Sebut Perekonomian Memburuk, Ini Data yang Dipakai Kubu Prabowo-Sandi

Prabowo - Sandi

Jakarta, KPonline – Apa data yang digunakan Calon Presiden Prabowo Subianto saat berbicara tentang kondisi ekonomi? Pertanyaan ini penting. Agar tidak hanya debat kusir dan sekedar klaim.

Menjawab pertanyaan itu, salah satu data yang digunakan berasal dari Bloomberg. Dalam data itu terlihat, neraca berjalan Indonesia sedang defisit, sehingga memberikan tekanan pada perekonomian.

Dalam data berbentuk tabel dengan judul ‘Which Emerging Market are Most Vulnerable?’ atau ‘Pasar Negara Berkembang Mana yang Paling Rentan?’ tersebut, ada sejumlah nama negara. Nama Indonesia berada di urutan keenam, di bawah Meksiko, Afrika Selatan, Kolombia, Argentina, dan Turki.

Peringkat tersebut didasarkan pada beberapa kategori, yaitu saldo rekening saat ini, utang eksternal, aktivitas pemerintahan, dan inflasi. Hasil dari masing-masing kategori tersebut kemudian dihitung dan menghasilkan angka-angka.

Seperti dilihat, saldo rekening berdasarkan data dari International Monetary Fund (IMF) 2018. Data IMF berasal dari pendapatan perdagangan dan pelayanan jasa berdasarkan produk domestik bruto. Sedangkan utang eksternal berasal dari estimasi kurs Bank Dunia dan utang negara tersebut.

Sementara itu, kategori efektivitas pemerintahan dilihat dari kalkulasi Bank Dunia tahun 2016. Terakhir inflasi dilihat dari harga konsumen 2Q 2017 ke 2Q 2018. Dari jumlah tersebut, saldo rekening Indonesia ada pada angka -1,9 persen, sementara utang eksternalnya pada angka 34,8 persen, efektivitas pemerintahannya pada angka 0,01 persen, inflasi pada angka 3,3 persen.

Pemerintah mengklaim berhasil menjaga inflasi tetap rendah. Namun, di sisi lain, saat inflasi rendah, kerap muncul isu terjadinya kenaikan harga. Ini membuktikan, ada keresahan di masyarakat mengenai kondisi ekonomi.

Perekonomian Indonesia Lampu Merah?

Berdasarkan data-data yang ada, Prabowo Subianto dan ekonom Rizal Ramli memberikan warning alias peringatan ke pemerintah soal kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Situasi ini sangat serius. Oleh karena itu, harus ada langkah tepat mengatasi situasi ekonomi tersebut.

Palagi, Indonesia termasuk digolongkan di antara 5 negara emerging market yang rawan prospek ekonominya dalam waktu yang akan datang.

Bahkan Rizal Ramli menilai ekonomi Indonesia saat ini sudah lampu merah. Rizal mengibaratkan kondisi ekonomi Indonesia bak tubuh yang antibodinya tak kuat.

“Memang hari ini kita lampu merah ekonominya, krisisnya, dan masih akan berlanjut karena badan kita tidak sehat. Antibodi kita kurang kuat, kena virus apa saja bisa sakit,” ujarnya.

Dia melanjutkan, tidak fair kalau menyalahkan semua ke faktor-faktor internasional, Italia, Turki, US Fed (The Federal Reserve-Bank Sentral Amerika Serikat). “Kita juga harus introspeksi bahwa diri kita sendiri harus kita bikin sehat. Kita harus ambil langkah-langkah agar krisis ini berkurang,” sambungnya.

Seperti diketahui nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap rupiah. Dolar AS sudah tembus Rp 15.000, bahkan sempat menyentuh level Rp 15.200 pada Jumat (5/10/2018). Ditambah lagi harga minyak dunia naik, dan Indonesia masih mengimpor BBM yang dibayar pakai dolar AS.

Belum lagi utang pemerintah sudah tembus Rp 4.363 triliun hingga Agustus 2018. Kondisi tersebut tentu membebani keuangan pemerintah di bawah komando Presiden Jokowi

Meskipun tidak setuju jika dikatakan ekonomi sudah lampu merah, namun ekonom INDEF Bhima Yudistira semengatakan, kondisi fundamental ekonomi nasional lainnya seperti defisit transaksi berjalan terus melebar.

Ekonomi Indonesia saat ini masih tumbuh stagnan di level 5%, ketergantungan akut pada komoditas mentah dan olahan primer membuat naik turunnya ekonomi dipengaruhi global. Belum lagi, lanjut Bhima, kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan perang dagang negeri Paman Sam dengan China.

“Ibaratnya Indonesia sedang digebukin oleh faktor global dan domestik secara bersamaan. Saya katakan Indonesia masuk lampu kuning. Kalau lampu merah belum. Tapi kalau tidak hati-hati dan siapkan mitigasi bisa masuk lagi ke lampu merah seperti era krisis,” tuturnya

Kemenkeu Membantah

Terkait dengan pernyataan Rizal Ramli, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) angkat bicara. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Nufransa Wira Sakti mengatakan bahwa ekonomi nasional masih dalam tren yang baik.

“Kalau disebut lampu merah, kami sangat tidak setuju dan kurang tepat. Karena lampu merah berarti semuanya berhenti,” kata Nufransa, dilansir dari detikFinance, Jakarta, Sabtu (6/10/2018).

“Pada kenyataannya kehidupan perekonomian tetap bergerak, inflasi dapat terjaga sehingga harga terkendali, daya beli masyarakat masih tinggi, situasi perbankan tetap normal, dan juga APBN tetap sehat dengan penerimaan negara yang bagus dan realisasi penyerapan anggaran yang sesuai target,” sambung dia.

Nufransa menyebut, pelemahan nilai mata uang tidak hanya dialami rupiah saja, melainkan juga mata uang negara emerging market. Hal itu juga dipicu oleh kenaikan suku bunga The Fed dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta situasi geopolitik regional yang menghangat sehingga menimbulkan ketidakpastian.

Dinamika global yang sekarang terjadi, kata Nufransa tidak perlu dikhawatirkan namun tetap mewaspadainya.

“Jadi bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan namun tetap kami waspadai. Semuanya akan menuju titik keseimbangan baru atau the new normal,” ungkap dia.

Sandi Pakai Data Emak-Emak

Kemenkeu boleh mengatakan inflansi tetap terjaga, lapangan kerja tersedia, dan daya beli masih tinggi. Namun calon wakil presiden Sandiaga Uno lebih mempercayai data emak-emak dan data milenial ketimbang data atau statistik rujukan peningkatan ekonomi yang sering dibanggakan pemerintah saat ini.

Faktanya, di lapangan saat ini dikatakan Sandi sangat berbanding terbalik dengan data-data statistik yang sering dibicarakan pemerintah. Sulitnya mencari pekerjaan karena lapangan kerja yang semakin kecil dan harga-harga yang naik dikeluhkan emak-emak. Hal ini membuktikan perekonomian Indonesia semakin menukik turun.

Penggunaan data emak-emak dan milenial ini menurut Sandi perlu dilakukan agar tak ada jarak antara penguasa dan masyarakat. Sebab menurut dia yang paling utama saat ini kedekatan dengan isu-isu yang terjadi di masyarakat.