Perda KSPI DKI di Rakernas 2026: Hadirkan Serikat untuk Mereka yang Membutuhkan

Perda KSPI DKI di Rakernas 2026: Hadirkan Serikat untuk Mereka yang Membutuhkan
Winarso, Ketua Perda KSPI sekaligus Ketua DPW FSPMI DKI Jakarta | Foto by Ocha Hermawan

Jakarta, KPonline-Ketua Perwakilan Daerah (Perda) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) DKI Jakarta, Winarso, menyampaikan pesan yang menyentuh sekaligus mengajak seluruh pengurus serikat pekerja untuk kembali pada esensi perjuangan organisasi. Hal itu disampaikannya dalam laporan Perda KSPI DKI Jakarta pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KSPI 2026 yang berlangsung di Hotel Acacia, Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Di hadapan Presiden KSPI beserta jajaran pimpinan dan seluruh afiliasi konfederasi, Winarso mengungkapkan bahwa Perda KSPI DKI Jakarta saat ini memiliki sekitar 24.000 anggota yang berasal dari berbagai federasi. Ia menegaskan bahwa keberadaan organisasi harus diwujudkan melalui peran nyata, bukan sekadar perebutan posisi atau jabatan.

“Prinsip kami sekarang adalah waktunya berperan, bukan baperan. Kemudian untuk apa menjadi pengurus kalau hanya menciptakan kegaduhan dan tidak membawa manfaat bagi anggota?” tegasnya.

Menurut Winarso, tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menghadirkan serikat pekerja bagi mereka yang membutuhkan. Ia mengisahkan sejumlah kasus kecelakaan kerja yang dialami pekerja muda akibat minimnya pelatihan dan lemahnya perlindungan dari perusahaan.

Salah satunya menimpa seorang anggota FSPMI yang bekerja di sebuah perusahaan pengolahan tepung. Awalnya pekerja tersebut bertugas menjaga kebun di depan pabrik, namun karena kekurangan operator, ia diperbantukan di bagian mesin tanpa pelatihan yang memadai.

Akibat tidak memahami prosedur kerja, kakinya terjepit conveyor dan harus diamputasi.

Ia juga menceritakan nasib seorang gadis yang baru lulus sekolah dan berniat membantu ekonomi keluarganya. Anak dari seorang tukang ojek pangkalan dan penjual nasi uduk itu baru bekerja selama seminggu di sebuah perusahaan permen di Jakarta ketika ditempatkan di mesin produksi tanpa pelatihan.

Kecelakaan kerja yang dialaminya menyebabkan sebagian besar jari tangannya harus diamputasi. Ironisnya, perusahaan langsung memutus hubungan kerja dan hanya memberikan sisa gaji setelah tangannya dibalut di klinik.

“Perda KSPI hadir meminta pertanggungjawaban perusahaan. Akhirnya dia mendapatkan pesangon, tetapi karena trauma, dia tidak mau kembali bekerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Winarso menggambarkan kondisi keluarga korban yang hidup dalam keterbatasan. Rumah sederhana yang sempit menjadi saksi beratnya kehidupan kaum pekerja yang menurutnya masih menjadi potret buram Jakarta.

“Kalau melihat langsung rumahnya, pasti air mata keluar. Inilah yang harus diperjuangkan KSPI tentang bagaimana kita mengatasi kesenjangan dan hadir bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Winarso juga mengajak seluruh pengurus untuk tidak mudah mengeluh dalam menjalankan roda organisasi.

“Kita jalani saja dengan apa yang ada. Tidak usah banyak mengeluh. Insya Allah perjuangan tidak akan sia-sia,” katanya.

Di akhir laporannya, Winarso menyampaikan harapan agar keterwakilan KSPI DKI Jakarta di lembaga tripartit Provinsi DKI Jakarta dapat diperkuat. Saat ini KSPI baru memiliki satu wakil di lembaga tripartit dan dua orang di Dewan Pengupahan.

Ia berharap komunikasi dan sinergi antar-federasi dapat semakin diperkuat agar perjuangan serikat pekerja semakin efektif.

“Mudah-mudahan ke depan komunikasi dan sinergi kita semakin terjaga. Dan yang paling penting, kita tetap mampu mengatasi persoalan perburuhan yang memang membutuhkan kehadiran kita,” pungkasnya.