Jangan Biarkan Emak-Emak Sendirian Jadi Agen Perubahan

Bogor, KPonline – Masih ingatkah rakyat Indonesia dengan era Repotnasi yang terjadi 20 tahun yang lalu. Maaf, tapi memang benar begitu adanya kan? Bapak dan Ibu kita waktu itu, memang benar-benar “kerepotan” hanya untuk urusan nasi. Secungkup asal karbohidrat yang sudah menjadi makanan pokok kita sejak balita hingga dewasa sekarang ini. Plus “ikan krismon” yang harganya murah dan terjangkau saat itu oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Jujur saja, saya merindukan masa-masa keemasan waktu itu. Dimana euforia kemenangan rakyat dan mahasiswa dalam menumbangkan Rezim Orde Baru begitu terasa hingga ke pelosok negeri. Di kampung hingga kota besar yang menjadi topik pokok pembicaraan, hampir bisa dipastikan adalah bagaimana rakyat dan mahasiswa waktu itu bergerak bersama menggulingkan Soeharto sebagai penguasa selama hampir 32 tahun lamanya.

Beriringan pula, kasak-kusuk rakyat kecil dan kaum miskin kota, berbisik dengan lirih tentang serangkaian penjarahan dan korban-korban martir Gerakan Reformasi 98. Pembakaran gedung-gedung, penjarahan mall-mall dan toko-toko yang katanya “bukan milik Pribumi”. Serangkaian pemerkosaan secara massal dan sistematis terhadap kaum perempuan etnis Tionghoa, hingga penculikan para aktivis gerakan rakyat. Kesemuanya mengerucut kepada kaum muda. Kaum Terpelajar kalau boleh dibilang. Dan saya menyebut mereka dengan mahasiswa.

13 aktivis yang masih hilang hingga saat ini sebagian besar adalah mahasiswa. 4 mahasiswa Trisakti yang tewas dalam Trgedi Trisakti adalah kaum muda. Karena kaum muda adalah agen perubahan yang sesungguhnya disetiap zaman, disetiap rezim yang berkuasa.

Kaum muda adalah kaum yang haus akan perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Bahkan, di zaman perang dalam merebut kemerdekaan, kaum muda-lah yang berperan besar. Tapi bagaimana dengan era 20 tahun pasca Reformasi saat ini?

Entahlah, baru beberapa kali saja, saya melihat secara langsung aksi-aksi “adik-adik” mahasiswa. Baik aksi di daerah maupun aksi-aksi langsung di jantung pusat pemerintahan. Banyak juga dari aksi-aksi yang dilakukan oleh “adik-adik” mahasiswa ini yang berakhir dengan tindakan represif dari pihak aparat. Ada juga yang bahkan “dicuekin” pihak aparat, hingga akhirnya “adik-adik” mahasiswa kita ini “membubarkan diri” masing-masing. Mungkin mereka lelah, atau mungkin tidak semua dari mereka yang melakukan aksi mendapatkan nasi bungkus.

Kalimat yang terakhir tadi, sengaja saya sisipkan, agar jangan sampai aksi-aksi “adik-adik” mahasiswa “diboncengi” oleh kepentingan tertentu dari pihak tertentu.

You know lah. Banyak di zaman ini yang disebut dengan “pasukan nasi bungkus”. Sekelompok orang yang berani dibayar murah, plus nasi bungkus tentunya, yang berkumpul dan berkerumun, berteriak dan mencaci maki, baik itu seseorang ataupun lembaga yang sedang mereka demo. Mereka berteriak dan melontarkan caci-maki tanpa harus tahu dan mengerti, apa tujuan mereka sebenarnya, siapa yang mereka demo, dan kenapa mereka demo. Kalau sudah ngomongin nasi bungkus, saya jadi kangen dan rindu dendam dengan kata-kata Denny Siregar. Emoticon sinis saya pasang buat beliau.

Kembali ke laptop. Pertanyaannya adalah, kemanakah kaum muda yang dulu progresif dalam pergerakan? Kemanakah kaum terpelajar yang menjadi tunas-tunas keberlangsungan negeri ini? Kemanakah adik-adik mahasiswa, yang sejak dulu dengan gagah berani, hanya bersenjatakan megaphone, tulisan-tulisan, teriakan dan yel-yel penyemangat. Kemanakah kalian saat ini?

Disaat rakyat kecil hanya bisa mengeluh, dipojok-pojok kontrakan. Disaat kaum buruh diinjak dengan penyelewengan aturan dan perundang-undangan. Disaat si miskin ditindas dan dimarjinalkan oleh si kaya. Disaat ini, disaat rezim yang berkuasa saat ini, memperlakukan rakyat yang pro terhadap rezim dengan istimewa, dan merepresif sebagian lainnya karena kritik-kritiknya.

Dimanakah adik-adik mahasiswa yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng itu? Apakah kalian sibuk dengan mata kuliah yang menguras energi dan pemikiran? Atau jangan-jangan kalian sibuk merengek meminta dibelikan kuota data kepada orang tua, hanya untuk bermain Mobile Legend atau COC?

Apakah kalian tidak melihat, ada banyak dari orang tua kalian yang saat ini menjadi buruh, ditekan perusahaan dan diinjak aturan negara yang menyalahi peraturan ketenagakerjaan?

Mengutip kata-kata Pram, “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian sama saja dengan ternak, karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”. Apakah kalian seperti ternak di zaman millenial ini? Apakah kita seperti ternak?

Jangan biarkan Emak-Emak mengambil posisi terdepan dalam perubahan. Jangan biarkan Neno Warisman, dan Emak-Emak Zaman Now menjadi agen perubahan. Kalau mereka yang menjadi generasi perubahan, terus sebagai kaum muda, untuk apa kita ada ? (RDW)