Narwoko: Catatan Perjuangan Hari Buruh 2026 – Melawan atau Tergilas!

Narwoko: Catatan Perjuangan Hari Buruh 2026 – Melawan atau Tergilas!

Sidoarjo, KPonline – 1 Mei mungkin adalah hari libur di kalender, namun bagi kaum buruh yang sadar akan haknya, ini bukanlah waktu untuk pelesiran atau hura-hura. May Day adalah hari perlawanan, sebuah monumen peringatan mengapa darah para buruh tumpah demi menuntut keadilan.

 

Bacaan Lainnya

Di negara ini, buruh adalah penyumbang pajak terbesar, namun ironisnya, kesejahteraan mereka seolah menjadi anak tiri dalam kebijakan pemerintah dan wakil rakyat. Kesejahteraan tidak akan pernah diberikan sebagai hadiah; ia harus direbut melalui teriakan di telinga penguasa yang tuli dan di hadapan mata mereka yang pura-pura buta terhadap penderitaan rakyat.

 

Di Jawa Timur, buruh dengan tegas menyuarakan tuntutan untuk menghentikan segala bentuk “pengurangan” terhadap upah melalui pajak-pajak :

– Pajak Kendaraan Bermotor CC Kecil: Sepeda motor adalah “kaki” buruh untuk bekerja, bukan barang mewah yang layak terus diperas pajaknya.

 

– Pajak atas Hak Buruh: Kami menolak tingginya Pajak Pesangon, Pajak THR, hingga Pajak JHT. Uang tersebut adalah jaring pengaman masa depan buruh, bukan komoditas untuk menambal kas negara.

Pemerintah harus membantu menyediakan fasilitas transportasi dengan rute rute yang mempermudah Buruh datang dan pulang dari pabrik pabrik atau kawasan industri.

 

Pemerintah harus menaikkan kuota pendaftaran Sekolah Negeri melalui jalur Afirmasi Anak Buruh.

 

Buruh Jawa Timur mendesak pemerintah provinsi untuk segera mewujudkan Perda Jaminan Pesangon. Perda ini krusial untuk melindungi hak pekerja saat ter-PHK, agar tidak ada lagi drama sengketa panjang yang sengaja dibuat untuk menunda hak dasar buruh.

 

Selain itu, tuntutan pengesahan Undang-Undang Ketenagakerjaan Baru yang berpihak pada kaum buruh adalah harga mati. Mengingat tenggat waktu 24 bulan dari Mahkamah Konstitusi kini tersisa hanya 6 bulan, namun belum ada tanda-tanda itikad baik dari penguasa untuk memperbaikinya.

 

Momentum 1 Mei 2026 ini tidak akan kami sia-siakan untuk sekadar berjoget atau mengikuti agenda seremonial pemerintah. Kami menolak menjadi bagian dari propaganda yang isinya hanya makan-makan untuk mengalihkan isu tuntutan utama.

 

“Kami memilih bersatu, melakukan longmarch, dan menggetarkan aspal Kota Pahlawan. Diantara Tugu Pahlawan dan Kantor Gubernuran, suara keresahan kami akan menjadi cambuk bagi mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan”.

 

Selamat Hari Buruh 2026. Jaga nyala api perlawanan agar tetap berkobar. Jangan biarkan benteng kesejahteraan kita jebol oleh kerakusan oligarki!

 

Dikutip dari Catatan Perjuangan:

Narwoko, S.H. (Ketua PUK SPLP FSPMI PT Pakarti Riken Indonesia).

 

(Khoirul Anam)

Pos terkait