Naikkan Upah atau Turunkan Harga Kebutuhan

Bogor, KPonline – Lilis namanya. Usianya sudah tidak muda lagi. Sudah hampir kepala 4. Tapi semangatnya dalam memperjuangkan kesejahteraan bagi anggota-anggotanya tak perlu kita pertanyakan lagi.

Komitmen dan dedikasinya untuk organisasi sudah melebihi anggota yang lain. Ada yang memanggilnya dengan nama panggilan Emak, Bunda dan bahkan ada yang memanggilnya dengan sebutan Eneng.

Sebagai anggota barisan terdepan dari setiap aksi-aksi FSPMI, Lilis seringkali menjadi pusat perhatian dan tumpuan bagi buruh-buruh perempuan yang ada di organisasi ini.

Anggota Garda Metal Bogor Raya lulusan Latsar 5 Cilember ini pernah menjadi satu-satunya perempuan yang mengikuti Aksi Longmarch Bogor-Jakarta. Laskar Sebastian dibentuk untuk menjadi tim Aksi Longmarch Sukabumi – Bogor – Jakarta yang membawa issue dan propaganda organisasi.

“Kayaknya gua mao resign aja dah Bang” dengan terang-terangan Lilis mengungkapkan niatnya kepada Tim Media Perdjoeangan Bogor untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja.

12 tahun pengabdiannya di sebuah pabrik sepatu di daerah Sukaraja, Bogor tak membuat perubahan apapun terhadap dirinya dan keluarganya. Dengan upah UMK sebesar Rp. 3.250.000; setiap bulannya, ternyata tidak mencukupi kebutuhan hidup dalam sebulan.

“Kalo gua masih kerja, rasanya kayak kerja bakti Bang. Lah kaga punya tabungan apa-apa gua. Kalo gua resign, gua juga bingung buat kebutuhan hidup gua sekeluarga” sambil meremas tissue yang sudah mulai basah oleh air matanya sendiri, Lilis melanjutkan kisah pilu kehidupannya sebagai buruh pabrik.

“Sekarang mah pilihannya cuma dua, Bang. Pengusaha yang naekin upah atau Pemerintah yang nurunin harga-harga kebutuhan pokok,” dengan tegas dan lugas Lilis mengungkapkan.

“Nih yaa gua kasih tau Bang. Tiap hari buat makan sama keperluan anak-anak gua tuh 120 ribuan Bang. Lah di kali 30 hari udah 3,6 juta. Gaji gua aja cuma 3,2 juta. Lah coba itu Bang, gimana kaga dibilang kerja bakti itu gua,” dengan emosi yang meluap-luap dia ceritakan betapa perih beban hidup yang harus dia tanggung.

“Kalo pengusaha kagak mao naekin upah, yaa pemerintah dong yang nurunin harga-harga sembako. Itu juga tuh harga bensin diturunin (BBM ;red). ” Sambil mengaduk kopi hitam yang disuguhkan ke Tim Media Perdjoeangan Bogor.

“Malah gua denger, pemerintah mao naekin tarif listrik lagi yaa Bang. Apa namanya itu kemaren gua nonton di TV, penggabungan daya listrik kalo nggak salah dah,” cerocos Lilis sambil meletakkan piring berisi pisang dan tape uli.

Ternyata pendapat dari seorang buruh perempuan dan juga seorang ibu, dapat kita memetik banyak hal. Wanita atau perempuan, terlebih-lebih jika ia seorang ibu pastilah sangat paham akan keadaan yang dialami saat ini.

Apalagi seorang ibu tersebut juga seorang buruh, pasti akan lebih paham lagi tentang situasi dan kondisi yang terjadi saat ini. Peran seorang ibu yang sangat penting dalam kehidupan ini, menentukan jalan hidup seseorang di kehidupan yang akan datang.

Seperti yang Lilis bilang, pilihannya hanya dua. Jika memang pengusaha tidak mampu untuk menaikkan upah buruh-buruhnya, maka peran pemerintah sangat penting untuk menurunkan harga-harga kebutuhan pokok yang saat ini terus melambung tinggi.