Cerpen : Hujan di Mata Nayla

  • Whatsapp

Muka kuning sedang turun hujan yang sangat deras. Tapi orang-orang masih tetap lalu lalang di jalanan, ada yang pulang bekerja ada yang berangkat. Hujan deras tidak sedikitpun menyurutkan semangat mereka untuk datang ke tempat bekerja atau segera pulang ketemu keluarga tercinta. Mungkin dengan berbagai macam perasaan yang mereka bawa, entah itu gembira, sedih atau gabungan dari keduanya.

Sebuah motor matic berwarna merah nampak berjalan agak pelan ditengah hujan yang deras. Wajah sendunya menunjukan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Ada air mata yang bersembunyi di balik hujan. Untung saja air mata itu tidak merah seperti darah, sehingga ketika ia mengalir tidak nampak dari kejauhan karena melebur bersama hujan dan jatuh ke bumi.

Nayla pemilik motor itu. Sambil tetap menjalankan motornya di bawah hujan, pikiranya melayang kembali mengingat percakapan yang terjadi hari ini di ruang HRD.

“Silahkan masuk dan tutup pintunya” Manager HRD bicara kepada Nayla disaat ia mengetuk pintu masuk. Hari ini ia mendapatkan pesan agar ia datang ke ruangan HRD.

Nayla masuk sambil menutup pintu dan duduk dikursi dihadapan manager HRD nya.

“Kamu tahu Nayla kenapa kamu dipanggil ke ruangan ini?” lanjut manager bertanya.

“ Tidak buk” jawab Nayla singkat.

Manager Nampak menarik nafas panjang sebelum ia masuk ke penjelasan dan sedikit nampak tanda-tanda bakal ada berita buruk.

“Saya mendapat kabar bahwa kamu tidak terima dengan nilai satu yang diberikan oleh managermu. Apakah kamu merasa kamu pantas untuk mendapatkan yang lebih dari itu?”

“Saya hanya bertanya buk dan meminta penjelasan kenapa saya di kasih nilai satu, kurang saya dimana, yang harus saya perbaiki apa. Tidak ada yang menjelaskan kepada saya secara detail. Semua penjelasan yang saya terima abu-abu.”

“Nilai satu artinya saya tidak naik gaji. Sementara saya bekerja selama ini sama seperti yang lainya. Kebutuhan hidup juga naik dari tahun ketahun. Tahun lalu saya juga dikasih nilai satu tanpa ada pembicaraan tatap muka. Ketika saya datang ke HRD untuk feedback tentang pelanggaran itu, ibuk bilang saya datang terlambat sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Makanya tahun ini saya tidak mau lagi kecolongan buk. Jika memang kinerja saya buruk, setidaknya saya harus tahu bagian mana yang harus saya perbaiki” Nayla berusaha menahan emosi dan masih menjaga nada bicaranya.

Nayla berusaha tegar dan menahan rasa takutnya ketika menghadapi sang HR manager. Banyak orang yang tidak berani masuk keruangan dia untuk berhadapan denganya.

Bahkan ada yang bilang, lebih baik masuk kantor polisi dari pada masuk keruangan HRD saking horornya berhadapan denganya. Tapi kali ini Nayla harus berani dan harus bisa berargument dengan manager HR tersebut. Jika membela diri sendiri saja dia tidak bisa, bagaimana bisa membela anggota yang lain. Kebetulan Nayla adalah salah satu pengurus serikat pekerja yang ada diperusahaan itu.

“Nayla, kamu tahu berapa MC  kamu dalam setahun ini? Berdasarkan catatan kita, kamu MC dalam satu tahun sebanyak 25 kali. Hampir satu bulan, dan perusahaan membayar kamu untuk itu yang hampir satu bulan kamu tidak bekerja, kamu tidak melakukan tugasmu. Dalam arti kata lain kamu tidak perform. Dan dari sisi perusahaan sudah rugi karena tetap mengeluarkan gaji sementara orangnya tidak ada di perusahaan. Bagaimana perusahaan bisa menganggap kamu layak untuk naik gaji?” Manager HRD lmenjelaskan kepada Nayla.

“Buk, dulu saya datang ke perusahaan ini di tes kesehatan dan saya lolos. Seiring berjalanya waktu, setelah pengabdian saya lebih kurang tujuh tahun, saya sakit di rahim saya. Dan satu hal yang pasti, saya tidak pernah meminta untuk sakit, tapi Allah berkehendak itu kepada saya.”

