Alasan Order Menurun, Pabrik Sepatu Nike di Majalengka Lakukan Efisiensi Tenaga Kerja

Alasan Order Menurun, Pabrik Sepatu Nike di Majalengka Lakukan Efisiensi Tenaga Kerja

Majalengka, KPonline – Penurunan jumlah pesanan dari buyer disebut menjadi salah satu alasan PT Shoetown Ligung Indonesia, perusahaan yang memproduksi sepatu Nike di Kabupaten Majalengka, melakukan langkah efisiensi tenaga kerja.

Kebijakan tersebut mendapat perhatian dari Serikat Pekerja yang berada di lingkungan PT Shoetown Ligung Indonesia. Pasalnya, sejumlah pekerja mengaku telah menerima surat pemanggilan maupun pemberitahuan secara langsung dari atasannya masing-masing untuk menghadap manajemen perusahaan.

Bacaan Lainnya

Informasi mengenai pemanggilan pekerja mulai ramai diterima Serikat Pekerja pada Jum’at, 7 Agustus 2026. Pada hari yang sama, pengurus serikat pekerja mulai menerima berbagai pengaduan dan laporan dari anggota terkait rencana efisiensi tersebut.

Namun, menurut Serikat Pekerja, proses pemanggilan pekerja dilakukan tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu dengan organisasi pekerja. Informasi pemanggilan disebut disampaikan melalui call center perusahaan maupun pimpinan produksi.

Kondisi tersebut membuat Serikat Pekerja mempertanyakan mekanisme komunikasi yang dilakukan manajemen. Serikat Pekerja menilai seharusnya persoalan yang berdampak terhadap pekerja dibicarakan terlebih dahulu bersama organisasi pekerja.

Selain persoalan komunikasi, Serikat Pekerja juga mempertanyakan alasan efisiensi yang dikaitkan dengan penurunan jumlah pesanan.

Pasalnya, dalam beberapa minggu sebelumnya, perusahaan disebut masih melakukan penerimaan pekerja baru dengan jumlah kurang lebih 100 orang.

Menurut Serikat Pekerja, adanya proses perekrutan pekerja baru menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi sebenarnya yang sedang dihadapi perusahaan.

“Ketika suatu perusahaan membuka perekrutan pekerja, berarti perusahaan tersebut sedang membutuhkan tenaga kerja baru untuk keberlangsungan produksi. Namun, hal ini tidak selaras dengan permasalahan yang sedang dialami PT Shoetown Ligung Indonesia, khususnya mengenai efisiensi dan penurunan order,” ujar Ade Taofiq Nurrochman, Ketua PUK SPAI-FSPMI PT Shoetown Ligung Indonesia.

Ade juga mempertanyakan apakah kondisi kerugian dan penurunan order yang disampaikan perusahaan berkaitan dengan kinerja pekerja.

“Perlu kita ketahui, terjadinya efisiensi di perusahaan itu karena mengalami kerugian. Apakah kerugian dan penurunan order tersebut disebabkan oleh kita sebagai pekerja? Menurut kami, persoalan tersebut bukan semata-mata karena pekerja, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana manajemen menjaga kestabilan produksi,” tegasnya.

Menurut Ade, keberadaan Serikat Pekerja bukan hanya untuk menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan pekerja, tetapi juga dapat menjadi mitra perusahaan dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Serikat Pekerja, kata dia, memiliki fungsi untuk membela, membantu, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan pekerja beserta keluarganya. Di sisi lain, serikat pekerja juga dapat membantu perusahaan menjaga stabilitas hubungan industrial melalui komunikasi dan koordinasi dengan anggota.

“Kita bekerja di perusahaan ini sejak awal berdirinya perusahaan, tetapi belum pernah mendengar tentang keuntungan perusahaan. Yang sering kita dengar justru tentang kerugian, efisiensi, atau PHK karena perusahaan mengalami kerugian,” tambah Ade.

Ia berharap manajemen dapat membuka komunikasi yang lebih baik dengan Serikat Pekerja, khususnya dalam mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap pekerja.

Atas persoalan tersebut, manajemen perusahaan disebut akan meninjau kembali kebijakan efisiensi dan membahasnya bersama Serikat Pekerja.

Serikat Pekerja PUK SPAI-FSPMI PT Shoetown Ligung Indonesia menyatakan akan terus mengawal proses tersebut untuk memastikan kepentingan dan hak-hak pekerja tetap mendapatkan perlindungan.

Bagi Serikat Pekerja, setiap kebijakan perusahaan yang berdampak terhadap keberlangsungan pekerjaan anggota harus dibicarakan secara terbuka dan melalui mekanisme hubungan industrial yang baik.

Serikat Pekerja berharap persoalan penurunan order dan efisiensi tenaga kerja dapat diselesaikan melalui perundingan yang mengedepankan kepentingan pekerja sekaligus keberlangsungan perusahaan.

Kontributor Majalengka

Jon Halomoan Siregar

Pos terkait