Ramadhan Zaman 80-90an : Berburu Tanda Tangan Penceramah

Ramadhan Zaman 80-90an : Berburu Tanda Tangan Penceramah

Bogor, KPonline – Masih ingatkah sahabat, yang mengenyam tingkatan pendidikan Sekolah Dasar antara tahun 80an hingga 90an? Bersama-sama teman-teman berburu tanda tangan penceramah khutbah sholat tarawih? Saya yakin diantara para sahabat, masih banyak yang mengingat dengan jelas momen yang indah tersebut.

Dekade 80-90an, hampir bisa dipastikan, hampir seluruh jenjang pendidikan Sekolah Dasar membuat program khusus pendidikan Agama Islam, yang tentu saja pendidikan tersebut diluar jam sekolah. Pendidikan tersebut pun, tidak masuk kategori jenis ekstra kurikuler sekolah, dikarenakan jenis pendidikan ini dilaksanakan diluar jam sekolah dan dilaksanakan diluar sekolah.

Setiap siswa diwajibkan membeli sebuah buku isian yang harus diisi dengan “sejujur-jujurnya”. Kegiatan sholat fardhu, berpuasa atau tidak pada hari ini, dan yang paling penting, harus diisi dengan kajian atau isi ceramah yang disampaikan oleh pengkhutbah sholat tarawih di setiap malamnya.

Terkesan memberatkan bagi siswa-siswi Sekolah Dasar, tapi ada beberapa hal yang ternyata pada saat kita telah dewasa, hal-hal tersebut sangatlah bermanfaat.

1. Melatih Kesabaran dan Kejujuran
Setiap siswa/siswi akan dilatih kesabarannya, baik itu dalam mengisi Buku Kegiatan Ramadhan, mengerjakan setiap kegiatan yang tercantum dalam Buku Kegiatan Ramadhan, hingga harus mengisi kajian/ceramah sholat tarawih. Selain melatih kesabaran, dalam mengisi Buku Kegiatan Ramadhan pun dibutuhkan nilai-nilai kejujuran. Agar kelak, siswa/siswi tersebut menjadi orang-orang yang sabar dan jujur.

2. Melatih Inisiatif
Setiap siswa/siswi akan melatih dirinya masing-masing dalam menginisiasi. Bisa kita bayangkan, siswa/siswi Sekolah Dasar tersebut “berebut” tanda tangan para penceramah. Bagaimana tata cara berbicara kepada orang yang lebih tua, menghormati para alim ulama, dan tentu saja bagaimana caranya agar sang penceramah segera menanda tangani Buku Kegiatan Ramadhan siswa/siswi tersebut. Dalam melakukan hal-hal tersebut, dibutuhkan inisiatif yang cukup tinggi. Sehingga dimasa yang akan datang, tumbuh dan muncul, generasi penerus yang penuh dengan inisiatif yang positif.

3. Puasa Full, Lebaran Mantul
Akan menjadi kepuasan tersendiri, jika Buku Kegiatan Ramadhan penuh. Puasa penuh sebulan lamanya, kegiatan-kegiatan baik yang fardhu dan sunnah penuh, maka baju Lebaran pun menanti. Hal-hal yang seperti itulah, yang ingin diterapkan oleh guru-guru kita di masa lalu. Agar supaya, bulan Ramadhan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Dengan harapan, generasi muda penerus bangsa, menjadi generasi yang positif.

Bagaimana dengan kamu, atau anak-anak kamu pada bulan Ramadhan di tahun ini? Apakah diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif atau lewat dan berlalu begitu saja. *(Tendy/RDW)

Facebook Comments

Comments are closed.