Cirebon, KPonline-Sebagai tindak lanjut hasil Kongres VII dan Musyawarah Nasional (Munas) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang digelar di Ancol, Jakarta beberapa bulan lalu, Media Perdjoeangan FSPMI Cirebon Raya menggelar Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) sekaligus membentuk struktur kepengurusan baru periode 2026-2031.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Konsulat Cabang FSPMI Cirebon Raya pada Sabtu (25/7) tersebut dihadiri jajaran pengurus Media Perdjoeangan Nasional, Konsulat Cabang, Pimpinan Cabang, pengurus Media Perdjoeangan daerah Cirebon Raya, serta perwakilan Pimpinan Unit Kerja (PUK) dari Cirebon, Indramayu, dan Majalengka.
Ketua Konsulat Cabang FSPMI Cirebon Raya, Asep Feddy Hartono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir, terutama para anggota (PUK) yang datang dari berbagai daerah dengan menempuh jarak yang cukup jauh.
Menurutnya, kehadiran para peserta menunjukkan tingginya kepedulian dan komitmen terhadap kemajuan organisasi serta penguatan Media Perdjoeangan sebagai salah satu pilar penting dalam gerakan FSPMI.
“Atas nama Konsulat Cabang FSPMI Cirebon Raya, saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada kawan-kawan dari Indramayu, Majalengka, hingga wilayah Cirebon Timur yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk hadir dalam Rakerdasus ini. Kehadiran ini menunjukkan bahwa semangat membangun organisasi masih sangat kuat,” ujar Asep.
Asep menjelaskan bahwa Rakerdasus merupakan bagian dari rangkaian konsolidasi organisasi pasca Kongres VII FSPMI. Seluruh struktur organisasi, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, sedang melakukan restrukturisasi kepengurusan agar roda organisasi berjalan lebih efektif.
Ia menegaskan bahwa proses tersebut dilakukan dengan menerapkan prinsip PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang selama ini menjadi budaya organisasi FSPMI dalam setiap proses perencanaan dan evaluasi.
“Rakerdasus hari ini bukan kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari rangkaian konsolidasi pasca kongres. Setelah ini masih ada agenda-agenda lain di tingkat internal FSPMI Cirebon Raya. Tujuan akhirnya adalah memastikan organisasi terus bergerak, berkembang, dan semakin kuat,” katanya.
Lebih lanjut, Asep menepis anggapan bahwa FSPMI mengalami kemunduran pasca kongres. Menurutnya, berbagai agenda organisasi yang terus berjalan menjadi bukti bahwa FSPMI tetap solid dan aktif menjalankan program perjuangan.
“Melalui kegiatan ini kami (FSPMI Cirebon Raya) ingin menyampaikan pesan bahwa FSPMI tidak pernah berhenti bergerak. Justru kami terus melakukan konsolidasi agar organisasi semakin besar dan semakin banyak pekerja di Indramayu, Majalengka, maupun Cirebon yang bergabung dalam serikat pekerja,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan Media Perdjoeangan memiliki peran strategis dalam menyampaikan berbagai perjuangan anggota kepada publik. Berbagai keberhasilan di tingkat PUK, seperti perjuangan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK), peningkatan jumlah anggota, hingga upaya mendorong perubahan status pekerja dari PKWT menjadi PKWTT, harus terus dipublikasikan agar menjadi inspirasi bagi pekerja lainnya.
Menurut Asep, kepengurusan Media Perdjoeangan periode 2026–2031 juga disusun dengan semangat kebersamaan melalui keterwakilan seluruh wilayah dan sektor di Cirebon Raya. Dengan demikian, setiap daerah memiliki ruang untuk berkontribusi dalam memperkuat media organisasi.
“Media Perdjoeangan adalah media milik seluruh PUK di FSPMI. Karena itu kepengurusannya disusun secara kolaboratif agar seluruh wilayah dan sektor dapat terlibat. Kita ingin membangun budaya bekerja bersama, saling menguatkan, dan saling melengkapi,” jelasnya.
Kemudian, Asep menegaskan bahwa seluruh perjuangan yang dilakukan FSPMI, mulai dari perjuangan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK), penguatan organisasi, hingga pengembangan Media Perdjoeangan, semata-mata ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota.
“Semua perjuangan yang dilakukan oleh KC, PC, DPW, hingga DPP bukan untuk kepentingan pengurus, tetapi untuk seluruh anggota. Ketika perjuangan menghasilkan kenaikan kesejahteraan, yang merasakan manfaatnya adalah anggota. Karena itu Media Perdjoeangan harus menjadi alat perjuangan yang mampu menyampaikan setiap keberhasilan dan semangat organisasi kepada seluruh pekerja,” pungkasnya.



