Ubah Kata “Aku” Menjadi “Kita” dalam Berorganisasi

Ubah Kata “Aku” Menjadi “Kita” dalam Berorganisasi

Oleh: Yanto (Bidang Organisasi PP SPLP FSPMI)

Bekasi, KPonline-Organisasi tidak pernah dibangun oleh satu orang. Ia lahir dari kerumunan gagasan, keringat, dan pengorbanan banyak kepala. Karena itu, penyakit paling berbahaya dalam organisasi bukan lawan dari luar, melainkan satu kata dari dalam “Aku”. “Aku” Adalah Awal dari Perpecahan
“Aku yang paling kerja.”
“Aku yang punya ide.”
“Tanpa aku, organisasi ini bubar.”

Bacaan Lainnya

Kalimat itu terdengar sepele, tapi ia adalah retakan pertama di tembok solidaritas. Kata “Aku” memisahkan. Ia membangun tembok ego, menciptakan kasta, dan membuat anggota lain merasa tidak dianggap. Padahal organisasi bukan panggung monolog. Ia panggung orkestra. Tidak ada simfoni indah jika biola merasa lebih penting dari drum.

Sejarah membuktikan, organisasi yang terlalu banyak “Aku” umurnya pendek. Karena ketika “Aku” jatuh, tidak ada “Kita” yang menopang.

Sementara “Kita” Adalah Rumah untuk Semua Peran. Ubah “Aku” menjadi “Kita” bukan berarti menghilangkan prestasi individu. Justru sebaliknya: “Kita” memberi ruang agar setiap prestasi pribadi dirayakan sebagai kemenangan bersama.

“Kita berhasil negosiasi PKB.”
“Kita kawal kasus PHK sampai menang.”
“Kita turun aksi dan publik dengar.”

Dalam kata “Kita”, ada pengakuan bahwa raja tidak bisa menang tanpa pion. Ada kesadaran bahwa ratu sehebat apa pun butuh benteng. Ada kerendahan hati bahwa ketua umum hanya corong, sementara tenaga datang dari anggota di akar rumput.

“Kita” menyatukan visi. Membuat staf admin merasa setara pentingnya dengan ketua divisi. Membuat anggota baru berani bicara karena suaranya dihitung sebagai bagian dari “Kita”.

Dari “Aku” ke “Kita” ada Tiga Latihan Mental
Mengubah “Aku” jadi “Kita” bukan sekadar ganti kata di spanduk. Ia butuh latihan setiap hari:

Pertama, Latih Telinga untuk Mendengar. Pemimpin yang masih pakai “Aku” biasanya hanya mau didengar, tidak mau mendengar. Padahal “Kita” lahir dari rapat yang semua bicara, semua didengar, lalu diputuskan bersama.

Kedua, Rayakan Nama Orang Lain. Ganti “ide aku” dengan “ide yang diusulkan Bung Andi dan kita kembangkan bersama”. Sebut nama. Hargai kontribusi. “Kita” tumbuh saat orang merasa dilihat.

Ketiga, Berani Gagal Bersama. “Aku” akan lari saat kalah. “Kita” akan duduk bersama evaluasi, lalu maju lagi. Organisasi yang kuat bukan yang tidak pernah kalah, tapi yang kalau kalah, tidak saling menyalahkan.

Organisasi yang budayanya “Kita” akan lebih tahan guncangan. Saat ketua dipanggil polisi, ada “Kita” yang pasang badan. Saat kas kosong, ada “Kita” yang iuran. Saat diserang opini publik, ada “Kita” yang bela di media sosial.

“Kita” melahirkan rasa memiliki. Dan rasa memiliki adalah tameng paling kuat yang tidak bisa dibeli perusahaan atau diintimidasi penguasa.

Sebaliknya, organisasi “Aku” akan rontok saat figurnya jatuh. Karena anggotanya tidak pernah merasa itu organisasinya. Mereka hanya “ikut” sang “Aku”.

Maka hari ini, mari audit lisan kita. Berapa kali kita masih bilang “program aku”, “anggota aku”, “jaringan aku”? Ganti. Latih. Paksa. Sampai lidah terbiasa dengan “program kita”, “anggota kita”, “perjuangan kita”.

Karena organisasi yang besar tidak dibangun oleh satu orang hebat. Ia dibangun oleh orang-orang biasa yang mau menanggalkan kata “Aku” demi satu kata sakti: “Kita”.

Dan ingat: di nisan organisasi yang mati, tidak pernah tertulis “dia hebat sendirian”. Yang dikenang selalu: “mereka bergerak bersama”.

Ubah “Aku” jadi “Kita”. Di situlah organisasi mulai menang.

Pos terkait