Tangerang, KPonline-Ex Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Riden Hatam Azis, hadir dalam kegiatan Refreshing Course yang digelar Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Automotif, Mesin dan Komponen (PC SPAMK) FSPMI Tangerang Raya, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Tempat Wisata Cikal Dimas Sejahtera (CDS). Dalam kesempatan itu, Riden menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada panitia yang masih memberikan kesempatan kepadanya untuk hadir dan berbagi pengalaman dalam kegiatan tersebut.
Dalam materinya, Riden menekankan pentingnya peran seorang pemimpin dalam organisasi. Menurutnya, pemimpin bukan hanya bertugas mengatur organisasi, tetapi juga harus mampu memberikan inspirasi, membawa energi positif, serta meredakan kekhawatiran anggota ketika menghadapi berbagai persoalan.
“Pemimpin adalah pembuat harapan. Dalam situasi apa pun, seorang pemimpin harus mampu meredakan kekhawatiran anggota,” ujar Riden.
Memasuki usia 27 tahun organisasi, menurut Riden, rata-rata peserta telah memiliki pengalaman sebagai pemimpin selama 10 hingga 15 tahun. Pengalaman tersebut, kata dia, harus terus diiringi dengan kemampuan menyelesaikan persoalan dan memberikan solusi bagi anggota.
“Pemimpin didoktrin untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Tugas pemimpin adalah menyelesaikan masalah, mencari solusi, serta mampu menjadi teladan dan memberikan contoh, dengan segala kelemahan yang dimiliki,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Riden juga menyampaikan tiga prinsip dasar yang menurutnya menjadi bagian penting dalam perjuangan organisasi serikat pekerja, yaitu upah, jaminan sosial, dan kepastian kerja.
Pertama, mengenai upah. Menurut Riden, setiap akhir tahun persoalan upah layak selalu menjadi salah satu pembahasan utama dalam perjuangan pekerja. Upah yang layak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup pekerja dan keluarganya.
Kedua, jaminan sosial, termasuk jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan melalui BPJS. Jaminan sosial, kata Riden, merupakan bagian penting dalam memberikan perlindungan kepada pekerja.
Ketiga, kepastian kerja, yang juga menjadi salah satu persoalan penting dalam perjuangan kaum pekerja.
Riden mengingatkan para pemimpin organisasi agar tidak kehilangan solidaritas ketika kondisi kehidupan mereka sudah lebih baik.
“Sebagai pemimpin harus tahu dasar-dasar kepemimpinan. Jangan sombong ketika kalian sudah sejahtera. Kalau tidak mau bersolidaritas, habis kita,” pesannya.
Menurut Riden, kegiatan Refreshing Course merupakan salah satu sarana untuk menyatukan persepsi antara Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Unit Kerja (PUK). Kesamaan pemahaman dinilai penting agar organisasi dapat bergerak secara lebih terarah dalam menghadapi berbagai persoalan.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam perjuangan organisasi, tidak cukup hanya memahami kepentingan dan kekuatan sendiri. Organisasi juga perlu mempelajari kondisi serta kekuatan pihak yang dihadapi.
“Dalam berjuang, kita sering hanya mementingkan kepentingan sendiri. Kita tidak pernah mempelajari lawan,” kata Riden.
Karena itu, ia mendorong para pemimpin organisasi untuk mulai membangun strategi dengan memahami peta kekuatan pihak lain.
“Strategi kita ke depan adalah kita harus mempelajari bagaimana kekuatan lawan,” tegasnya.
Di akhir penyampaiannya, Riden menegaskan pentingnya menjaga eksistensi FSPMI sebagai organisasi perjuangan kaum pekerja.
“Cita-cita FSPMI harus selalu ada di negeri ini. Sepanjang industri ada, maka FSPMI harus ada, sesuai dengan cita-cita para pendiri FSPMI,” pungkasnya.