Ketika Aktivis Buruh Bermesraan dengan Penguasa: Pertanda Perjuangan Naik Kelas, Bukan Kehilangan Arah

Ketika Aktivis Buruh Bermesraan dengan Penguasa: Pertanda Perjuangan Naik Kelas, Bukan Kehilangan Arah

Purwakarta, KPonline-Ada yang langsung curiga ketika aktivis buruh duduk semeja dengan penguasa. Ada yang mengernyitkan dahi ketika tokoh buruh masuk istana. Bahkan ada yang buru-buru menuduh: “Perjuangan sudah dijual, idealisme sudah tumbang.”

Lucunya, selama puluhan tahun buruh berteriak dari luar pagar kekuasaan, mereka juga dicibir. Ketika demonstrasi dianggap terlalu keras, mereka disebut perusuh. Ketika mogok kerja dilakukan, mereka dituduh menghambat investasi. Ketika menyampaikan kritik, mereka dicap pengganggu stabilitas.

Kini ketika aktivis buruh diajak masuk ke ruang tempat kebijakan dilahirkan, tudingannya berubah. Seolah-olah buruh hanya boleh menjadi penonton, tidak boleh menjadi pemain.

Padahal sejarah mengajarkan satu hal sederhana bahwa perjuangan yang berhasil bukan hanya mereka yang mampu berteriak di jalan, tetapi juga mampu mempengaruhi keputusan di meja kekuasaan.

Contohnya begini. Ada orang yang ingin buruh terus menjadi tamu di rumahnya sendiri. Mereka senang melihat kaum pekerja berdiri di luar gerbang, memegang poster, berpanas-panasan, lalu pulang membawa janji. Namun ketika ada aktivis buruh yang diberi kursi untuk ikut menentukan isi kebijakan, mereka panik seolah dunia akan runtuh.

Mengapa harus takut?

Bukankah selama ini tuntutan buruh selalu sama? Upah layak, jaminan sosial yang kuat, kepastian kerja, perlindungan hukum, dan kesejahteraan keluarga pekerja. Jika tuntutan itu bisa diperjuangkan langsung dari dalam lingkaran pengambilan keputusan, bukankah itu justru kemajuan?

Tentu saja kedekatan dengan penguasa bukan cek kosong untuk melupakan penderitaan buruh. Kedekatan itu adalah ujian. Apakah aktivis yang masuk ke dalam tetap membawa suara pabrik, suara mesin produksi, suara pekerja kontrak, suara buruh perempuan, dan suara keluarga yang hidup dari upah bulanan.

Karena pada akhirnya yang menentukan bukan seberapa dekat dengan istana, melainkan seberapa dekat dengan aspirasi anggota.

Perjuangan buruh yang dewasa memang tidak hanya mengenal satu medan tempur. Jalanan tetap penting. Konsolidasi organisasi tetap penting. Perundingan tetap penting. Namun mempengaruhi kebijakan negara dari dalam sistem juga merupakan bagian dari strategi yang tidak bisa diabaikan.

Mungkin inilah yang disebut perjuangan naik kelas.

Dari sekadar mengetuk pintu kekuasaan menjadi ikut masuk ke dalam ruangan. Dari hanya menyampaikan tuntutan menjadi ikut menyusun solusi. Dari sekadar objek kebijakan menjadi subjek yang turut menentukan arah kebijakan.

Maka ketika aktivis buruh terlihat bermesraan dengan penguasa, jangan buru-buru menghakimi. Lihat dulu hasilnya. Jika upah membaik, perlindungan meningkat, lapangan kerja bertambah, dan kesejahteraan pekerja naik, maka kemesraan itu bukan pengkhianatan.

Dengan kata lain, Kemesraan itu adalah tanda bahwa suara buruh akhirnya tidak lagi hanya terdengar dari pengeras suara aksi mobil komando, tetapi juga bergema di ruang-ruang tempat keputusan negara dibuat.

Dan bagi sebagian orang yang terbiasa melihat buruh selalu berada di luar pagar, pemandangan itu memang terasa asing. Sebab mereka lupa, tujuan perjuangan bukan selamanya berdiri di depan gerbang kekuasaan, melainkan memastikan gerbang itu terbuka bagi kepentingan kaum pekerja.