Jakarta, KPonline-Menjelang pelaksanaan Musyawarah Unit Kerja (Musnik), Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Dirgantara dan Transportasi (SPDT) Transjakarta menggelar pendidikan organisasi selama dua hari, pada 1–2 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula DPP FSPMI Lantai 3 ini difokuskan pada tata cara pelaksanaan Musnik yang baik, benar, dan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Pendidikan tersebut menjadi langkah strategis PUK SPDT FSPMI Transjakarta untuk memastikan seluruh pengurus memahami mekanisme Musnik secara utuh. Hal ini dinilai penting agar proses demokrasi di tingkat unit kerja berjalan tertib, transparan, serta menghasilkan kepengurusan yang sah dan berkualitas.
Materi pendidikan dipandu langsung oleh Kahar S. Cahyono selaku Bidang Media dan Propaganda DPP FSPMI serta Syawal Harahap dari Bidang Ideologi. Keduanya menekankan bahwa penguatan organisasi tidak cukup hanya melalui pergantian kepengurusan, tetapi juga harus dibangun melalui kaderisasi, pendidikan, dan kedisiplinan menjalankan AD/ART.
Dalam pemaparannya, Kahar S. Cahyono menjelaskan pentingnya strategi merekrut dan mempengaruhi calon anggota agar mau berserikat. Menurutnya, perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana membangun kesadaran berorganisasi di kalangan pekerja.
Ia menegaskan bahwa media propaganda organisasi harus dikelola secara masif dan terencana. Berbagai bentuk konten seperti berita, poster, meme, video, hingga publikasi edukatif perlu diproduksi secara konsisten agar pesan perjuangan serikat pekerja mampu menjangkau seluruh anggota maupun pekerja yang belum bergabung.
Kahar juga mendorong seluruh pengurus PUK untuk mengoptimalkan berbagai platform digital, mulai dari WhatsApp, Facebook, Instagram, YouTube, hingga media sosial lainnya. Menurutnya, kekuatan organisasi di era digital tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggota, tetapi juga oleh kemampuan menyampaikan informasi secara cepat, akurat, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Syawal Harahap menekankan bahwa pengurus PUK memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan melayani seluruh anggota. Setiap keluhan, aduan, maupun persoalan yang dihadapi anggota harus mendapat perhatian dan tindak lanjut yang nyata, bukan sekadar menjadi laporan tanpa penyelesaian.
Ia mengingatkan bahwa pendekatan kepada anggota merupakan kewajiban seluruh bidang dalam struktur organisasi, bukan hanya tugas ketua PUK. Setiap pengurus harus aktif membangun komunikasi, memberikan pendampingan, serta memastikan anggota benar-benar merasakan manfaat kehadiran organisasi.
Menurut Syawal, ideologi FSPMI harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Organisasi tidak boleh hanya berfokus pada tuntutan normatif kepada perusahaan, tetapi juga harus hadir dalam advokasi, pendampingan, perlindungan hak-hak pekerja, hingga memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi anggota.
Melalui pendidikan ini, PUK SPDT FSPMI Transjakarta menegaskan komitmennya membangun organisasi yang semakin solid, profesional, dan berpihak kepada anggota. Musnik yang akan digelar diharapkan tidak sekadar menjadi agenda pergantian kepengurusan, tetapi menjadi momentum memperkuat perjuangan agar seluruh anggota FSPMI Transjakarta beserta keluarganya dapat hidup lebih sejahtera sesuai cita-cita dan arah perjuangan organisasi.