“Ini Harus Menang”

  • Whatsapp
Buruh memberikan dukungan kepada Obon Tabroni dalam Pilkada Kabupaten Bekasi Tahun 2017.

Bekasi, KPonline – Apakah anda sudan nonton film Independen – Politik Gerakan Rakyat? Jika belum, sila tonton di link pada bagian bawa artikel ini. Menonton film dokumenter ini anda akan disuguhkan satu fakta, bahwa partisipasi politik yang tulus murni itu benar-benar ada. Pernah terjadi. Satu fakta, bahwa berpolitik tidak melulu soal uang dan bagi-bagi kekuasaan.

Usai menonton film itu, ada baiknya kita membaca salah satu komentar dari salah sorang yang juga pernah menonton film tersebut.

Semalam, sekitar 1,5 jam saya diskusi dengan senior di daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Lebih tepatnya, saya mendengarkan penuturannya menanggapi video – yang mungkin dengan sembarangan saya sebut film dokumenter – Independen: Gerakan Politik Rakyat.

Bukan bahasan teknik pewarnaan. Bukan juga soal kekuatan backsound. Apalagi jenis-jenis film dokumenter. Karena memang kami (saya dan dia) bukan pakar di bidang itu. Saya pun biasanya menyerahkan diskusi teknis semacam itu ke dua teman saya yang bareng bikin film ini.

“Udah selesai nih?” tanya dia, saat layar laptop gelap setelah pertanyaan akhir dalam film yang berbunyi: “Bisakah Mereka Menang?”.

Saya mengangguk. Menutup laptop. Menggesernya. Menunggu komentar.

Dia ambil sebatang rokok. Menyalakannya. Lalu kembali bersender pada kursi yang ia duduki.

Saya hendak mengambil cangkir kopi ketika dia mulai bicara. “Ini harus menang, ndi,” ia membuka percakapan.

Kemudian ia mulai bercerita tentang sejarah politik di Amerika dan Eropa. Cukup panjang. Sampai tibalah akhirnya berkisah tentang sejarah politik Indonesia. Saya mendengarkan dengan seksama. Meski tak banyak yang bisa saya ingat. 🙂

Saya mulai sedikit nyambung ketika ia berkisah tentang awal terputusnya antara ideologi partai dengan rakyat. Sekitar tahun 70-an. Menurutnya, sejak saat itu partai seperti tak punya ideologi. Urusannya cuma Pemilu.

Sempat, katanya, ada partai yang coba berbasis ideologi. Tapi akhirnya kembali menjadi partai sekedar berebut kekuasaan. Ideologi kemudian tak lagi menjadi spirit di dalamnya.

“Saya melihat spirit relawan ini semacam kerinduan pada partai berbasis ideologi. Mereka mau berjuang sebegitunya. Kalau buruhnya saya ga heran lah. Karena emang Obon Tabroni juga dari situ kan. Militansi dan soliditasnya memang sudah kebangun. Tapi itu loh. Ada tukang ketoprak, ada tukang kue apa tadi yang pake topi koboi itu (baca: pancong). Menyenangkan melihat bagimana warga biasa berpartisipasi dalam politik dengan cara seperti itu. Eh, ada orang difabel juga ya? Itu bener dia jalan cari kopi KTP juga?” tanya dia.

Saya mengiyakan. Menuturkan bahwa masih banyak lagi orang-orang hebat di relawan Obon yang tidak terekam di film itu. Saya pun mulai menceritakan pengalaman saya mengenal mereka. Termasuk mengagumkannya relawan Obon ini yang tetap konsisten dan gigih, meski harus berhadapan dengan banyak hal, seperti budaya politik uang, aturan calon independen yang njelimet, dll.

“Iya, ini harus menang, Ndi. Udah saatnya lah kekuasaan itu dikembalikan pada rakyat. Harus serius nih kamu dan temen-temen di Bekasi. Sayang kalau sampai kalah,” tegasnya.

Menurutnya, jika ini berhasil, Bekasi akan jadi barometer politik partisipasi nasional. Bekasi akan jadi pemicu gerakan politik rakyat di Indonesia.

Semoga….