Panen Raya, Stock Melimpah, Impor Beras Dilakukan, Buruh Demo DPP Nasdem

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Kepala BULOG Budi Waseso atau yang sering disapa Buwas saling silang pendapat dengan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito mengenai impor beras. Menurut Buwas, impor tak seharusnya dilakukan. Adapun, pihak Kementerian Perdagangan mengatakan impor beras merupakan keputusan yang diambil lewat rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Berikut beberapa alasan Budi Waseso menolak impor beras.

1. Stok Beras Aman

Budi Waseso menilai impor tidak diperlu dilakukan setidaknya untuk saat ini karena stok masih aman. Berdasarkan hitung-hitungan yang telah dilakukanya hingga Juli 2019, stok beras aman.

Produksi beras di Indonesia dalam prediksi cuaca kering, musim tanam yang kecil, bahkan hasil panen kecil bisa menghasilkan antar 11 sampai 12 juta ton. Sementara kebutuhan nasional 2,4 juta ton. Berarti, kata dia, ada kelebihan berdasarkan hitungan riil, sehingga tidak harus impor.

Selain itu, saat ini cadangan beras di gudang Bulog mencapai 2,4 juta ton. Jumlah tersebut belum termasuk dengan beras impor yang akan masuk pada Oktober sebesar 400 ribu ton sehingga total cadangannya menjadi 2,8 juta ton.

Dari total cadangan tersebut, Bulog memperhitungkan kebutuhan untuk beras sejahtera hanya akan terpakai 100 ribu ton. Dengan demikian, total stok beras yang ada di gudang Bulog hingga akhir Desember 2018 sebesar 2,7 juta ton.

Jika ditambah dengan serapan gabah petani dalam negeri sebesar 4.000 ton per hari (pada musim kering), diperkirakan stok tahun bisa mencapai 3 juta ton. Budi Waseso meyakini dengan posisi stok akhir Desember ditambah dengan serapan gabah hingga Juni 2019, Indonesia tidak perlu impor beras.

2. Beras Impor Ternyata Keras atau Pera

Berdasarkan hasil evaluasi tim Bulog beras impor ternyata memiliki jenis beras yang keras dan pera. Ini berbeda dengan kualitas beras dalam negeri yang pulen dan disukai rakyat Indonesia. Karena itu, Buwas merasa impor tak diperlukan untuk saat ini.

“Kita punya beras dalam negeri, kenapa pakai beras luar negeri. Saya evaluasi hasil impor yang lalu, ternyata jenis dan rasanya tidak sesuai,” kata dia.

Jika beras impor didistribusikan sebagai beras operasi pasar atau beras sejahtera masyarakat akan mengeluhkan dan menganggap Bulog menjual beras berkualitas rendah. Menurut Budi Waseso, hingga akhir Desember 2018 Bulog bakal terus menyerap gabah petani sebanyak 4.000-5.000 ton per hari.

Pada masa panen raya, diperkirakan daya serap Bulog bisa 10 ribu sampai 15 ribu ton gabah kering per hari. Sampai saat ini, masih menurut Budi Waseso, Bulog telah menyerap beras dalam negeri sebanyak 1,4 juta ton atau 52,2 persen dari target sebesar 2,72 ton pada akhir 2018.

2. Gudang Bulog Tak Muat Menampung Beras

Budi Waseso mengatakan dengan kondisi stok cadangan beras itu, stok beras Bulog sampai akhir tahun bisa mencapai 3 juta ton dengan perhitungan penyerapan gabah dari petani 4.000 ton per hari. Dengan tambahan penyerapan gabah masa panen pada Januari – Juni 2019, dia meyakini Indonesia tidak perlu impor beras lagi.

Stok tersebut, kata Buwas, tersimpan di gudang-gudang Bulog dan penuh kapasitasnya. Jika impor beras tetap dilakukan maka Kementerian Perdagangan harus menyiapkan tempat untuk menyimpannya.

Dia berharap Kantor Kementerian Perdagangan siap dijadikan gudang penyimpanan beras impor. “Mendag udah komitmen, kantornya siap jadi gudang,” ujar mantan Kepala Bareskrim Polri ini.

Bulog berkomitmen bahwa Indonesia tidak memerlukan impor beras karena saat ini stok mencapai 2,4 juta ton. Jumlah tersebut belum termasuk beras impor yang akan masuk pada Oktober sebesar 400 ribu ton, sehingga total stoknya menjadi 2,8 juta ton, atau 2,7 juta ton jika dikurangi dengan kebutuhan beras sejahtera 100 ribu ton.

4. Harga Murah Sehingga Tak Perlu Impor

Selain itu, Buwas juga menolak impor beras karena menganggap saat ini harga beras masih terkendali. Sehingga, belum ada urgensi untuk menambah stok terutama untuk menebar beras guna melakukan operasi pasar dan menstabilkan harga beras.

“Kebutuhan hingga Juni 2019 aman.Harga di pasaran ada yang Rp 8.200 per kilogram, bahkan di beberapa tempat saya temui di bawah Rp 8.000 per kilogram,” ujar Budi Waseso saat konferensi pers di Gedung Bulog, Rabu, 19 September 2018.

Menurut Budi Waseso, sebagai negara agraris, Indonesia tak seharusnya mengimpor beras. Ia menyebut impor beras ini hanya akan menyerap devisa negara yang besar, terlebih dengan kondisi harga tukar rupiah yang semakin melemah.

Buruh Siap Geruduk Kantor DPP Nasdem

Polemik mengenai impor berimbas pada sikap Partai Nasdem yang mempolisikan Rizal Ramli. Sebelumnya, Rizal Ramli sempat membuat pernyataan bahwa Presiden Jokowi tak berani menegur dan menekan Ketua Umum NasDem Surya Paloh dalam kaitan impor gula, garam, dan beras.

Partai NasDem melaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghinaan, pencemaran nama baik dan fitnah sebagaimana dimaksud Pasal 310 ayat 1, dan 311 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Terkait dengan pelaporan tersebut, ribuan buruh akan melakukan unjuk rasa di kantor DPP NasDem, Senin (1/10/2018). Para buruh menilai apa yang dilakukan NasDem adalah sikap anti kritik terhadap elemen masyarakat yang mempertanyakan terkait impor beras.

Sebab, point terpenting dalam pernyataan Rizal Ramli adalah kebijakan impor beras — yang menurut BULOG sendiri sebenarnya tidak diperlukan untuk saat ini.

Selain ke DPP NasDem, buruh juga akan melakukan aksi di Kementerian Perdagangan dan Istana Negara.