Buruh yang Melek Politik Bantu Wujudkan Welfare State

Buruh yang Melek Politik Bantu Wujudkan Welfare State

Bekasi, KPonline – Bangsa Indonesia pertengahan Februari yang lalu telah melakukan Pemilihan Umum 2024, walaupun presiden dan wakil presiden tepilih, para anggota legislatif, eksekutif baru akan dilantik dan diambil sumpah jabatannya pada 20 Oktober 2024 mendatang.

Kini untuk kali kedua bangsa Indonesia akan menghadapi pemilihan kepala daerah Gubernur untuk tingkat Provinsi, bupati walikota untuk tingkat Kabupaten/Kota. Pilkada 2024 tercantum dalam Peraturan KPU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Tahapan dan Jadwal Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2024. Berdasarkan surat tersebut, pemungutan suara Pilkada 2024 akan dilaksanakan tanggal 27 November 2024.

Bagi buruh ini menjadi ajang partisipasi politik yang tidak bisa dilewatkan. Terlebih partai buruh belum maksimal dalam pemilihan anggota legislatif beberapa waktu yang lalu, “Ini harusnya menjadi pembelajaran bagi buruh sehingga di pilkada kita bisa menang”

Buruh harus betul-betul bisa menggunakan hak suaranya dengan tepat, apalagi bagi kalangan buruh muda harus mempunyai pandangan tersendiri tentang politik. Kesadaran buruh terhadap politik yang belum maksimal ‘dilihat dari hasil pileg’ yang lalu harusnya menjadi cambuk untuk bangkit, menangkan calon gubernur, bupati dan walikota dari buruh atau setidaknya yang peduli dengan buruh.

Peran buruh penting terhadap isu-isu politik, hal ini bisa menjadi pendongkrak perubahan terhadap kebijakan terhadap buruh itu sendiri. Yang harus buruh ketahui bahwa politik bersifat paksaan atau kewenangan. Penetapan yang bersifat paksaan yang mengikat masyarakat secara keseluruhan. Tetapi dalam hal ini bukan berarti pemegang kekuasaan semena-mena melakukan perilaku menyimpang, dalam politik ini bisa disebut Abuse of Power ‘penyalahgunaan terhadap kekuasaan’

Kita tahu bahwa Indonesia menganut paham demokrasi. Kebebasan berpendapat menjadi jembatan untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi masyarakat. Buruh yang bergerak lebih maju ketika kejanggalan-kejanggalan politik yang menuai pro dan kontra. 

Berbicara tentang politik tentunya sesuatu hal yang menarik. Tetapi, tidak semua buruh yang setuju bahwa politik itu menarik. Masing-masing memiliki pandangan dan minat yang berbeda. Stigma politik sering dicitrakan sesuatu yang buruk. 

Selanjutnya politik didefinisikan sebagai seni yang memungkinkan, cara orang untuk mempengaruhi orang lain. Di kehidupan kita sehari-hari pun adalah aktifitas politik. Tidak terlepas terhadap paradigma politik yang menyatakan bahwa politik itu sesuatu hal sensitif. 

Terlebih 2024 merupakan tahun politik. Politik sedang hangat untuk dibicarakan. Mungkin sebagian buruh tidak melek terhadap politik karena mereka menganggap ini sesuatu hal yang bukan ranah untuk dibicarakan. 

Konteks politik terkadang yang terlintas ialah partai, kekuasaan, dan lain sebagainya. Dikarenakan kurangnya literasi terhadap isu-isu politik membuat ketidaktahuan ini semakin nyata. Pada dasarnya politik merupakan “The Art of The Possible” bahwa politik memiliki nilai dan kepentingan tertentu. 

Jika kita menelisik makna dari politik itu sebuah kata yang simple didengar tetapi memiliki paradigma ganda. Banyak terjadi perbedaan perspektif  juga dapat memicu terjadinya konflik di masyarakat. Tetapi, kita memiliki kesadaran politik, maka bisa lebih paham perbedaan pandangan dan memiliki sikap toleransi yang jauh lebih baik dalam menerima perbedaan pandangan yang terjadi.

Buruh seharusnya memiliki semangat yang tinggi untuk kemajuan bangsa. Tidak harus memiliki kekuasaan dalam jabatan untuk kemajuan bangsa. Tetapi melek terhadap politik juga sesuatu hal yang harus, agar menciptakan keserasian terhadap ketidaksesuaian harapan masyarakat dengan kebijakan yang dibuat. Literasi juga dibutuhkan dikalangan buruh yang sudah canggih teknologi dan sejahtera menurutnya 

Media sosial juga sebagai jembatan untuk menyuarakan aspirasi. Melek politik juga dimulai dari membaca isu-isu terkait. Pendidikan politik juga perlu agar buruh terlebih yang berserikat memilki pemahaman terhadap dunia politik. Sejatinya buruh cenderung tertarik pada hal-hal baru, inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. “Melihat perpolitikan di Indonesia cenderung mempertontonkan konflik, sehingga menimbulkan berbagai macam spekulasi”

Apalagi informasi yang sangat mudah untuk didapatkan, ditakutkan tanpa ada pemberian pendidikan politik justru makin banyak sikap yang apatis dikalangan buruh itu sendiri dengan demikian informasi yang didapatkan juga harus akurat. 

Untuk mengawali kehidupan demokrasi, mendukung terciptanya kontrol sosial, serta menjamin pemerintahan yang bersih. Kita harus membentuk semua kalangan masyarakat yang memiliki kesadaran politik. Kesadaran politik atau melek politik bukan hanya mengetahui cara kerja dan sistem politik. Tetapi juga memahami bagaimana politik dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Hal ini penting agar partisipasi masyarakat terutama kalangan buruh agar mencapai kehidupan yang diinginkan. 

Buruh merupakan bagian dari warga Indonesia yang harus punya partisipasi dalam politik, mengikuti diskusi-diskusi terhadap isu-isu terkait, salah satu yang masih dilakukan ialah keikutsertaan dalam demonstrasi. 

Hal ini merupakan cara untuk menyampaikan aspirasi. Dengan kepedulian buruh yang melek terhadap politik bisa membawa dampak untuk Indonesia kearah yang lebih baik. Tidak ada ruginya untuk hal politik, kita harus sama-sama belajar untuk Indonesia.

Untuk itu buruh yang masih belum peka terhadap dunia perpolitikan, kita masih sama-sama belajar, mulailah dari lingkungan yang membawa dampak positif. 

Dengan demikian diharapkan buruh harus melek politik, dimulai dari hal kecil ialah semangat literasi. Lebih selektif lagi dalam melihat isu-isu politik dengan informasi-informasi yang hoaks. Perlunya pendidikan politik dikalangan buruh melalui serikat pekerja, agar lebih memahami perihal politik. 

Semakin banyak orang yang peduli dan menyadari bahwa politik itu bukan memberikan suara saja, tetapi menyatukan suara. Memilih yang tepat, untuk kehidupan yang lebih baik. Ketika ini dilakukan dengan baik, maka akan terwujud Indonesia yang berintegritas dan Sejahtera sejalan dengan tujuan partai buruh mewujudkan negara kesejahteraan ‘Welfare State’ (Yanto)