“Setiap tahun kita ada medical checkup. Ibuk pasti tahu tentang data kesehatan saya. Dan sebagian besar MC saya berasal dari rasa sakit yang luar biasa ketika saya haid. Karena saya ada sesuatu di rahim. Tapi untuk ini ada diundang-undang kan buk? Kenapa diperusahaan jadi masalah? Apakah saya tidak naik gaji di karenakan MC (cuti haid) saya banyak? Jika jawab ibuk iya, saya tidak akan pertanyakan lagi perihal kenapa saya tidak naik gaji. Tapi tentu saya akan pertanyakan kenapa MC di jadikan tolak ukur dalam penilaian performance kerja”. Saya menjawab dengan tegas.

“MC memang tidak bisa menjadi tolak ukur penilaian kinerja menurut undang-undang, tapi ini perusahaan, perusahaan ini kapitalis, tentu mempertimbangkan untung dan rugi”. HRD lanjut menjelaskan.

“Tapi sakit bukan keinginan saya buk! Tidak ada satu orang pun yang menginginkan sakit, termasuk juga ibuk kan?” nayla masih menegaskan dan ruangan itu serasa panas sekali meskipun AC nya menyala.

“Begini saja Nayla, saya dengar kamu memiliki banyak keahlian. Kamu bisa masak, menjahit, dan bayak lagi keahlian lain yang kamu miliki yang saya dengar. Lalu kenapa kamu tidak mencoba membuka usaha dirumah? Mungkin dengan demikian kamu akan lebih santai dan lebih sehat karena bekerja dirumah”. Si manager terus mencoba mempermainkan pikiran Nayla.

Dari caranya berkata Nayla menyimpulkan kalau dia menginginkan nayla untuk resign. Tentu saja Nayla tidak akan melakukan itu. Langsung terlintas dipikiran saya ibu dikampung bagaimana, adek-adek gimana, nasib anak ankatnya gimana. Pikiran berkecamuk dan membuat kakinya lemas membayangkan jika itu semua terjadi.

“Saya tidak punya modal untuk memulai usaha apapun” jawab Nayla pelan.
Badannya gemetar menahan emosi. Suasana hening beberapa saat tidak ada pembahasan. Nayla sedang mengumpulkan tenaga untuk mendengarkan arah percakapan selanjutnya.

“Apakah dia akan menawari saya PHK? Apakah perusahaan ini begitu ingin saya keluar? Salah saya apa? Hanya karena saya sakit? Sakit yang setiap bulan datang sehari dua hari lalu hilang lagi. Sungguh tidak adil. Atau masalah sebenarnya karena saya pengurus serikat pekerja yang di anggap suatu ancaman kedepanya?” Nayla membatin di keheningan itu menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Karena masih hening akhirnya Nayla yang membuka pembicaraan.
“Jika sudah tidak ada yang ingin ibuk sampaikan, saya ijin meninggalkan ruangan ini untuk melanjutkan pekerjaan saya. Ada beberapa laporan saya yang perlu saya kirim sebelum pulang”

“Baik, silahkan” jawabnya singkat. Sepertinya dia kehabisan bahan.

Nayla tidak tahu apa yang ada dibenaknya saat itu. Ia bergegas meninggalkan ruangan karena bulir bening yang sedari tadi ia tahan sudah ingin jatuh.

“Salahkah orang sakit tetap ingin bertahan? Dalam sebulan Nayla paling lama MC dua hari saja, sisanya ia bekerja keras. Lalu kenapa itu menjadi alasan mereka untuk menindas nya?” Nayla membatin menuju ruangan kerja sambil sesekali mengusap air mata yang berjatuhan.

*********
Hujan tak kunjung reda, sepertinya hujan merata di kota Batam. Gerbang rumah sudah mulai dekat, Nayla mulai mengatur emosi dan menarik nafas dalam-dalam lalu sesekali ia buang. Orang di rumah tidak perlu tahu apa yang terjadi hari ini. Rumah adalah tempatnya pulang, berkumpul, melepaskan lelah dengan tertawa bersama keluarga. Cukup senyum saja yang dibawa pulang, air mata biarlah larut bersama hujan. Allhumma shoyyiban naafi’an.

(Maryam Ete)