Siapapun Bisa Pergi, Tapi Langkah Kaki Tak Boleh Terhenti

  • Whatsapp
Siapapun boleh pergi, tetapi cita-cita kita tak boleh mati. ( Foto : Maxie Elia )

Cikande,KPOnline – Dit, dirimu tahu kan kalau kemarin buruh Indonesia melakukan aksi besar jelang mogok nasional. Puluhan ribu turun ke jalan. Tak hanya di Jakarta, aksi juga dilakukan di kota-kota besar lainnya. Begitu banyaknya massa, sampai-sampai aku mengira hari ini May Day.

Biasanya dirimu mengirim pesan di Whatshap, mengabarkan kalau esok akan ada aksi dan menanyakan apakah aku bersedia ikut. Seperti biasa. Kutunggu kabar darimu. Tapi sia-sia. Bahkan pesan dariku pun tak juga engkau jawab, sampai sekarang.

Bacaan Lainnya

Oh ya, Dit. Meski tanpa kabar darimu, aku tetap ikut aksi lo. Gengsi dong kalau dibilang ikut aksi hanya karena ingin melihat pesonamu, he he….

Berharap ada kejutan, bisa bertemu dengan disana. Kukira, kejutan seperti itu adalah kejutan yang indah.Aku sangat senang bisa ikut dalam aksi seperti ini. Bukan karena hoby. Tetapi karena terinspirasi kata-katamu, dulu, “selemah-lemahnya iman adalah ketika engkau diam ketika melihat ketidakadilan.”

Dirimu membuatku berubah, Dit. Dari laki-laki pendiam yang serba tak peduli, menjadi sosok dengan kesadaran baru.Jujur kukatan ini kepadamu.Sejak saat itulah aku sadar, bahwa ternyata untuk perubahan tak cukup hanya sekedar berdoa. Harus ada upaya.

Hanya, memang, ada yang tak biasa dalam aksi kali ini. Aku tak berhasil menemukan dirimu. Biasanya, diantara beribu orang yang tumpah ruah di jalan, aku selalu bisa mendapatkanmu. Semacam ada magnet yang membuat kita sedemikian lekat. Dekat.

Hingga kemudian aku bertemu dengan sahabat karibmu, Selvi.

“Dapat salam dari Dita,” katanya. Dan belum sempat aku menjawab, ia sudah melanjutkan kalimatnya. “Dita bilang mulai hari ini dan selanjutnya dirinya sudah tidak mungkin lagi bisa ikut aksi. Kemarin ia keluar dari kerjaan dan pulang kampung untuk merawat orang tuanya yang sudah mulai sakit-sakitan.”

Aku terdiam. Kabar itu sesungguhnya sangat biasa.Tetapi di telingaku terdengar sangat menyiksa.”Kamu kenapa?” Tanya Selvi melihatku terdiam. Barangkali kasihan melihat wajahku yang mendadak muram.

Apapun itu, aku ingin Mengucapkan terima kasih kepadamu, Dit. Satu lagi pelajaran baru yang dirimu berikan. Bahwa untuk berjuang, jangan menggantungkan pada seseorang. Siapapun boleh pergi, tetapi cita-cita kita tak boleh mati.

Cikande, 11 Desember 2014.

Kahar S. Cahyono

Pos terkait