Subang, KPonline-Bertema “Biarlah Kemudi Patah. Biarlah Layar Robek. Itu Lebih Mulia, Daripada Membalik Haluan Pulang,” Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) di kawasan Curug Capolaga, Subang, bukan sekadar agenda kaderisasi organisasi.
Dibalik rangkaian materi dan diskusi, tersimpan kisah perjuangan dua anggota serikat pekerja FSPMI Hino Motors Manufacturing Indonesia, Ruben Sinaga dan Suhendar (Acil), yang mungkin bisa dijadikan menjadi inspirasi. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, 4–5 Juli 2026, sebagai bagian dari upaya membangun regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi.
Perjalanan Ruben dan Suhendar menuju forum LDK bukanlah kisah yang dipenuhi kemudahan. Keduanya datang membawa pengalaman panjang sebagai pekerja sekaligus aktivis serikat yang telah merasakan berbagai dinamika perjuangan. Baik itu di lingkungan kerja, maupun diluar.
Bagi Ruben, bergabung dalam serikat pekerja bukan hanya tentang memperjuangkan hak normatif, tetapi juga tentang membangun karakter. Ia menyadari bahwa seorang pemimpin tidak lahir begitu saja. Kepemimpinan ditempa melalui proses belajar, pengalaman, pengorbanan, serta keberanian menghadapi tantangan.
Semangat itulah yang membawanya tetap bertahan di tengah berbagai dinamika organisasi. Baginya, setiap pelatihan merupakan kesempatan untuk memperkuat kemampuan berpikir, memperluas wawasan, sekaligus mempersiapkan diri menjadi kader yang mampu meneruskan estafet perjuangan.
Sementara itu, Suhendar memiliki pandangan yang tidak kalah kuat. Menurutnya, perjuangan serikat pekerja tidak pernah bisa dilakukan seorang diri. Solidaritas menjadi fondasi utama yang menjaga organisasi tetap hidup.
Ia meyakini bahwa LDK menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman para anggota. Dari ruang itulah lahir diskusi, saling menguatkan, hingga muncul solusi atas persoalan yang dihadapi pekerja di tempat kerja masing-masing.
Karena itu, kisah keduanya menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu diukur dari seberapa lama seseorang menjadi pengurus, melainkan dari seberapa besar komitmen menjaga organisasi tetap berdiri demi kepentingan anggotanya.
Suasana LDK pun semakin bermakna dimana semua dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni menghadirkan serikat pekerja yang kuat, berintegritas, dan mampu memberikan manfaat bagi seluruh anggotanya.
Melalui berbagai materi kepemimpinan, komunikasi organisasi, hingga penguatan ideologi perjuangan, peserta LDK didorong untuk tidak hanya menjadi pengurus administratif, tetapi juga menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan anggota ketika menghadapi berbagai tantangan hubungan industrial.
Kisah Ruben dan Suhendar menjadi cerminan bahwa regenerasi organisasi tidak hanya dibangun melalui teori, tetapi juga melalui teladan nyata. Keteguhan mereka dalam menjaga semangat perjuangan dengan menjaga solidaritas, dan tidak mudah menyerah patut dijadikan contoh bagaimana sebagai anggota dalam bersikap, menjaga dan membangun organisasi Serikat Pekerja.
LDK PUK SPAMK FSPMI PT HMMI sendiri merupakan bagian dari proses pembentukan kader-kader pemimpin serikat pekerja yang memiliki integritas, disiplin, serta kemampuan menghadapi tantangan dunia ketenagakerjaan yang semakin kompleks.
Cerita Ruben dan Suhendar meninggalkan pesan sederhana, dimana perjuangan serikat pekerja bukanlah tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang siapa yang tetap bertahan, terus belajar, dan bersedia berjalan bersama demi memperjuangkan kepentingan seluruh anggota.