Jakarta, KPonline – Upaya membangun komunikasi dua arah antara buruh dan perusahaan terus didorong. Bertempat di Vasaka Hotel Jakarta, Jumat 19 Juni 2026, digelar Dialog Terbuka Pimpinan Serikat Pekerja/Serikat Buruh dengan Pimpinan PT IMIP Morowali.
Dialog ini jadi ruang temu langsung antara perwakilan pengurus serikat pekerja dan jajaran manajemen kawasan industri terbesar di Sulawesi Tengah itu. Tujuannya satu yaitu menyamakan persepsi sebelum masuk perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang dijadwalkan Agustus 2026.
Dari unsur serikat pekerja hadir perwakilan:
1. Federasi Pertambangan dan Energi (FPE)
2. Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)
3. Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan FSPMI (SPLP FSPMI)
Dari pihak perusahaan hadir 5 orang perwakilan manajemen PT IMIP Morowali. Kehadiran kedua belah pihak menjadi bukti itikad baik kedua belah pihak untuk berdiskusi.
Pantauan koran perdjoeangan, suasana dialog berlangsung cukup cair. Diskusi menghasilkan beberapa rekomendasi agar perundingan PKB di IMIP Morowali berjalan lancar.
Manajemen IMIP disebut sangat akomodatif. Buktinya, 16 serikat pekerja dilibatkan dalam perundingan PKB,
“Kami sangat mengakomodir keterwakilan serikat pekerja dalam perundingan PKB, namun ada permasalahan yang akhirnya perlu solusi dari pimpinan organisasi,” kata Mendatu mewakili manajemen.
Menanggapi itu, pihak serikat pekerja sepakat, bahkan mengusulkan mekanisme baru. “Mungkin bisa diusulkan moderator atau konsultan dari serikat pekerja tingkat Nasional dan pemerintah agar perundingan PKB ada progres dari PKB sebelumnya. Tujuannya biar kalau ada perbedaan penafsiran pasal, ada pihak netral yang bisa jadi jembatan,” kata perwakilan serikat.
Untuk percepat proses, dalam waktu dekat manajemen akan segera mengundang Pengurus PUK-PUK di kawasan IMIP. Harapannya, setelah konsolidasi internal serikat beres, meja perundingan PKB bisa langsung jalan tanpa banyak tarik-ulur.
Pertemuan ini nggak akan berhenti di Vasaka Hotel saja. Kedua pihak sepakat dialog akan dijadwalkan secara kontinyu. Tujuannya biar komunikasi tetap kuat, miskomunikasi bisa ditekan, dan akhirnya tujuan bersama tercapai usaha perusahaan jalan, kesejahteraan pekerja meningkat.
Langkah ini penting. PKB yang baik lahir dari dialog yang jujur, bukan dari adu otot. Kalau komunikasi dua arah dijaga dari sekarang, Agustus nanti perundingan PKB IMIP Morowali diharapkan lebih cepat, lebih seimbang, dan lebih berkeadilan. (Yanto)