Mojokerto, KPonline – Hari kedua penjagaan di depan pabrik PT Pakerin yang berada di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, masih berlangsung hingga Selasa malam (23/6/2026). Ratusan massa yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) tetap bertahan di bawah “Tenda Juang”. Mereka bersikukuh untuk tidak bergerak dari lokasi sebelum hak-hak mereka, seperti upah bulan Januari, Februari, dan Tunjangan Hari Raya (THR) 2026, dibayarkan lunas oleh manajemen.
Aksi ini merupakan bentuk protes keras karena janji manajemen yang dianggap ingkar. Sebelumnya, beredar kabar bahwa Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mencairkan dana talangan sebesar sekitar Rp82 miliar ke rekening PT Pakerin menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Dana tersebut diklaim diperuntukkan bagi pembayaran upah pekerja periode Oktober, November, dan Desember 2025, serta Januari, Februari 2026, dan THR. Namun, harapan itu pupus. Realisasi pembayaran baru mencakup gaji bulan Oktober hingga Desember 2025, sementara upah Januari dan Februari 2026 serta THR hingga kini masih menggantung .
Tak hanya persoalan upah, kekhawatiran baru muncul di kalangan pekerja. PT Pakerin diduga berupaya mengeluarkan mesin dan aset pabrik secara diam-diam untuk kepentingan sepihak. Menanggapi hal ini, PUK FSPMI PT Pakerin melakukan pengawasan ketat di 3 titik pintu keluar pabrik. Anggota berjaga 24 jam secara bergantian untuk memastikan tidak ada satu pun aset yang keluar tanpa sepengetahuan serikat pekerja.
Samsul, salah satu karyawan yang berjaga di titik pintu masuk, menyampaikan kepada awak media Perdjoeangan terkait alasan tegas mereka melakukan pendudukan. “Upah beberapa bulan dan THR belum juga diselesaikan. Padahal sebelum hari raya Idul Fitri 2026, PT Pakerin sudah mendapat dana Rp82 miliar yang diperuntukkan untuk gaji beberapa bulan dan THR. Kenyataannya, hanya beberapa bulan saja yang diberikan,” ujarnya dengan nada sumbang.
“Ia bersama anggota yang lain membagi tugas untuk menjaga 3 titik masuk dan keluar pabrik. Tujuannya agar kita bisa mengontrol barang yang keluar, bukan mesin atau aset yang lain. Sebab, aset tersebut adalah hak kita yang masih belum diselesaikan oleh PT Pakerin,” tegas Samsul, menggambarkan betapa pentingnya pengamanan aset ini sebagai jaminan atas hak-hak mereka yang belum dibayar .
Hingga berita ini diturunkan, suasana di lokasi aksi masih terkendali namun diwarnai tensi tinggi. Para buruh bertekad untuk terus bertahan sampai ada kejelasan dan kepastian hukum atas nasib mereka.



