Relawan Jamkes Watch, Manusia “Spesies Langka” yang Berjuang Tanpa Pamrih

Relawan Jamkes Watch, Manusia “Spesies Langka” yang Berjuang Tanpa Pamrih

Mojokerto, KPonline – Di tengah udara dingin pegunungan Pacet yang menusuk hingga ke tulang, semangat para relawan Jamkes Watch Jawa Timur justru terasa semakin menghangat. Bertempat di Villa Alfarizi, Pacet, Mojokerto, Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Jamkes Watch Jawa Timur digelar pada Sabtu–Minggu, 18–19 Juli 2026, mengusung tema “Perkuat Soliditas dan Solidaritas, Wujudkan Jaminan Sosial yang Berkeadilan.”

 

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini dihadiri Ketua DPW FSPMI Jawa Timur Jazuli, S.H., perwakilan BPJS Kesehatan, serta relawan Jamkes Watch dari berbagai daerah, di antaranya Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, hingga Probolinggo. Mereka datang bukan untuk mencari penghargaan atau pengakuan, melainkan memperkuat komitmen dalam mengawal hak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

 

Dalam forum tersebut, Direktur Hukum dan Advokasi Anggaran Jamkes Watch Nasional, Ipang Sugiasmoro, menyampaikan pesan yang menggugah. Menurutnya, keadilan yang diperjuangkan Jamkes Watch tidak boleh berhenti pada pelayanan kesehatan semata, tetapi juga harus menyentuh para relawan yang selama ini menjadi garda terdepan mendampingi masyarakat.

 

“Tema yang kita usung hari ini memiliki makna yang sangat luas. Kita ingin jaminan sosial yang berkeadilan, bukan hanya adil bagi rakyat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, tetapi juga adil bagi para relawan yang selama ini mengabdikan tenaga, waktu, bahkan pikirannya untuk masyarakat,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan itu, Ipang menyebut relawan Jamkes Watch sebagai “manusia spesies langka.” Sebuah ungkapan yang lahir dari realitas perjuangan para relawan di lapangan.

 

Di balik rompi dan atribut relawan, sebagian besar dari mereka adalah buruh yang setiap hari masih berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan yang terbatas, beban hidup yang tidak ringan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun sering kali harus berhemat.

 

Namun, ketika ada masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan, satu panggilan telepon atau pesan singkat sudah cukup untuk membuat mereka bergerak.

 

“Banyak di antara kawan-kawan relawan ini hidupnya sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya saja masih ngos-ngosan. Tetapi ketika ada masyarakat membutuhkan pendampingan di rumah sakit, mereka meninggalkan kepentingan pribadinya dan langsung bergerak. Mereka tidak pernah bertanya siapa pasiennya, apa agamanya, dari organisasi mana, atau ada imbalannya atau tidak. Yang mereka pikirkan hanya satu, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan hak pelayanan kesehatan,” tegas Ipang.

 

Nilai-nilai seperti inilah yang kini semakin langka di tengah kehidupan yang kian individualis. Ketika banyak orang sibuk mengejar kepentingan pribadi, relawan Jamkes Watch sebagai salah satu pilar organisasi FSPMI justru memilih hadir untuk sesama tanpa mengharapkan balasan.

 

Pengabdian mereka pun tidaklah ringan. Relawan harus menghadapi persoalan administrasi, berkoordinasi dengan rumah sakit, berkomunikasi dengan BPJS Kesehatan, hingga memberikan dukungan moral kepada keluarga pasien yang tengah dilanda kecemasan. Semua itu dilakukan atas dasar panggilan kemanusiaan, bukan demi materi atau popularitas.

 

Melalui Rakerwil ini, Jamkes Watch Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat soliditas organisasi sekaligus memperluas pelayanan kepada masyarakat. Harapannya, tidak ada lagi warga yang kehilangan hak atas pelayanan kesehatan hanya karena terkendala administrasi, biaya, atau minimnya pendampingan.

 

Di balik setiap pasien yang akhirnya memperoleh pelayanan kesehatan, ada relawan-relawan yang bekerja dalam senyap. Mereka mungkin tak dikenal banyak orang, tak pernah mengejar sorotan, bahkan kerap mengorbankan waktu bersama keluarga. Namun, justru dari pengabdian tanpa pamrih itulah terpancar wajah kemanusiaan yang sesungguhnya.

 

Mereka adalah Relawan Jamkes Watch, manusia “spesies langka” yang tetap memilih menolong, meski kehidupan mereka sendiri belum sepenuhnya mudah.

Pos terkait