Antara Aku, Mudik Dan Kebijakan Pemerintah Yang Tidak Pro Buruh

Bogor, KPonline -“Kalo kamu mau pulang, kamu boleh pulang sendiri sajja. Biar anak-anak dan aku disini saja” ucap istriku sambil menyiapkan mie instant kegemaranku.

“Karena kamu selain sebagai seorang suami, kamu itu anak laki-laki dari ibumu yang terus akan bertanggung jawab dan mengabdi kepada ibumu. Tidak seperti aku yang pengabdian kepada orang tua akan putus apabila sudah mengabdi kepada suami” lanjut istriku meyakinkan aku untuk pulang kampung menemui ibuku.

Bacaan Lainnya

Aku termenung memikirkan apa yang diucapkan istriku, dalam hatiku berucap, “bener juga ya, seorang laki-laki itu harus tetap memikirkan pengabdian kepada orang tuanya walaupun sudah mempunyai keluarga sendiri“ pikiranku melayang berkelana mengingat masa kecilku dikampung.

“tapi, kamu kan tahu sendiri. Aku belum gajian, sedangkan untuk pulang kampung tidak akn cukup hanya berbekal ratusan ribu saja. Sedangkan kamu tahu juga, anak anak belum bayaran semesteran, bayaran buku dan belum juga bayar yang lain-lain” sambung ku menanggapi obrolan bersama istriku di dapur kontrakanku.

“Yang terpenting adalah kamu niat baik, niatin silaturohmi dengan ibu. Masa iya Gusti Allah tidak kasih jalan” ujar istriku meyakinkanku. Dan aku tersadar, bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Tiba-tiba telepon seluler istriku berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Sambil menyajikan mie instant yang sudah siap santap, istriku meraih telepon selulernya seraya membuka pesan yang masuk.

“Alhamdulillah, tuh kan Mas. Apa aku bilang, Gusti Allah mboten sare. Ibu Mumun kasih kabar, kalo kamu mau ikut pulang kampung, kamu ikut saja sama dia dan Pak Tsung. Mereka mau pulang kampung sekeluarga” kata istriku menyampaikan isi pesan yang ada di telepon selulernya.

“Iya, nanti habis makan, aku kerumah Pak Tsung” sahuttku sambil melahap makanan kebesaran kaum buruh yang memang hanya itu yang bisa dibeli oleh kaum buruh dengan kebijakan PP 78/2015.

“Iya, coba kamu ngomong sana. Siapa tahu bisa ikut ama keluarga Pak Tsung. Aku mau nyuci ama nyetrika dulu ya Mas “jawab istriku sambil melangkah ketempat cucian baju.

Aku ambil rokok kretek yang tinggal setengah bungkus yang aku beli dengan berhutang dari koperasi di pabrikku, dan bergegas menuju rumah pak Tsung.

…..

“Kalau kamu mau ikut, kita berangkat malam tanggal 24. Sekitar jam 8-an lah” ujar Pak Tsung mengizinkan aku ikut dengannya menggunakan mobil miliknya. “Matur suwun Pak Tsung, atas izinnya dan buat tumpangannya. Tapi saya nebeng doang ya Pak“ sambungku.
Keinginanku untuk pulang kampung kali ini memang membuat dilema. Bagaimana tidak, sejak 4 tahun yang lalu ibuku tinggal seorang diri dirumah nya, dikampung. Dari empat orang anaknya termasuk saya, yang tidak pernah lagi menemani kesehariannya dirumah.

Disatu sisi, penghasilan sebagai buruh di kota besar hanya cukup buat makan sehingga untuk biaya pulang kampung saja harus memangkas kebutuhan-kebutuhan keluarga yang lainnya.
Apalagi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini banyak yang tidak pro dengan kesejahteraan kaum buruh. Sebut saja PP 78/2015 yang mematok kenaikan UMK hanya sebatas bisa membeli mie instan. Belum lagi program pemagangan, ancaman PHK yang semakin merajalela dan lain sebagainya.

Bukan berarti kaum buruh tidak bersyukur atas rezeki yang Tuhan berikan, tapi ketidak layakan tentang kesejahteraan itulah yang membuat kaum buruh seperti terperosok lebih dalam ke lubang kesengsaraan. (Pion Kbm ; Editor : RDW)

Pos terkait