Purwakarta, KPonline-Ada masa ketika suara orasi, derap langkah kaki, dan lautan manusia berbaju organisasi menjadi pemandangan yang membuat penguasa berhenti sejenak, membuka telinga, lalu menimbang ulang setiap kebijakan yang hendak dilahirkan. Jalanan bukan sekadar aspal yang dipijak ribuan kaki, melainkan ruang tempat harapan kaum pekerja diteriakkan dengan keyakinan bahwa sejarah tidak pernah berpihak kepada mereka yang hanya diam.
Gerakan buruh, sejak awal kelahirannya, lahir dari peluh yang menetes di pabrik, dari tangan-tangan kasar yang memutar roda produksi, dari mereka yang sadar bahwa hak tidak pernah diberikan begitu saja, melainkan diperjuangkan dengan keberanian dan solidaritas.
Banyak perubahan besar lahir dari aksi unjuk rasa yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Delapan jam kerja sehari, upah minimum, jaminan sosial, hak cuti, hingga berbagai perlindungan ketenagakerjaan tidak turun dari langit sebagai kemurahan hati para penguasa. Semua itu merupakan buah dari ketekunan, kesabaran, dan keberanian jutaan buruh yang rela berdiri di bawah terik matahari dan guyuran hujan demi memastikan negara tidak melupakan mereka.
Di Indonesia pun sejarah mencatat, setiap kali kaum pekerja bersatu dan memenuhi jalanan, pemerintah tak punya pilihan selain mendengar. Kenaikan upah minimum, lahirnya BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, hingga pembatalan sejumlah kebijakan yang dianggap merugikan rakyat, tak bisa dilepaskan dari tekanan kolektif yang datang dari gerakan massa.
Sebab pada hakikatnya, kekuatan buruh bukan terletak pada banyaknya jabatan, bukan pula pada kedekatan dengan lingkar kekuasaan. Kekuatan sejati gerakan buruh berada pada massa. Pada ribuan, bahkan jutaan orang yang memiliki kesadaran bahwa mereka sedang memperjuangkan nasib yang sama.
Namun waktu berjalan, dan suasana perlahan berubah. Jalanan yang dahulu riuh oleh pekik perjuangan kini tak lagi seramai dulu. Aksi-aksi besar yang mampu mengguncang pusat kekuasaan semakin jarang terlihat. Mobilisasi yang dahulu menjadi kebanggaan organisasi kini seolah hanya menjadi kenangan yang diceritakan para senior kepada generasi berikutnya.
Entah karena rasa lelah, entah karena perpecahan, atau mungkin karena sebagian mulai percaya bahwa perubahan dapat diperoleh tanpa kekuatan massa. Padahal sejarah selalu mengajarkan satu hal yang sederhana, dimana kekuasaan lebih mudah mendengar suara yang bergema daripada bisikan yang nyaris tak terdengar.
Gerakan buruh sejatinya adalah gerakan yang berbasis kekuatan massa. Ia hidup dari kesadaran kolektif, tumbuh dari solidaritas, dan menjadi besar karena kebersamaan. Ketika massa kehilangan semangat untuk bergerak, organisasi hanya akan menjadi nama. Ketika jalanan kehilangan barisan pekerja, tuntutan hanya akan menjadi tulisan yang tersimpan dalam dokumen.
Tidak ada yang salah dengan dialog. Tidak ada yang keliru dengan lobi dan perundingan. Namun sejarah membuktikan, dialog yang kuat selalu ditopang oleh kekuatan massa yang solid. Sebab di belakang setiap meja perundingan yang dihormati, selalu ada ribuan orang yang siap berdiri menjaga hasil perjuangan itu.
Mungkin zaman telah berubah. Cara berjuang pun mengalami penyesuaian. Teknologi berkembang, media sosial menjadi arena baru pertarungan gagasan, dan komunikasi semakin cepat. Namun satu hal yang tidak berubah adalah kenyataan bahwa jumlah selalu memiliki daya tawar. Solidaritas yang nyata selalu lebih kuat daripada sekadar slogan.
Karena gerakan buruh bukanlah tentang satu tokoh, bukan pula tentang siapa yang paling lantang berbicara. Gerakan buruh adalah tentang banyak orang yang percaya bahwa nasib mereka tidak akan berubah jika mereka berjalan sendiri-sendiri.
Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang memilih diam. Sejarah ditulis oleh mereka yang berani berdiri bersama.
Dan mungkin, di tengah sunyinya jalanan hari ini, ada pertanyaan yang patut direnungkan oleh seluruh kelas pekerja:
Jika gerakan buruh kehilangan kekuatan massanya, dengan apa lagi ia akan membuat kekuasaan mendengar?
Sebab dari masa ke masa, jalanan telah membuktikan satu hal yang tak lekang oleh waktu yaitu suara seorang pekerja mungkin bisa diabaikan, tetapi suara ribuan pekerja yang bergerak bersama akan selalu memiliki daya untuk mengubah arah sejarah.