan membukukan kisah Relawan Pengawas Jaminan Kesehatan. Program penulisan kisah relawan ini bertajuk¬†JamkesWatch Bicara. Dalam sambutannya saat Pelatihan Menulis (4/4/2018), Sekretaris Nasional Media Perdjoeangan Muhammad Herveen mengatakan, selain dibukukan, kisah para relawan juga akan diterbitkan dalam Koran Perdjoeangan. Baik cetak maupun online.

Dalam prosesnya, peserta dibekali dengan pelatihan menulis. Kemudian, masing-masing peserta diminta menuliskan kisah dan refleksi mereka dalam mengadvokasi pasien. Kumpulan kisah inilah yang nantinya akan diterbitkan dalam buku antologi.

Bacaan Lainnya

Pelatihan penulisan sendiri sudah diselenggarakan pada tanggal 4 April 2018. Peserta yang datang membludak. Sebanyak 54 orang hadir dalam pelatihan yang menghadirkan narasumber Kahar S. Cahyono ini. Padahal, semula, panitia hanya mentargetkan 30 orang peserta.

Peserta Program JamkesWatch Bicara

Tidak semua yang hadir adalah relawan JamkesWatch. Karena itu, peserta yang bukan relawan ini akan memberikan perspektif yang berbeda tentang jaminan kesehatan. Ia justru akan memperkaya pengetahuan, mengurai dari sudut yang berbeda.

Ada beberapa tahapan program yang akan dilalui. Mulai dari tahap pendaftaran peserta, pelatihan menulis, editing naskah, penerbitan, hingga launching buku. Mengingat panjangnya rute yang dilalui, dibutuhkan daya tahan dan komitmen bagi para peserta untuk mengikuti program ini hingga usai.

Jika berhasil, maka dunia bisa melihat lebih detail hal-hal apa saja yang selama ini tidak terungkap dari para relawan. Kisah dan pemikirannya. Kegelisahan dan harapannya.

Media Perdjoeangan sendiri sudah beberapa kali memfasilitasi penulisan buku antologi. Diantaranya adalah Bermartabat Karena Serikat, Perempuan di Garis Depan, dan Bicaralah Perempuan.

 

Bermartabat Karena Serikat

Buku Bermartabat Karena Serikat ini dalam penerbitannya dikerjakan oleh tim Media Perdjoeangan.

Membaca setiap tulisan dalam buku ini, kita akan disodorkan beragam fakta, bahwa sesungguhnya kaum buruh tidak pernah menyerah. Jikapun ada kekalahan, kekalahan itu dihadapinya dengan lapang dada. Kaum buruh tidak pernah putus harapan. Mereka terus berjuang untuk merebut kemenangan.

Satu hal yang membuat buku ini menjadi bermakna, hampir semua bercerita tentang pengalamannya terlibat dalam perjuangan gerakan buruh sehingga terasa dekat sekali. Ada emosi di situ. Ada harapan, doa, dan cita-cita yang sama. Semua kisah dalam buku ini mewakili semua apa yang kita rasakan.

Tulisan ini memang bukan tulisan akademik yang berisi teori. Bukan sebuah konsep yang jauh mengawang di langit sana. Ini adalah pengalaman nyata. Dan karena ia nyata maka siapa saja bisa melakukannya. Untuk itulah tulisan ini ada. Menjadi semacam penanda, bahwa kita pernah ada dan ikut berjuang untuk mewujudkan perubahan.

 

Perempuan di Garis Depan

Launching buku ‘Perempuan di Garis Depan’ yang disupervisi oleh tim Media Perdjoeangan.

Ditulis oleh 50 orang buruh perempuan. Di buku ini, perempuan tidak lagi diam.

Mereka menegaskan ketidaksukaannya pada kekerasan terhadap perempuan. Antipati pada diskriminasi. Melalui rangkaian cerita, mereka bisa leluasa menyampaikan perasaannya. Ada yang mengisahkan perjuangannya didalam serikat pekerja. Menghadapi ancaman PHK dan segala diskriminasi di tempat kerja. Ada yang bercerita tentang satu sayapnya yang telah patah, tetapi dengan sayap yang satunya lagi ia terus berjuang untuk bisa terbang ke langit tinggi. Ada yang tertatih memperjuangkan cita dan cintanya. Semuanya disajikan dalam bentuk narasi yang menarik.

 

Bicaralah Perempuan

Bicaralah Perempuan adalah buku yang menyuarakan tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Buku ini, meski banyak berbicara tentang luka, penghiatanan, dan air mata; namun tidak hendak mengajak anda berlarut-larut dalam duka. Sebaliknya, berharap ini akan menjadi halilintar yang membangunkan banyak orang dari mimpi panjang. Kekerasan terhadap perempuan begitu nyata, sangat dekat, dan menuntut partisipasi kita semua tanpa harus berfikir lambat.

Hebatnya, setiap bagian dalam buku ini membawa pesan tersendiri. Kendati kebanyakan dari mereka adalah penyangga keluarga dan tidak punya cadangan hidup, tetapi bagi mereka perjuangan martabat manusia sebagai perempuan harus lebih penting. Mereka tidak takut lapar, tidak takut dipecat, tidak takut miskin.

Berikut adalah rute dari Program JamkesWatch Bicara:

Pos terkait