Medan,KPonline, – Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Utara memperingati Hari Tani Nasional dengan menggelar diskusi publik bertajuk “Reforma Agraria di Tengah Krisis: Membaca Arah Pembangunan dan Masa Depan Petani Indonesia” di Sekretariat DPW SPI Sumatera Utara, Minum Kopi Medan, Rabu (16/9).
Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi petani, akademisi, mahasiswa, pemuda tani, dan masyarakat umum untuk membahas persoalan agraria yang berkembang di tengah perubahan arah pembangunan nasional.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari perspektif yang berbeda, yaitu Edy Suhartono dari Universitas Negeri Medan, Randa Putra K. Sinaga dari PUSKAHAP FISIP Universitas Sumatera Utara, serta Andry Anshari dari Yayasan Sintesa. Diskusi dipandu oleh Yandi Syahputra Hsb, penulis buku Tanah, Negara, Martabat Manusia. Persoalan tanah dalam beberapa tahun terakhir semakin berkaitan dengan berbagai agenda pembangunan, mulai dari ekspansi perkebunan dan pertambangan, pembangunan infrastruktur dan Proyek Strategis Nasional, pengembangan kawasan industri, hingga agenda ketahanan pangan dan transisi energi.

Dalam situasi tersebut, tanah tidak hanya menjadi persoalan kepemilikan, tetapi juga berkaitan dengan sumber penghidupan dan ruang hidup masyarakat. Perubahan penggunaan tanah dapat berdampak langsung terhadap petani dan masyarakat pedesaan yang menggantungkan kehidupan mereka pada sumber daya agraria. Karena itu, diskusi Hari Tani Nasional ini tidak hanya membicarakan konflik agraria yang telah berlangsung, tetapi juga mencoba membaca bagaimana kebijakan pembangunan membentuk persoalan agraria baru.
Diskusi publik tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjadikan Hari Tani Nasional sebagai momentum refleksi terhadap kondisi agraria Indonesia. Pertemuan antara pengalaman petani, perspektif akademisi, dan pandangan organisasi masyarakat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan agraria secara lebih terbuka. Berbagai pertanyaan mengenai ketimpangan penguasaan tanah, konflik agraria, arah pembangunan, ketahanan pangan, transisi energi, dan masa depan petani dibahas dalam sesi diskusi dan tanya jawab.

Peringatan Hari Tani Nasional, dengan demikian, tidak hanya diposisikan sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai momentum untuk terus membicarakan hubungan antara tanah, pembangunan, dan kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan ini, SPI Sumatera Utara mendorong agar pembicaraan mengenai reforma agraria terus menjadi bagian dari diskursus publik. Persoalan tanah perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya dari aspek legalitas, tetapi juga dari aspek keadilan dalam penguasaan dan pemanfaatan tanah, keberlanjutan penghidupan petani, perlindungan ruang hidup, serta arah pembangunan Indonesia ke depan. (MP)