Kami Buruh, Bukan Budak

Kami Buruh, Bukan Budak

Bogor, KPonline -Malam ini adalah malam ketiga di shift malam yang dinginnya menembus kulit dan menusuk tulang iga. Meskipun hawa panas mesin press cetakan alat kemudi kendaraan roda empat di area kerjaku begitu panas terasa, tak tertandingi dengan dinginnya bekerja dibawah bayang-bayang malam. Shift malam adalah neraka buat kami para buruh pabrik !!

Target produksi yang tak kenal belas kasihan, rasa kantuk yang menggelayuti pelupuk mata hingga produk reject yang menjadi beban moral. Yaa.. jelas ini adalah beban moral buat kami. Disaat produktivitas tinggi, insentif shift malam tak kunjung menepi ke kantong kami. Terus kami harus bagaimana lagi ? Memotong jatah uang masak istri kami lagi ? Hanya untuk menambah 1 sachet kopi instan dan sepotong roti ? Benarkah kami diperlakukan selayaknya manusia di pabrik ini ?

Ahmad dan Irawan berbisik lirih di pojokan ruangan Blend Room. Dimana uap dari bahan kimia yang menyeruak dan menyengat hidung yang sering pilek dan terasa tersumbat. Mereka berdua terlihat lemas, meskipun baru saja menyantap makan malam di kantin yang tak seberapa luas. Hanya mie goreng dan sepotong kerupuk yang mengganjal lambung mereka malam ini. Tetapi beban kerja yang harus mereka tanggung tidak sebanding dengan upah yang mereka terima.

“Kalau begini terus, apa kau masih bisa tahan dengan situasi dan kondisi makan malam kita ? ” tanya Ahmad kepada Irawan. Kembali mereka terdiam, meskipun pikiran dan hati mereka melayang entah kemana. Harus menahan rasa lapar akibat hawa dingin yang terus menusuk jiwa. Hawa dingin masih bisa diredam oleh Ahmad, rasa lapar masih bisa dihalau dengan seteguk kopi yang mulai dingin. Sebatang rokok kretek dihisap dalam-dalam, termenung di pojokan pabrik bersandar di dinding tempat pembuangan limbah B3.

Tibalah waktu istirahat makan tengah malam, dikantin pabrik yang letaknya berdampingan dengan musholla. Tanpa harus mengantri terlebih dahulu, kuraih baki makanan milik penyedia jasa catering. Kubuka dan…….

“Mulai malam ini, kami meminta jatah makan shift malam diuangkan saja ! Teriak Wahyu kepada bagian layanan catering. Sang pelayan hanya bisa berkata lirih, “Nanti saya sampaikan ke Boss Dewo yaa Mas, saya hanya menjalankan tugas, saya kerja sama seperti Mas..” lirih Sang Pelayan.

“Bilang sama Boss kamu, dengan menu seperti ini, sanggup dia mengangkat ratusan box yang akan dikirim malam ini juga. Kami ini buruh, bukan budak ! Bentak Wahyu kepada Sang Pelayan. Menu yang seadanya, nasi yang dingin dan peluh lelah yang membuncah, seakan-akan Wahyu akan menelan orang itu hidup-hidup. Marah, kesal dan kecewa.

Dengan menu yang seadanya, buruh-buruh dituntut produktivitas kerja yang tinggi. Tak sebanding dan terasa sangat tidak adil bagi buruh. Buruh diperah tenaganya, diperas keringatnya.

Setelah jam istirahat, bagian produksi berhenti beroperasi. Begitu juga bagian-bagian yang lain. Pabrik seketika hening tak ada suara, seakan-akan seperti pabrik mati.

Facebook Comments

Comments are closed.