Selayang Pandang: Ketika Mempertahankan Serikat Pekerja Menjadi Lebih Sulit daripada Mendirikannya

Selayang Pandang: Ketika Mempertahankan Serikat Pekerja Menjadi Lebih Sulit daripada Mendirikannya
Fuad BM Ketua Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta

Purwakarta, KPonline-Perjalanan organisasi serikat pekerja tidak pernah lepas dari tantangan zaman. Jika menoleh ke belakang, para aktivis serikat pekerja, khususnya di lingkungan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), tentu masih mengingat bagaimana beratnya membangun organisasi dari nol. Namun ironisnya, tantangan yang dihadapi saat ini justru terasa lebih berat yaitu mempertahankan satu Pimpinan Unit Kerja (PUK) agar tetap bertahan bersama FSPMI.

Hal tersebut diungkap Fuad BM dalam WhatsApp Group FSPMI Purwakarta. Jumat, (12/6/2026).

“Pada masa-masa awal pengembangan organisasi, para penggerak serikat pekerja rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi demi memperkenalkan pentingnya berserikat kepada kaum buruh. Mereka keluar masuk kawasan industri, mendatangi pabrik-pabrik, hingga menyambangi kontrakan demi kontrakan tempat para pekerja tinggal,” ujar Fuad BM yang saat ini menjabat sebagai Ketua Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta.

Lebih lanjut, menurut Fuad BM, dengan penuh semangat, para organizer memberikan pemahaman tentang hak-hak normatif pekerja, pentingnya solidaritas, dan manfaat keberadaan serikat pekerja di tempat kerja. Tidak jarang diskusi dilakukan hingga larut malam, hanya untuk meyakinkan beberapa orang pekerja agar berani mendirikan serikat pekerja di perusahaannya.

“Saat itu, semangat perjuangan menjadi bahan bakar utama. Ancaman intimidasi, tekanan perusahaan, hingga minimnya fasilitas organisasi tidak mampu mematahkan tekad para pendiri dan penggerak serikat pekerja. Berkat kerja keras tersebut, banyak PUK lahir dan berkembang menjadi kekuatan yang mampu memperjuangkan hak-hak anggotanya,” ungkapnya.

Namun, kata Fuad, situasi kini mulai berubah. Dinamika hubungan industrial yang semakin kompleks, perubahan karakter generasi pekerja, meningkatnya mobilitas tenaga kerja, serta berbagai tantangan internal organisasi membuat upaya mempertahankan keberadaan satu PUK menjadi pekerjaan yang tidak mudah.

“Tidak sedikit PUK yang mengalami penurunan jumlah anggota karena pergantian tenaga kerja yang begitu cepat. Ada pula yang menghadapi persoalan regenerasi kepemimpinan, minimnya kaderisasi, hingga menurunnya partisipasi anggota dalam kegiatan organisasi. Dalam beberapa kasus, tekanan dari lingkungan kerja juga masih menjadi hambatan yang harus dihadapi,” bebernya.

Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan di Fuad BM sebagai pengurus FSPMI Purwakarta. Sebab, mempertahankan organisasi yang sudah ada sejatinya sama pentingnya dengan mendirikan organisasi baru. Tanpa keberlangsungan PUK yang kuat, perjuangan kolektif pekerja akan kehilangan fondasi utamanya.

Meski demikian, Fuad meyakini bahwa tantangan ini bukanlah akhir dari perjalanan organisasi. Sebaliknya, situasi ini harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, memperkuat konsolidasi, dan mencari formula baru dalam mengembangkan gerakan serikat pekerja di era yang terus berubah.

Semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas FSPMI diyakini masih menjadi modal utama untuk menghadapi persoalan tersebut. Melalui forum-forum diskusi, musyawarah, dan pertukaran gagasan antar pengurus serta anggota, diharapkan akan lahir langkah-langkah strategis yang mampu memperkuat organisasi hingga tingkat PUK.

“Kalau dulu kita berjuang mencari anggota dari kawasan ke kawasan, dari kontrakan ke kontrakan, sekarang tantangannya adalah bagaimana menjaga agar anggota tetap percaya dan bertahan bersama organisasi. Ini bukan tugas satu orang atau satu pengurus saja, tetapi tugas bersama seluruh keluarga besar FSPMI”

Harapan besar pun disampaikan Fuad BM, agar seluruh unsur organisasi dapat duduk bersama, berdiskusi secara terbuka, dan mencari jalan terbaik demi masa depan FSPMI. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa organisasi ini tumbuh bukan karena kekuatan individu, melainkan karena semangat kolektif dan solidaritas yang terus dijaga.

Pada akhirnya, mempertahankan satu PUK mungkin terasa lebih sulit dibanding mendirikannya. Namun selama semangat perjuangan masih ada dan ruang diskusi tetap terbuka, selalu terbuka harapan bagi FSPMI untuk menemukan solusi terbaik dalam menghadapi tantangan zaman dan menjaga keberlangsungan organisasi demi kesejahteraan kaum pekerja.