Derita Afifah, Gadis Cantik Penderita Leukimia Bertahan Hidup Hadapi Penyakitnya

Bekasi, KPonline – Setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya bisa merasakan kebahagian dalam setiap menjalani kehidupannya. Lain halnya yang dirasakan oleh anak gadis yang bernama Afifah Putri Anggrayani kelahiran 05 Januari 2011 ini. Seorang anak gadis yatim yang terus masih berjuang untuk bertaham hidup melawan penyakit Leukemia yang sudah berkategori all high risk

Tepat pada tahun 2015 Afifah dinyatakan terkena luekemia standart risk menurut medis, dengan tidak ada rasa mengeluh Eri Yuniati ibu dari Afifah yang belum lama ditinggal suaminya pergi mengahadap sang Khalik bergegaslah membawanya anaknya Afifah ke RSCM jakarta yang dimulai tahun 2015 hingga 2018. Selama tahun 2015 sampai 2017 menjalani Chemothrapy dan sempat bebas obat Chemothrapy selama 1 tahun.

Beralamat dijalan Teuku Umar, desa Telaga Asih RT/RW: 03/05 Cibitung, kecamatan Cikarang Barat, kabupaten Bekasi, Eri Yuniati tinggal bersama Afifah anaknya yang belum lama ditinggal oleh penopang yang sekaligus tulang punggung perekonomian keluarganya. Mereka kini tinggal dirumah petak kontrakan yang setiap bulannya harus dibayar

Menurut penuturan Eri pada Rabu (09/10/2019) semenjak Afifah bolak balik Rumah Sakit hanya mengandalkan biaya seadanya,dan menggunakan kartu BPJS yang dimilikinya.

Selama 1 tahun menjalani Chemothrapy masih dalam pantauan dokter yang menangani, Afifah membutuhkan susu, pempers, tisu, dan untuk pemenuhan gizi setiap harinya Afifah pun harus mengkonsumsi makanan yang mempunyai kandumgan gizi sesuai kebutuhannya.

“Saya ikhlas kalau emang ini kehendak Allah SWT, semua harus bisa dijalani, dan dihadapi dalam kehidupan saya. Mungkin jalan hidup saya harus seperti ini, saya yakin Allah SWT pasti memberikan hikmah dibalik kejadian semua ini.” ucap ibu Eri sambil meneteskan air matanya.

Setiap hari mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang dideritanya. Semenjak kepergian ayahnya,Afifah bersama ibu Eri hanya bisa makan seadanya hanya mengandalkan uang yang didapatkan dari santunan anak yatim seadanya. Walau terkadang ada sumbangan dari ruang lingkup  komunitas memberikan bantuannya, itu pun tidak setiap bulan, dan hanya sekedarnya.

“Itu yang berat buat kami sebagai orang tua Afifah karena belum bisa bekerja, dan belum mempunyai penghasilan yang tetap. Afifah pun gak ada yang anter ke Raumh Sakit, itu pun kendalanya. Afifah pasti mengeluarkan uang untuk biaya obat yang tidak tercover selama berobat hingga mesti dirawat.” tambah ibu Eri dengan mata berkaca kaca. (Jhole)