Buruh Jangan Hanya Mengeluh, Saatnya Berserikat dan Melawan Ketidakadilan

Buruh Jangan Hanya Mengeluh, Saatnya Berserikat dan Melawan Ketidakadilan

Oleh : Tim Organizing FSPMI – Yanto

Kalau setiap hari mengeluh tentang upah, lembur, PHK, tekanan kerja dan ketidakadilan, tetapi tetap memilih diam dan tidak berserikat, lalu siapa yang akan memperjuangkannya?

Pertanyaan itu terasa keras. Realitasnya demikian. Ketidakadilan tidak akan hilang karena buruh mengeluh. Upah tidak otomatis naik karena kecewa. Hak tidak akan datang hanya karena marah. Perubahan tidak akan terjadi jika pekerja berdiri sendiri-sendiri.

Buruh yang sendirian mudah ditekan. Buruh yang terorganisir memiliki kekuatan.

Karena itulah pengorganisasian buruh untuk membangun kesadaran berserikat menjadi sebuah keharusan.

Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) konsisten menjalankan organizing dengan tim pengorganisasian ke berbagai wilayah. Mereka mendatangi pekerja, membangun komunikasi, mendengarkan persoalan, membuka kesadaran bahwa berserikat bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Justru sebaliknya, berserikat adalah hak pekerja dan cara membangun kekuatan kolektif secara bersama.

Pengorganisasian bukan sekadar mencari anggota. Organizing membangunkan kesadaran pekerja dari sikap “yang penting saya bekerja” menjadi kesadaran bahwa pekerja memiliki hak, martabat, kepentingan, dan kekuatan untuk memperjuangkannya.

Sebab satu orang mungkin bisa bersuara. Tetapi ketika suara itu disatukan dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan pekerja, suara tersebut berubah menjadi kekuatan organisasi.

Itulah alasan organizing tidak boleh berhenti. Tim organizer harus terus bergerak. Masuk ke kawasan industri, menemui pekerja, membangun kepercayaan, membuka diskusi, menjelaskan pentingnya organisasi.

Sebab masih banyak buruh yang takut berserikat. Masih banyak yang menganggap serikat hanya diperlukan ketika terjadi masalah.

Padahal, serikat kuat harus dibangun sebelum masalah datang. Jangan menunggu PHK baru mencari serikat. Jangan menunggu upah dipotong baru mencari perlindungan. Jangan menunggu hak dilanggar baru sadar pentingnya organisasi.

Bangun kekuatan sebelum badai datang. Di sinilah peran organizer. Mereka bukan sekadar mengajak menjadi anggota, tetapi membangun keberanian bahwa perjuangan buruh tidak bisa dilakukan individual.

Karena persoalan buruh memiliki dimensi kolektif. Upah, jam kerja, keselamatan kerja, kepastian hubungan kerja, perlindungan dari PHK, kesejahteraan, hingga hubungan industrial yang berkeadilan, semuanya membutuhkan kekuatan pekerja yang terorganisir.

Maka, jika masih ada buruh yang berkata, “Saya takut berserikat,” pertanyaan harus berani diajukan:

Sampai kapan kita akan membiarkan rasa takut menentukan masa depan kita?

Takut adalah manusiawi. Tetapi membiarkan ketakutan menghilangkan hak untuk berserikat adalah persoalan lain.

FSPMI melalui kerja pengorganisasiannya terus berusaha menjawab persoalan tersebut. Dari satu wilayah ke wilayah lain, dari satu perusahaan ke perusahaan lain, kerja membangun kesadaran pekerja terus dilakukan.

Karena organisasi tidak lahir dari slogan.

Organisasi lahir dari orang-orang yang berani berkumpul, berani bersatu, berani belajar, dan berani memperjuangkan kepentingan bersama.

Maka kepada buruh yang hanya mengeluh, pesannya sederhana:

Jangan berhenti pada keluhan, Jika upah dirasa tidak adil, perjuangkan, Jika hak dilanggar, lawan melalui jalur organisasi., Jika merasa diperlakukan tidak adil, jangan hadapi sendirian.

Berserikatlah. Bangun kekuatan. Perjuangkan bersama.

Sebab sejarah perjuangan buruh membuktikan:

Tidak ada perubahan besar yang lahir dari buruh yang memilih diam. Perubahan lahir ketika buruh sadar bahwa mereka memiliki kekuatan ketika bersatu.

Dan selama masih ada pekerja yang belum terorganisir, selama masih ada buruh yang takut berserikat, selama masih ada ketidakadilan di tempat kerja, maka kerja pengorganisasian belum selesai.

Buruh tidak membutuhkan belas kasihan. Buruh membutuhkan kekuatan. Dan kekuatan itu bernama ORGANISASI.