Herlina, Tokoh Kartini Masa Kini Yang Tak Mau Berhenti Belajar

  • Whatsapp

Batam,KPonline – Herlina SE Perempuan kelahiran Pagaralam, 21 Oktober 1973 silam ini adalah salah satu tokoh Kartini masa kini yang di miliki oleh FSPMI. Ia mulai aktif dalam kegiatan serikat pekerja, bermula dengan menjadi anggota biasa di PT. TEAC Electronics Indonesia.

“Saya terus belajar mengasah kemampuan saya untuk terus aktif berorganisasi, salah satunya di FSPMI yang telah mengajarkan saya banyak hal, mengikuti berbagai aktivitas positif dan thollabul ilmi, saya juga tidak pernah segan belajar dan melanjutkan kuliah meski usia tidak lagi muda” Ungkapnya

Bacaan Lainnya

Saat ini, Herlina dipercaya sebagai Vice Presiden bidang Perempuan –Dewan Pimpinan Pusat FSPMI. Bukan kebetulan, jika ia dipercaya memegang jabatan itu. Karena, memang, ia adalah perempuan yang mumpuni dalam melakukan kerja-kerja organisasi.

Herlina ternyata juga terlibat aktif di Partai Politik tepatnya di Partai PKB. Herlina sangat hobi dengan membaca, travelingi, belajar, dan mendengarkan musik . Peran Herlina tak bisa dipandang sebelah mata, berbagai jabatan yang diamanahkan kepadanya, sudah cukup untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa. Perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan konstribusi dan bermanfaat untuk banyak hal.

“Berdiskusi dengan suami dan anak untuk setiap pencapaian dan kekhilafan, saling koreksi meski kadang susah untuk saling menyamakan keinginan, senantiasa berdialog memohon petunjuk kepada Allah SWT dan bersilahturahmi kepada sesepuh, kerabat dan sahabat, berusaha maksimal memenuhi kebutuhan anak-anak baik materi maupun non materi meski masih banyak kekurangan, perhatian ataupun cubitan, pertengkaran maupun pelukan sudah lazim di keluarga kecil kami, inilah makna Kartini sejati bagi saya, Seorang Herlina yang merasa haus untuk terus belajar dan senantiasa memperbaiki diri agar menjadi Lebih baik, dan lebih lebih lebih baik lagi”

“Saya belum menemukan sebuah titik dimana saya harus berhenti, berawal dari masa kecil saya, mendiang ibu meminta saya untuk ikut tadarus membaca alquran bersama semua sepupu saya dirumah mang Saman (Alm) di dusun Pagarkaya, karena mengaji masih terbata maka saya hanya duduk disamping ibu dengan duduk terdiam, menangis lirih karena tidak bisa menjadi kebanggaan ibu waktu itu”

“Suatu ketika saat liburan saya diajak ibu untuk hadir ke pernikahan sepupu saya di Bengkulu dan saya diminta bibi dan ibu untuk menjadi MC acara, saya dengan bergetar takut tapi mengiyakan dan berani maju meski nervous, saya melihat rona bahagia di wajah ibu waktu itu, dan saya senang sudah bisa membuat ibu bangga akan keberanian saya untuk tampil. Lalu waktu bergulir dan ibu mengirim saya untuk belajar jauh supaya menjadi seperti apa yang ibu harapkan, SMA Taruna saya di Leces, kuliah diMalang, lalu merantau lagi bekerja di Batam. Dari dulu ketika orang tua masih ada, saya memang bertekad akan membuat banyak kebanggaan dan kebahagiaan untuk kedua orang tua kami” Tutupnya (Et)

Pos terkait