Kakek Tua di Angkutan Kota

Memasuki H-6 menjelang Lebaran, kondisi arus mudik tampak lengang di ruas jalur Pantura Subang, Jawa Barat, 11 Juli 2015. Kondisi ini disebabkan terjadinya migrasi arus mudik hingga 70 persen ke ruas jalan tol Cikopo-Palimanan. TEMPO/Nanang Sutisna

Jakarta, KPonline – Dia sudah sepuh. Usianya sata taksir di atas lima puluh. Dengan tergesa ia naik ke angkutan koto (angkot) yang saya tumpangi.

Wajahnya murung. Matanya berkaca-kaca.

“Ada apa, Be?” Tanya si sopir. Dari intonasi suaranya, saya menduga keduanya saling mengenal.

“Saya dipecat ama majikan,” jawabnya. Penuh emosional.

“Kenapa?”

“Aku kan sakit. Nggak masuk seminggu. Pas tadi masuk katanya angkot sudah ada yang narik,” jelasnya.

Rupanya, dia juga sopir angkot. Tetapi bukan milik sendiri.

“Padahal aku sakit juga tidak minta diobati,” keluhnya. Pikiran saya melayang. Jangan-jangan juga tidak punya BPJS Kesehatan.

Setelah terdiam beberapa lama, ia melanjutkan kalimatnya. “Selama ini juga aku nggak pernah nggak narik. Bahkan sampai malam. Kok gitu amat ya…” Suaranya seperti keluar dari rongga mulur yang paling dalam.

Kalimat “kok gitu amat ya…” yang barusan ia ucapkan menggores hati saya.

“Yang sabar, Be…” Kata si sopir.

“Aku sih nggak apa-apa. Cuma caranya… (terdiak).  Ini juga istri di rumah. Lagi sakit.” Matanya berkaca-kaca.

Usai ia mengucapkan iku, audah sampai di tempat tujuan dan harus turun dari angkot itu. Tidak tahu lagi bagaimana cerita selanjutnya.

Satu hal yang saya tahu, dalam situasi seperti ini, kehilangan pekerjaan adalah tragedi. Entah siapa yang akan peduli…