Paska Mogok Kerja, Intimidasi Masih Terjadi Pada Buruh Shin Han Bogor

Paska Mogok Kerja, Intimidasi Masih Terjadi Pada Buruh Shin Han Bogor

Bogor, KPonline – Ujian dan cobaan yang bertubi-tubi dirasakan oleh buruh anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia. Sebelum mereka melakukan Aksi Mogok Kerja dan Aksi Unjuk Rasa didepan gerbang pabrik PT. Shin Han Indonesia, pun mereka sudah mendapatkan dugaan tekanan mental dan dugaan intimidasi secara psikologis dari beberapa oknum aparat kepolisian. Terlebih-lebih dugaan tekanan mental dan dugaan tekanan psikologis dari pihak oknum-oknum Management PT. Shin Han Indonesia.

Bahkan hingga Senin pagi 29 Januari 2018, buruh anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia pun masih saja mendapatkan dugaan tekanan mental dan dugaan tekanan psikologis dari oknum-oknum pihak Management PT. Shin Han Indonesia. Yang sangat disayangkan dan membuat miris adalah, adanya keterlibatan salah satu oknum HRD dari pihak luar PT. Shin Han Indonesia. Dan sudah terkonfirmasi bahwasanya, salah satu oknum HRD tersebut merupakan Ketua DPC salah satu serikat buruh di Bogor.

59 orang anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia mendapatkan panggilan dari pihak Management PT. Shin Han Indonesia agar pada Senin 29 Januari 2018 masuk kerja seperti biasa. Padahal, buruh anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia sudah secara sah melakukan Aksi Mogok Kerja dan Aksi Unjuk Rasa. Total anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia yang melakukan Aksi Mogok Kerja dan Aksi Unjuk Rasa 98 orang anggota. Mereka “terpaksa” memenuhi panggilan pihak Management PT. Shin Han Indonesia, karena mereka sadar, jika mereka tidak masuk kerja selama 5 hari kerja berturut-turut hal ini akan dijadikan alasan dan argumentasi bagi pihak Management PT. Shin Han Indonesia untuk mem-PHK mereka. Meskipun secara hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia, Aksi Mogok Kerja dan Aksi Unjuk Rasa yang mereka lakukan sudah sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku di negri ini.

Ternyata setelah melakukan absensi (finger-print), mereka malah dikumpulkan di sebuah ruangan di area pabrik. Mereka dipaksa untuk mengumpulkan seluruh ponsel yang mereka bawa. Bahkan buruh anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia tidak diperkenankan untuk bekerja. Ini yang membingungkan sekaligus patut dipertanyakan. Pihak Management PT. Shin Han Indonesia melakukan pemanggilan kepada 59 orang anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia secara resmi dan pengumuman tersebut “dengan sengaja” ditempel di tembok gerbang pabrik PT. Shin Han Indonesia agar supaya buruh anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia yang melakukan Aksi Mogok Kerja dan Aksi Unjuk Rasa melihat dan “mematuhi” pemanggilan tersebut.

Tindakan-tindakan dugaan intimidasi secara mental dan psikologis sangat nyata terjadi. Dan seringkali ini terjadi pada suatu perselisihan Hubungan Industrial. Dan buruh-lah yang dijadikan “obyek penderitaan” dan sasaran empuk bagi oknum-oknum HRD dan pihak Management sebuah perusahaan. Dan ini terjadi di PT. Shin Han Indonesia, dimana buruh anggota PUK SPL-FSPMI Shin Han Indonesia yang sedang melakukan Aksi Mogok Kerja dan Aksi Unjuk Rasa yang sudah sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan di negri ini, malah mendapatkan dugaan intimidasi secara mental dan psikologis. Sampai kapan buruh akan selalu menjadi “obyek penderitaan” dalam suatu perselisihan Hubungan Industrial ?

Facebook Comments

Comments are closed.