Hak Belum Dibayar, Buruh PT Pakerin Gelar Aksi Bertahan dan Dapat Dukungan Lintas Daerah

Hak Belum Dibayar, Buruh PT Pakerin Gelar Aksi Bertahan dan Dapat Dukungan Lintas Daerah

Mojokerto, KPonline – Ratusan pekerja PT Pakerin masih bertahan di depan pabrik yang berlokasi di kawasan Mojokerto hingga Selasa malam (23/6/2026). Mereka mendirikan “Tenda Juang” sebagai bentuk perlawanan simbolik yang telah berlangsung sejak Senin (22/6/2026). Aksi ini dipicu oleh janji pembayaran upah dan Tunjangan Hari Raya (THR) tahun 2026 yang hingga kini tak kunjung terealisasi.

 

Bacaan Lainnya

Di tengah tekanan dan kelelahan fisik, gelombang solidaritas justru terus mengalir deras. Bantuan datang bergantian dari berbagai Pimpinan Unit Kerja (PUK) se-Mojokerto, Sidoarjo, hingga Surabaya. Bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat moral, tetapi juga material, berupa air minum kemasan, makanan siap saji, hingga bahan pokok lainnya. Para pendukung mulai berdatangan sejak usai jam kerja, menunjukkan kepedulian nyata terhadap sesama buruh yang tengah terimpit persoalan hak normatif.

 

Aksi ini merupakan wujud dukungan penuh kepada anggota PUK SPAI FSPMI PT Pakerin, yang hingga saat ini masih mengalami musibah berupa dugaan tunggakan pembayaran upah dan THR 2026. Para pekerja menilai, perusahaan belum menjalankan janjinya secara utuh untuk memenuhi kewajiban tersebut.

 

Sebelumnya, beredar kabar bahwa Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mencairkan dana talangan sebesar sekitar Rp82 miliar ke rekening PT Pakerin menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Dana tersebut diklaim diperuntukkan bagi pembayaran upah pekerja periode Oktober, November, dan Desember 2025, serta Januari, Februari 2026, dan THR.

 

Namun, harapan besar itu sirna. Realisasi pembayaran baru mencakup gaji bulan Oktober hingga Desember 2025. Sementara itu, upah untuk Januari dan Februari 2026, beserta THR, hingga kini masih menggantung dan belum dibayarkan. Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam di kalangan pekerja, terlebih momentum Lebaran sudah di depan mata.

 

Hingga larut malam, para pekerja tetap bertahan di lokasi, menolak pulang sebelum hak-hak mereka dipenuhi. Kehadiran massa pendukung dari berbagai daerah di Jawa Timur menambah semangat perjuangan, sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan buruh bukanlah isu lokal, melainkan persoalan kemanusiaan yang memerlukan perhatian semua pihak. Masyarakat dan pemangku kepentingan pun berharap agar ada langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan ini secara adil dan cepat.

Pos terkait