Purwakarta, KPonline-Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) memperkirakan hampir 80 juta pekerja atau sekitar 22,9% dari total lapangan kerja di negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) dibantu oleh penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Dari total lapangan pekerjaan yang ada di Asia Tenggara, sekitar 11,7 juta pekerja di antaranya atau 3,3%, masuk dalam kategori paparan tinggi untuk dibantu AI. Sementara sekitar 67% lapangan kerja teridentifikasi tidak akan terpapar AI.
Lapangan pekerjaan dengan potensi bantuan AI memang terus tumbuh sejak 2017 lalu, termasuk setelah munculnya AI generatif. Meski begitu, menurut ILO belum ada tanda-tanda bahwa kondisi tersebut akan menyebabkan pemutusan hubungan kerja skala besar.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, jenis pekerjaan dengan paparan AI tertinggi meliputi analis keuangan, pengembang multimedia, dan pialang keuangan. Namun teknologi ini belum menyebabkan gangguan pekerjaan yang meluas.
“Temuan ini menunjukkan semakin pentingnya pasar tenaga kerja bagi pekerjaan-pekerjaan di mana AI generatif dapat semakin membentuk kembali tugas dan proses kerja,” kata ILO dalam sebuah laporan, dikutip dari The Straits Times, Sabtu (11/7/2026).
Meskipun AI generatif dapat meningkatkan produktivitas untuk tugas-tugas individual, peningkatan ini belum diterjemahkan ke dalam perubahan yang terukur dalam produktivitas dan lapangan kerja.
Temuan ini bertolak belakang dengan pengurangan tenaga kerja terkait AI yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan teknologi besar yang beroperasi di ASEAN. Malah seharusnya, perusahaan-perusahaan ini dapat menyerap lebih banyak pekerjaan yang berkaitan langsung dengan teknologi kecerdasan buatan tersebut.
“Meskipun beberapa perusahaan mengurangi jumlah karyawan atau membentuk kembali tenaga kerja mereka seiring dengan adopsi AI, lapangan kerja di bidang pekerjaan dengan paparan AI tertinggi terus berkembang di seluruh Asia Tenggara,” menurut temuan ILO.
Di luar itu, berdasarkan negara Singapura memiliki persentase pekerja tertinggi yang terpapar AI, yaitu 42,2% dari total lapangan kerja yang ada. Baru setelahnya diikuti oleh Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Thailand.
“Singapura juga menempati peringkat tertinggi dalam kesiapan AI, didukung oleh infrastruktur digital yang canggih, sumber daya manusia yang mumpuni, dan pendekatan terkoordinasi di seluruh pemerintahan,” jelas temuan ILO.
Dengan laporan tersebut, ILO mendesak pemerintah untuk memperkuat tata kelola AI dan mengintegrasikan kebijakan dengan lebih baik melalui pendekatan yang berpusat pada manusia. Ipaya tersebut sangat penting untuk membantu pekerja dan bisnis beradaptasi dengan teknologi yang satu ini.
“Pada akhirnya, hasil pasar tenaga kerja di masa depan akan kurang bergantung pada paparan semata daripada pada pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, dan lembaga untuk beradaptasi dan menavigasi transisi AI,” tegas ILO.



