Medan,KPonline, – Ada sebuah kebohongan yang terus-menerus dipelihara dan diabadikan dalam dunia industri:” seolah-olah perusahaan berdiri karena kehebatan direksi dan komisaris. Seolah-olah tanpa mereka, roda perusahaan akan berhenti berputar. Padahal kenyataannya sangat berbeda.”
Mari kita berfikir dengan logika dan akal sehat serta secara jujur melihat yang sebenarnya.
Bagaimana jika seluruh buruh berhenti bekerja selama satu minggu, apa yang kemudian terjadi terhadap perusahaan ?
Seluruh kegiatan operasional perusahaan mulai dari proses produksi hingga distribusi pasti berhenti.
Pelanggan kecewa.
Pendapatan hilang. Perusahaan merugi.
Selanjutnya mari kita melihat kebalikannya.
Jika direksi dan komisaris tidak masuk kantor selama satu minggu, apakah kegiatan operasional perusahaan langsung berhenti beroperasi?
Jawabannya, jika seluruh dewan direksi dan komisaris tidak masuk kantor dalam waktu satu minggu, kegiatan operasional perusahaan dari mulai proses produksi hingga distribusi tidak akan berhenti, tetap berjalan seperti biasa.
Karena yang mengoperasikan seluruh alat produksi bukan direksi danvkomisaris, juga bukan para pemegang jabatan di ruang rapat berpendingin udara.
Buruhlah yang mengoperasikan semua peralatan yang berhubungan dengan proses produksi dan distribusi.
Buruhlah yang mengubah bahan baku menjadi produk.
Buruhlah yang menggerakkan pabrik dari pagi hingga malam.
Buruhlah yang menciptakan nilai tambah yang kemudian dijual perusahaan untuk memperoleh keuntungan.
Artinya :”Tanpa buruh, modal hanyalah besi tua.”
Tanpa buruh, pabrik hanyalah bangunan kosong.
Tanpa buruh, mesin hanyalah tumpukan logam yang tidak menghasilkan apa-apa.
Fakta ini sengaja disembunyikan agar buruh merasa dirinya kecil dan tidak penting.
Ilustrasi Sederhana.
Sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit bisa berkembang karena kerja nyata Manajer Kebun, Manajer Pabrik Kelapa Sawit, dan seluruh buruh yang setiap hari, merawat, memanen, mengangkut, serta mengolah buah sawit menjadi CPO.
Jika mereka berhenti bekerja selama satu minggu, buah sawit akan tetap menggantung di pohon dan tidak akan pernah menjadi CPO.
Sebaliknya, jika para komisaris dan direksi tidak bekerja selama satu minggu, proses produksi tetap berjalan seperti biasa.
Artinya, sumber utama nilai dan keuntungan perusahaan lahir dari kerja para buruh yang menggerakkan roda produksi, bukan dari mereka yang hanya berada di puncak struktur organisasi.
Fakta peran penting buruh ini tetap tidak terlihat, para buruh diajarkan untuk bersyukur karena diberi pekerjaan, tetapi jarang diajarkan bahwa perusahaan juga hidup karena tenaga, pikiran, keterampilan, dan pengorbanan buruh.
Direksi memang mengelola.
Komisaris memang mengawasi.
Pemegang saham memang menyediakan modal.
Tetapi tidak satu pun dari mereka yang mampu menciptakan keuntungan tanpa kerja kolektif kaum buruh.
Keuntungan perusahaan lahir dari keringat buruh.
Dividen pemegang saham berasal dari produktivitas buruh.
Bonus direksi berasal dari hasil kerja buruh.
Bahkan gaji dan tunjangan para komisaris dan direksi bersumber dari nilai yang dihasilkan buruh setiap hari.
Sayangnya, justru pihak yang paling banyak menciptakan kekayaan sering kali menjadi pihak yang paling sedikit menikmati hasilnya serta yang paling menderita.
Ketika perusahaan untung besar, buruh diminta memahami kondisi bisnis.
Ketika perusahaan rugi, buruh diminta berkorban.
Ketika target tercapai, yang dipuji direksi.
Ketika target gagal, yang disalahkan buruh.
Inilah ketidakadilan yang harus dipahami oleh setiap buruh
Tulisan ini bukan untuk mengajarkan kesombongan kepada buruh. Bukan pula untuk menafikan fungsi direksi atau komisaris. Semua unsur memiliki peran masing-masing.
Tetapi buruh harus sadar posisi dan kekuatannya.
Kesadaran kelas dimulai dari memahami satu fakta sederhana:
Perusahaan tidak hidup karena gedungnya.
Perusahaan tidak hidup karena komisarisnya.
Perusahaan tidak hidup karena direksinya.
Perusahaan hidup karena ada buruh yang setiap hari mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, dan hidupnya untuk menggerakkan roda produksi.
Buruh tidak boleh merasa sebagai beban perusahaan.
Buruh adalah aset utama perusahaan.
Buruh bukan pelengkap.
Buruh bukan alat.
Buruh bukan angka dalam laporan keuangan.
Buruh adalah pencipta nilai. Buruh adalah penggerak produksi. Buruh adalah jantung yang memompa kehidupan ke dalam perusahaan.
Dan ketika buruh menyadari kekuatan itu, mereka tidak akan mudah ditakut-takuti, dipecah-belah, atau dibungkam.
Tidak ada perusahaan yang mampu hidup tanpa buruh. Tetapi buruhlah yang selama ini dipaksa percaya bahwa mereka tidak berarti tanpa perusahaan. (AB)