Turunnya harga Pertamax CS, Indikasi Kampanye Petahana Meraup Suara?

Purwakarta KPonline – Minggu 10 Februari 2019, Pertamina resmi menurunkan kembali harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non Subsidi.Hal tersebut dilakukan seiring turunnya harga minyak dunia.

Saat harga minyak dunia turun,tepatnya beberapa tahun kebelakang, ternyata pertamina malah menaikan harga BBM Non Subsidi.

Awal era kepemimpinan kerja beliau mulai nyata dalam menaikan harga BBM. 18 November 2014, Jokowi menaikan harga BBM bersubsidi, dimana harga premium yang awalnya Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan Solar yang awalnya Rp 5.500 menjadi Rp 7.500.

 


Kemudian 5 Januari 2017, kembali lagi harga BBM Non Subsidi mengalami kenaikan dimana harga Pertalite menjadi Rp 7.350 dari semula Rp 7.050, Pertamax Rp 8.050 dari Rp 7.750, dan Pertamax Turbo dari Rp 8.800 menjadi Rp 9.100.

Puncaknya harga BBM Non Subsidi mengalami kenaikan yang sangat signifikan pada 10 Oktober 2018 dimana harga Pertamax Rp 10.400, Pertamax Turbo Rp 12.250, Pertamina Dex Rp 11.850, Dexlite Rp 10.500.

Fase turunnya harga minyak dunia di tahun 2017 yang berkisaran 50.00-55.00 Us Dollar per barrel, namun harga BBM Non Subsidi di Indonesia ternyata malah mengalami kenaikan.Padahal seharusnya mengalami penurunan, mengikuti penyesuaian harga minyak dunia saat itu.

Sebentar lagi kita akan memasuki 17 April 2019 dan seluruh warga masyarakat Indonesia akan melaksanakan pesta Demokrasi yang berlangsung setiap lima tahun sekali.

Berbagai cara dilakukan oleh para Calon yang ikut dalam PEMILU 2019,baik itu Calon Presiden dan Calon Legislatif untuk meraup suara menuju kemenangan menuju masa bakti 2019-2024.

BBM Non Subsidi per 10 Februari 2019 kembali turun menyesuaikan harga minyak dunia, tetapi kenapa turunnya harga BBM tersebut tidak terjadi di tahun 2017? Padahal saat itu harga minyak dunia sedang terhempas

Facebook Comments