3 Langkah Jangka Pendek Untuk Perbaiki Ekonomi yang Memburuk

Prabowo Subianto dan Koalisi Adil Makmur

Jakarta, KPonline – Perekonomian Indonesia memburuk. Hal ini disampaikan oleh Fuad Bawazier. Mantan Gubernur Bank Indonesia ini memperkirakan, pelemahan nilai tukar rupiah akan terus terjadi hingga 2019 dan mencapai kurs Rp 16.000 per dolar AS.

Menyikapi hal itu, Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah ahli ekonomi di kediaman pribadinya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (5/10/2018) malam. Dalam pertemuan tersebut disepakati beberapa solusi yang ditawarkan koalisi pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di sektor perekonomian.

Bacaan Lainnya

“Hari ini kami membahas secara mendalam perkembangan ekonomi yang tidak dapat dipungkiri dalam kondisi yang tidak menggembirakan. Bahkan, ekonomi Indonesia masuk dalam tingkat kerawanan yang tinggi,” ujar Prabowo.

Namun Prabowo optimistis berdasarkan pembicaraan dengan ahli ekonomi bahwa masalah ekonomi bisa diselesaikan. Ahli ekonomi yang hadir yakni Rizal Ramli, Burhanuddin Abdullah, Drajad Wibowo, dan Edy Soeparno.

Dalam kesempatan itu, ekonom senior Rizal Ramli memaparkan tiga langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki keadaan ekonomi dalam jangka pendek.

1. Kurangi Impor 10 Item Komoditas yang Paling Besar

Kuantitas impor 10 item komoditas besar tersebut mencapai 67 persen dari keseluruhan impor Indonesia. Salah satu impor yang seharusnya dikurangi adalah baja dari Cina. Mantan Menko Kemaritiman itu menilai saat ini pemerintah terlalu banyak mengimpor baja dari Cina dan dijual dengan harga yang sangat murah. Akibatnya, Krakatau Steel sebagai BUMN penghasil baja mengalami kerugian karena tak mampu bersaing dengan produk baja dari Cina.

Rizal juga meminta pemerintah berani mengenakan tarif antidumping terhadap impor baja dan turunannya. Saat ini baja asal Cina terlalu banyak dijual ke Indonesia dengan harga yang murah. Sehingga Krakatua steel pun merugi karena adanya baja Cina ini.

Oleh karena itu, Rizal mengatakan pemerintah laksanakan memberikan tarif antidumping sebesar 25 persen terhadap produk baja dan turunannya. “Otomatis impor baja akan turun, impor kita akan turun lima miliar dolar Amerika. Produksi dalam negeri naik, Krakatau Steel dan swasta akan untung,” tambahnya.

Oleh karena itu, pemerintah jangan hanya fokus mengurangi skala kecil, seperti mengurangi impor 1.147 produk yang kebanyakan kecil-kecil seperti bedak, lipstik, dan lainnya.

2. Naikkan Pajak Impor Mobil

Rizal juga meminta pemerintah mengurangi impor produk kendaraan bermotor, khususnya mobil, yang dinilai sudah terlalu banyak. Pengurangan impor dapat dilakukan pemerintah dengan cara menaikkan pajak pembelian dan pajak impor.

3. Hasil Ekspor Wajib Masuk ke Dalam Sistem Perbankan

Upaya lain yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mewajibkan seluruh hasil ekspor Indonesia masuk dalam sistem perbankan dalam negeri. Menurut Rizal, saat ini hanya 20 persen hasil ekspor yang disimpan di dalam negeri. Sisanya, para pengekspor memilih untuk menyimpanya di luar negeri, seperti Singapura dan Hong Kong.

“Satu tahun harus ditahan dulu di bank di Indonesia kecuali ada underline transaction. Kita enggak larang ini uang mereka, silakan. Tetapi masukkan dulu ke dalam sistem. Otomatis nanti cadangan devisa kita membaik, kurs lebih stabil,” kata Rizal.

3 langkah jangka pendek untuk perbaiki ekonomi./infografis KP

 

Jangan Hanya Salahkan Faktor Internasional

Meskipun Koalisi Adil Makmur merupakan oposisi, namun koalisi ini siap membantu pemerintah dalam konteks perbaikan ekonomi secara gratis.

“Pak Prabowo pesan sama kami, apapun kita semua, walaupun kita oposisi kita bantu pemerintah gratisan, saran ide dan gagasan. Karena kita tidak mau Indonesia krisis beneran. Kalau itu terjadi, siapapun presiden yang menang nanti, bulan April, bertumpuk itu masalahnya, jadi besar,” kata Rizal.

Menurutnya, ekonomi Indonesia saat ini sudah ‘lampu merah’. Namun, ia dan koalisi Adil Makmur memiliki optimisme baru untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik.

“Krisis akan terus berlanjut. Karena badan kita tidak sehat, anti body kita kurang kuat, kena virus apa aja kita bisa sakit,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Rizal meminta kepada pemerintah dan masyarakat luas untuk tidak menyangkutpautkan permasalahan ekonomi Indonesia ke faktor internasional. Ia pun meminta pemerintah Indonesia untuk mengintrospeksi diri sendiri.

“Tidak fair kalau menyalahkan semua hanya ke faktor-faktor internasional, Italy lah, Turkey lah US set lah. Kita juga harus introspeksi agar bahwa diri kita sendiri harus bikin sehat. Kita harus punya cara untuk menangani krisis itu,” tegasnya.

Pos terkait