Purwakarta, KPonline-Dalam dunia industri tanah air, ada yang namanya pekerja subcon (subkontraktor). Pekerja subcon adalah tenaga kerja atau pihak ketiga yang dipekerjakan oleh kontraktor utama untuk menyelesaikan bagian spesifik dari sebuah proyek.
Mereka bekerja untuk perusahaan vendor yang mendapat pekerjaan dari perusahaan utama, namun sering kali harus menghadapi jam kerja yang tidak menentu, status kerja yang rapuh, dan upah yang bahkan diduga masih berada di bawah ketentuan yang berlaku. Singkatnya, mereka menjalani kehidupan kerja penuh dengan ketidakpastian.
Bagi pekerja, menjadi tenaga subkontrak bukanlah pilihan ideal. Namun karena sempitnya lapangan pekerjaan, membuat mereka menerima kondisi yang ada. Setiap pagi mereka datang lebih awal, pulang lebih malam, bahkan tak jarang harus siap dipanggil ketika perusahaan membutuhkan tambahan tenaga kerja mendadak.
Ironisnya, di tengah tuntutan produktivitas yang tinggi, tidak sedikit pekerja subkontrak yang mengeluhkan ketidakjelasan pengaturan jam kerja.
Namun dalam praktik hubungan kerja berlapis antara perusahaan pengguna jasa, vendor, dan pekerja, pengawasan sering kali menjadi tantangan tersendiri. Ditambah banyak pekerja memilih diam. Mereka khawatir dianggap tidak kooperatif atau bahkan tidak diperpanjang kontraknya apabila terlalu sering mempertanyakan hak-haknya.
Dalam kondisi seperti itu, pilihan yang tersedia sering kali hanya dua: bertahan atau kehilangan pekerjaan.
Persoalan lain yang kerap muncul adalah soal pengupahan, dimana dengan ditemukannya fakta bahwa masih terdapat pekerja alih daya yang menerima upah tidak sesuai dengan standar upah minimum yang berlaku di wilayah tempat mereka bekerja. Kajian tersebut juga mengungkap adanya ketimpangan upah antara pekerja meskipun melakukan pekerjaan yang relatif sama.
Fenomena ini menjadi paradoks. Di satu sisi, perusahaan pengguna sangat menikmati fleksibilitas tenaga kerja. Namun di sisi lain, pekerja yang menjalankan pekerjaan sehari-hari justru sering berada pada posisi paling rentan.
Seorang pekerja subkontrak bisa saja mengenakan seragam yang sama, bekerja di lokasi yang sama, bahkan mengoperasikan mesin yang sama dengan pekerja tetap. Namun ketika berbicara soal upah, jaminan kerja, dan kepastian masa depan, jurangnya bisa sangat lebar. Dan itu menunjukkan bahwa salah satu persoalan utama dalam subcon adalah lemahnya posisi saya tawar pekerja.