Satu Rasa, Satu Perjuangan: Bekal Sederhana Warnai Perjalanan Buruh di Hari May Day

Satu Rasa, Satu Perjuangan: Bekal Sederhana Warnai Perjalanan Buruh di Hari May Day

Lumajang, KPonline – (Sabtu, 2/5/26) Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tak hanya diwarnai oleh suara tuntutan yang menggema di jalanan. Di balik itu, tersimpan kisah solidaritas dan perjuangan nyata dari para buruh FSPMI yang datang dari Jember, Banyuwangi, dan Lumajang.

 

Bacaan Lainnya

Bagi mereka, kesejahteraan bukan sekadar janji, melainkan hak yang harus diperjuangkan. Dengan segala keterbatasan, para buruh tetap berangkat, menempuh perjalanan jauh demi menyuarakan aspirasi di Medan Juang.

 

May Day kali ini bukan hanya tentang orasi atau aksi di depan panggung. Lebih dari itu, ada keteguhan dan pengorbanan yang terlihat dari cara mereka bertahan di perjalanan. Untuk menekan biaya, para buruh memilih jalan gotong royong: iuran bersama demi memastikan semua bisa makan.

 

“Iuran Bersama, Kenyang Bersama” menjadi semangat yang hidup di tengah barisan. Mereka mengumpulkan uang seadanya, membeli bahan makanan, hingga menyiapkan bekal dari rumah. Di pinggir jalan, di bawah terik matahari maupun rintik hujan, para buruh duduk melingkar, menikmati nasi bungkus dengan penuh kebersamaan.

 

Pemandangan sederhana itu justru menjadi potret kuat tentang arti solidaritas. Tak ada sekat, tak ada gengsi. Yang ada hanyalah satu tujuan: memperjuangkan hak bersama.

 

Bagi para buruh, membawa bekal sendiri bukanlah tanda kekurangan. Sebaliknya, itu adalah simbol kemandirian dan keteguhan sikap. Bahwa perjuangan ini tidak bergantung pada fasilitas, melainkan lahir dari kesadaran dan kepedulian satu sama lain.

 

Di tengah riuhnya aksi May Day, kisah sederhana ini menjadi pengingat bahwa kekuatan buruh tidak hanya terletak pada jumlah massa, tetapi juga pada rasa kebersamaan yang mereka jaga.

Pos terkait