Mereka yang Berjuang di Tengah Ganasnya Laut dan Ketidakpastian Hidup

Mereka yang Berjuang di Tengah Ganasnya Laut dan Ketidakpastian Hidup
Nelayan Pantura. Foto: Media Perdjoeangan/Ocha

Di pesisir utara Jawa Tengah, tepatnya di Tegal, kehidupan para nelayan berputar di antara harapan dan ketidakpastian. Setiap hari, mereka melaut untuk menangkap ikan. Sebuah pekerjaan yang menantang, penuh risiko, dan membutuhkan ketangguhan fisik serta mental. Namun demikian, sering kali hasil yang mereka peroleh tidak sebanding dengan usaha dan bahaya yang mereka hadapi.

Pagi buta sebelum fajar menyingsing, para nelayan sudah memulai mempersiapan diri. Perbekalan yang dibawa tidak hanya mencakup kebutuhan pribadi seperti makanan dan minuman, tetapi juga bahan bakar seperti solar yang harganya terus meningkat. Dengan segala persiapan ini, mereka berlayar menantang ganasnya laut. Ombak yang tinggi dan cuaca yang tak menentu menjadi teman sehari-hari.

Sistem upah yang diterapkan adalah bagi hasil. Setelah tangkapan diperoleh, hasilnya terlebih dahulu dikurangi dengan biaya perbekalan yang telah dikeluarkan. Hanya apa yang tersisa kemudian dibagi antara pemilik kapal dan para ABK. Ironisnya, harga perbekalan sering kali lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tangkapan ikan yang mereka dapatkan. Akibatnya, banyak nelayan yang pulang dengan tangan hampa atau hanya membawa pulang sepuluh atau lima ribu. Bahkan ada kalanya tidak mendapatkan apa-apa. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang luar biasa bagi kehidupan mereka.

“Dulu, laut tidak sesulit ini. Ikan banyak dan harga perbekalan tidak semahal sekarang,” kenang salah seorang nelayan, ketika kami berbincang di sebuah warung tak jauh dari tempat pelelangan ikan.

Kini, harga solar yang terus melambung tinggi menjadi beban yang sangat berat bagi nelayan.

Dia bercerita, sering pulang dengan tangan hampa. Ada kalanya ia hanya mendapatkan lima ribu dari hasil tangkapan setelah dipotong biaya perbekalan.

“Penghasilannya bahkan tidak cukup untuk makan sehari,” ujarnya dengan wajah sendu.

Istrinya, di rumah, harus mencari cara lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, tetap saja, kehidupan mereka jauh dari cukup. Ia pernah berpikir untuk mencari pekerjaan lain, namun dengan keterampilan yang terbatas, pilihan untuk beralih profesi bukanlah hal yang mudah.

Melakukan wawancara terkait dengan kehidupan nelayan di Tegal, Jawa Tengah. Foto: Media Perdjoeangan/Ocha

Realitas ini tidak hanya mengajarkan kita untuk lebih bersyukur dengan penghasilan yang lebih baik dari mereka, tetapi juga menuntut tanggung jawab negara untuk memastikan kesejahteraan para nelayan. Negara perlu hadir untuk memberikan perlindungan dan memastikan mereka mendapatkan kehidupan yang layak. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap hari berjuang agar kita bisa menikmati hasil tangkapan laut yang lezat dan bergizi.

Negara perlu mengimplementasikan kebijakan yang mendukung kesejahteraan nelayan, seperti subsidi bahan bakar, akses permodalan yang lebih mudah, dan harga jual ikan yang adil. Selain itu, perlindungan terhadap keselamatan kerja mereka juga harus menjadi prioritas. Dengan demikian, para nelayan dapat menjalankan pekerjaannya dengan lebih tenang, dan kita sebagai konsumen dapat menikmati hasil laut mereka dengan lebih bermakna, mengetahui bahwa mereka yang bekerja keras di baliknya juga mendapatkan kesejahteraan yang layak.

Dalam kaitan dengan itu, selama dua hari, dari tanggal 27 hingga 28 Juni 2024 yang lalu, saya berada di Tegal untuk memetakan kondisi kerja para nelayan. Meskipun waktu yang tersedia sangat singkat, teman-teman di sana sangat membantu dalam memberikan informasi dan dukungan.

Ini adalah kedatangan saya yang kedua di Tegal, setelah tahun lalu saya juga hadir di sini, untuk membuat film dokumenter berjudul “Suara yang Dibungkam.” Film itu sendiri bertujuan, salah satunya, adalah untuk mengangkat suara-suara kelas pekerja yang sering kali terabaikan. Nelayan salah satunya.

Melalui film ini, kami ingin memperlihatkan realitas kehidupan mereka yang penuh tantangan dan ketidakpastian, serta perjuangan mereka melawan kerasnya kehidupan di laut. Film ini tidak hanya akan menyoroti sisi-sisi kelam dari kehidupan nelayan, tetapi juga memperlihatkan harapan dan kekuatan yang mereka miliki untuk terus bertahan hidup.

Ketika kemarin saya kembali dan mewawancarai nelayan di sana, saya bisa merasakan betapa besar harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik. Mereka tidak meminta banyak, hanya kehidupan yang layak dan penghargaan atas kerja keras mereka. Bahwa suatu hari nanti, anak-anaknya tidak perlu lagi mengalami kesulitan yang sama seperti yang ia alami.

Nelayan, bagaimana pun adalah tulang punggung masyarakat yang sering kali terabaikan. Sudah saatnya kita memberikan perhatian lebih pada mereka dan mendorong adanya perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan mereka. Dengan begitu, para nelayan dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan makanan yang layak, sebagaimana kita menikmati hasil tangkapan mereka dengan penuh rasa syukur.

Kahar S. Cahyono, Wakil Presiden FSPMI, Wakil Presiden KSPI, dan Pimpinan Redaksi Koran Perdjoeangan