Seminar Mental Health bagi Pekerja Perempuan: Sehat Mental, Kerja Produktif

Seminar Mental Health bagi Pekerja Perempuan: Sehat Mental, Kerja Produktif

Bogor, KPonline-Bidang Perempuan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) menggelar Seminar Mental Health bagi Pekerja Perempuan dengan tema “Sehat Mental, Kerja Produktif: Jaga Diri di Tengah Tekanan Kerja”. Kegiatan berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2026, pukul 08.00–16.30 WIB, bertempat di Bale Bengong Resto, Jakarta Timur.

Seminar ini menjadi ruang penting bagi pekerja perempuan untuk memahami pentingnya kesehatan mental, khususnya dalam menghadapi berbagai tekanan di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Kegiatan diikuti oleh perwakilan peserta Bidang Perempuan, diantaranya E. Yuminar dan Verawati dari Pimpinan Pusat (PP) Serikat Pekerja Digital Platform dan Transportasi (SPDT), serta Isma dan Martha dari Pimpinan Unit Kerja (PUK) Trans Jakarta. Seminar dipandu oleh moderator Roza Febrianti dan Ika Kartika, dengan menghadirkan narasumber Osi Kusuma Sari dan Seri Mangunah.

Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Stres berkepanjangan, kecemasan, hingga burnout bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian.

Tiga Pesan Penting:

Pertama, kesehatan mental itu penting dan nyata.
Sebagaimana kesehatan fisik membutuhkan perhatian dan pengobatan, kondisi mental juga perlu dijaga. Stres, kecemasan, dan burnout yang berlangsung terus-menerus tidak boleh dianggap sepele.

Kedua, kenali diri dan lingkungan kerja.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kesulitan tidur dalam waktu lama, kehilangan semangat bekerja, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri. Tekanan target kerja, jam kerja panjang, kurangnya apresiasi, serta kekhawatiran terhadap PHK juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi mental pekerja.

Karena itu, pekerja didorong untuk berani berkomunikasi, membangun batasan yang sehat, serta saling memperhatikan dan mendukung sesama rekan kerja.

Ketiga, self-care dan solidaritas adalah kunci.
Menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari hal sederhana seperti tidur yang cukup, berbagi cerita dengan orang yang dipercaya, melakukan aktivitas yang disukai, serta berani mengatakan “tidak” ketika beban sudah melebihi kemampuan.

Sementara bagi organisasi dan serikat pekerja, penting untuk membangun budaya saling peduli. Kader dan anggota yang kuat bukan hanya mereka yang mampu menghadapi tekanan, tetapi juga mereka yang sehat secara fisik maupun mental.

Seminar ini menegaskan satu pesan penting:

“Kuat itu bukan memendam. Kuat itu berani minta tolong”.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran mengenai kesehatan mental di kalangan pekerja perempuan semakin meningkat. Kesehatan mental bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, produktif, dan penuh solidaritas.

Pos terkait