Katanya Garuda di Dadaku, Nasib Buruh Dada Indonesia Merana Kok Diam Saja?

Di PHK, buruh PT Dada Indonesia berjuang menuntut hak-haknya.

Jakarta, KPonline – Kita sering mengaku bangga sebagai warga negara Indonesia. Bahkan dengan gempita menyanyikan “Garuda di Dadaku”. Konon heroisme semacam ini sebagai bentuk kecintaan kita kepada bangsa dan negara.

Namun apalah gunanya, jika kecintaan yang kita perlihatkan baru sebatas pada kata-kata. Padahal cinta membutuhkan pembuktian. Seperti disindir dalam sebuah syair. “Apalah artinya cinta, jika hanya di bibir saja.”

Ini tentang nasib buruh Indonesia.

PT Dada Indonesia adalah contohnya. Mereka yang bekerja di perusahaan modal asing asal Korea itu nyaris tidak pernah mendapatkan hak-haknya secara penuh.

Beberapa tahun lalu, ketika perusahaan masih eksis, upahnya dibayar di bawah upah minimum. Alasannya, perusahaan tidak cukup memiliki uang untuk membayar karyawan. Maka agar perusahaan bisa tetap bertahan, maka buruh harus memberikan subsidi kepada pengusaha.

Apa namanya kalau bukan subsidi? Ketika buruh dipotong upahnya demi kelangsungan hidup perusahaan?

Kita nyaris kehilangan kata-kata untuk menjelaskan ini. Pengusaha yang kaya raya masih harus “disumbang” oleh buruhnya yang papa.

Sialnya, kemudian muncul kebijakan upah sektor padat karya. Upah jenis ini nilainya lebih kecil dari upah minimum.

Mana Garuda di Dadaku ketika “keadilan sosial” dicampakkan sedemikian rupa?

Tetapi klaim bahwa upah murah untuk menyelamatkan perusahaan hanya omong kosong. Buktinya, pengusaha PT Dada Indonesia dengan enteng menutup perusahaan. Seolah membiarkan karyawan tanpa pesangon.

Dalam bukunya berjudul ‘Kerja Layak, Upah Layak, dan Hidup Layak Gagal Diwujudkan’, yang ditulis oleh Said Iqbal dan Kahar S. Cahyono, gerakan buruh sudah mengingatkan adanya gelombang PHK yang terjadi hampir setiap tahun.

PHK besar-besar itu terjadi karena menurunnya daya beli. Karena daya beli turun, maka akibatnya barang hasil produksi tidak banyak yang membeli. Maka sebagai dampaknya adalah pengurangan karyawan.

Karena itu, jika Indoenesia ingin jaya, maka yang harus dilakukan adalah meningkatkan daya beli. Caranya adalah dengan menerapkan kebijakan upah yang layak.

Garuda di Dadaku mustinya mewujud sebentuk sikap untuk menerapkan nilai-nilai pancasila. Dalam konteks ini, demi terwujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Facebook Comments