Mengenang Aksi Blokade Tol oleh Buruh Bekasi

  • Whatsapp

Bekasi, KPonline – Senin, 29 November 2004, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Kawasan EJIP Cikarang Bekasi. Sebagai pendatang baru di salah satu kawasan terbesar di Indonesia, saya masih awam akan dunia kerja. Saat masih belum tahu apa-apa itulah, saya diajak bergabung dengan Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPAMK FSPMI). Saya ikut saja “dijerumuskan” dalam organisasi ini.

Saya mengikuti setiap kegiatan organisasi. Mulai dari aksi demo ke Jakarta saat May Day dan aksi solidaritas ke beberapa perusahaan di sekitar kawasan EJIP yang terkena PHK sepihak. Sebut saja, PT MTPDI,PT Kymco, dan PT CMKS. Bangga menjadi bagian dari organisasi yang besar dan berwibawa seperti FSPMI.

Bacaan Lainnya

Masih teringat perjuangan dahsyat di tahun 2012 lalu. Ketika itu, UMK Kabupaten Bekasi digugat Apindo ke Pengadilan.

Mengetahui hal itu, buruh bereaksi. Mereka keluar dari pabrik dan bergerak menutup jaln tol Cikampek.

Aksi itu dipimpin dan digerakkan oleh FSPMI. Serentak buruh keluar pabrik melakukan aksi menentang sikap Apindo. Kawasan industri di Bekasi lumpuh. Buruh keluar dari berbagai kawasan, seperti EJIP, Hyundai, Delta, MM 2100, hingga Jababeka, untuk menyuarakan aspirasi menuntut upah layak.

Sejumlah pintu jalan tol di jalur tol Cikampek lumpuh oleh massa aksi. Kemacetan mengular kemana-mana.

Saya menjadi salah satu saksi sejarah dalam peristiwa itu.

Dalam pergerakan aksi tutup tol itu diawali sms dari pleno yang ikut aksi ke Bandung. Bahwa peserta aksi dari Bandung sudah menutup tol Cipularang, maka buruh Bekasi terutama yang ada di rumah langsung membawa kendaraannya ke titik pemusatan aksi.

Saat itu, saya bergabung dengan kawan-kawan lain yang terkonsentrasi di perempatan Lippo, dekat kantor polisi sektor Cikarang Selatan.

Di tengah aksi di perempatan Lippo, kami mendengar ada massa buruh terlibat bentrok di daerah Jababeka. Serentak kami pun meluncur ke Jababeka melalui jalan utama. Di sepanjang jalan, kami melihat banyak buruh yang turun ke jalan.

Di jembatan layang, kami tidak bisa melanjutkan ke arah Utara. Akhirnya kami berbelok ke arah tol Gemalapik. Menutup pintu tol Gemalapik yang sudah dijaga puluhan polisi.

Sekitar pukul 16.00 WIB, massa aksi diinstruksikan untuk bubar karena sudah kesepakatan bahwa gugatan Apindo dicabut.
Menjadi bagian dari sejarah perubahan nasib kaum buruh adalah sejarah. Saya akan menulisnya dengan tinta emas, sebagai penanda bahwa kaum buruh tidak diam. Bahwa apa yang kita capai saat ini tidak datang begitu saja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *