Depok,KPonline – Ketua Jaringan Rakyat Jelata (JARETA) Kota Depok, Subagya, mengunjungi sekaligus memberikan santunan kepada seorang pedagang nasi uduk dan gorengan lanjut usia, Nenek Aisyah, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kecil yang tengah berjuang mempertahankan hidup di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat.
Santunan yang diberikan memang tidak seberapa nilainya. Namun, menurut Subagya, kepedulian terhadap sesama tidak selalu diukur dari besarnya bantuan, melainkan dari kehadiran dan perhatian kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam pertemuan yang berlangsung sederhana tersebut, Subagya berbincang langsung dengan Nenek Aisyah. Di sela-sela percakapan, perempuan lansia itu menceritakan berbagai kesulitan yang dihadapinya selama beberapa waktu terakhir.
Nenek Aisyah mengaku pendapatan dari berjualan nasi uduk dan gorengan terus menurun karena dagangannya semakin sepi pembeli. Di sisi lain, harga berbagai bahan baku seperti beras, minyak goreng, telur, cabai, hingga bumbu dapur mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh semakin tipis, bahkan kerap kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang jualan makin susah. Pembeli berkurang, sementara harga bahan terus naik. Kadang hasil jualan hanya cukup untuk modal lagi,” ungkap Nenek Aisyah dengan nada lirih.
Mendengar keluhan tersebut, Subagya menilai bahwa apa yang dialami Nenek Aisyah bukanlah persoalan individu semata, melainkan gambaran nyata kondisi yang dihadapi banyak rakyat kecil di berbagai daerah.
Menurutnya, pedagang kecil, buruh harian, hingga pelaku usaha mikro merupakan kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok. Mereka harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan penghasilan yang terus tergerus oleh meningkatnya biaya hidup.
“Rakyat kecil hari ini benar-benar berada dalam posisi yang terjepit. Mereka berjuang dari pagi hingga malam hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Sementara biaya hidup terus meningkat dan daya beli masyarakat melemah,” ujar Subagya.
Ia juga menyampaikan kritik terhadap penyelenggara negara yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat kecil. Menurutnya, berbagai kasus korupsi yang terus bermunculan telah melukai rasa keadilan masyarakat.
“Di saat rakyat kecil harus menghitung setiap rupiah untuk membeli beras dan minyak goreng, kita justru masih disuguhi berbagai pemberitaan tentang praktik korupsi yang melibatkan pejabat. Ironisnya, ketika rakyat berjuang bertahan hidup, masih ada penyelenggara negara yang berpesta di atas penderitaan rakyat,” tegasnya.
Subagya berharap pemerintah dapat lebih serius menghadirkan kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat kecil, mulai dari pengendalian harga kebutuhan pokok, perlindungan terhadap pelaku usaha mikro, hingga pemberantasan korupsi secara konsisten.
Menurutnya, negara tidak boleh membiarkan kelompok masyarakat paling rentan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
“Kami berharap kepedulian terhadap rakyat kecil tidak berhenti pada kegiatan sosial semata. Yang jauh lebih penting adalah lahirnya kebijakan yang mampu menghadirkan keadilan sosial, sehingga para pedagang kecil seperti Nenek Aisyah dapat kembali menjalankan usahanya dengan tenang dan memperoleh penghidupan yang layak,” pungkasnya.
Kisah Nenek Aisyah menjadi potret kecil dari realitas yang masih dihadapi banyak warga. Di balik kesederhanaan lapak nasi uduk dan gorengan yang setiap hari ia jajakan, tersimpan perjuangan panjang seorang rakyat kecil yang terus bertahan di tengah tekanan ekonomi yang belum juga mereda.



