Membangun Kesadaran Kelas dan Melawan Normalisasi Pelecehan: Serikat FSPMI PT Win Textile Gelar Pendidikan

Membangun Kesadaran Kelas dan Melawan Normalisasi Pelecehan: Serikat FSPMI PT Win Textile Gelar Pendidikan

Purwakarta, KPonline–Lingkungan kerja yang aman, sehat, dan bebas dari segala bentuk intimidasi maupun pelecehan bukan sekadar fasilitas pelengkap dari manajemen, melainkan hak dasar normatif yang wajib diperjuangkan oleh serikat pekerja.

Atas dasar komitmen ideologis tersebut, Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Aneka Industri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPAI FSPMI) PT. Win Textile menggelar agenda krusial bertajuk “Pendidikan Kesadaran Gender, Identifikasi Harassment, dan Penguatan Budaya Kerja yang Bermartabat”.

Agenda pendidikan full day ini dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Juni 2026, bertempat di Meeting Room PT. Win Textile, Purwakarta. Diikuti oleh 20 orang buruh delegasi dari berbagai departemen produksi, suasana pendidikan tampak sangat militan dan kompak dengan hamparan warna putih biru dari seragam resmi FSPMI yang dikenakan oleh seluruh peserta sejak pagi hari.

Tepat pukul 07.30 WIB, para peserta sudah memadati area registrasi dengan membawa alat tulis mandiri sesuai instruksi kedisiplinan organisasi. Menginjak pukul 08.30 WIB, acara dibuka dengan khidmat melalui kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya yang langsung disambung dengan kepalan tangan kiri yang bergemuruh menyanyikan Mars FSPMI.

Suasana ruang pendidikan semakin membakar semangat saat Ketua PUK SPAI FSPMI PT. Win Textile maju untuk memberikan sambutan organisasi sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa pendidikan ini dilatarbelakangi oleh masih maraknya praktik ketimpangan sosial dan pelecehan verbal di industri tekstil yang sering kali dianggap biasa (normalisasi).

“Kita sering mendengar gurauan bertema seksis, komentar tidak pantas terhadap fisik kawan kerja perempuan, atau bentakan merendahkan yang menggunakan dalih kejar target produksi. Hari ini, lewat forum pendidikan serikat, kita tegaskan: stop menganggap hal itu biasa! Candaan kasar atau intimidasi verbal yang menyerang martabat pekerja bukanlah budaya buruh yang bermartabat. Pabrik yang aman adalah hak kita, dan serikat wajib hadir menjadi benteng pelindung anggotanya,” tegas Ketua PUK, Mulyana sebelum beliau mengetuk palu sidang sebagai tanda dibukanya pendidikan secara resmi.

Kurikulum pendidikan kali ini dirancang sangat terstruktur dengan mengadopsi metode andragogi atau pembelajaran orang dewasa yang interaktif melalui empat tahapan materi yang saling mengikat.

Pada sesi pertama, narasumber membedah akar masalah mengenai bagaimana ketimpangan jabatan dan senioritas atau relasi kuasa di lantai pabrik sering kali disalahgunakan untuk melanggengkan tindakan semena-mena terhadap kaum buruh, terutama buruh perempuan.

Memasuki sesi kedua, forum bergerak dinamis menjadi ajang bedah kasus riil untuk mengupas tuntas identifikasi pelecehan verbal, di mana para peserta diajak melihat batasan objektif yang tegas antara instruksi kerja profesional, candaan kasual antar-kawan, dan tindakan yang sudah masuk dalam kategori pelecehan psikologis serta dampaknya yang menurunkan produktivitas kerja.

Setelah rehat ISHOMA siang, fokus materi beralih pada penguatan pemahaman hukum positif di sesi ketiga, yang mendalami implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), Permenaker Nomor 5 Tahun 2023, serta strategi taktis mengawal klausul perlindungan pekerja agar tertuang kuat di dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) perusahaan. Sebagai pemungkas, sesi keempat diisi dengan praktik lapangan melalui simulasi teknik intervensi saksi (bystander intervention) dan alur pengaduan resmi.

Melalui simulasi ini, buruh dididik untuk tidak lagi menjadi penonton yang diam saat melihat kawan sekerjanya diintimidasi, melainkan berani mengambil tindakan intervensi yang cepat serta memahami jalur pelaporan yang aman baik ke internal PUK FSPMI maupun pihak manajemen.

Pendidikan yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB ini ditutup dengan perumusan Rencana Tindak Lanjut (RTL), penyerahan sertifikat secara simbolis kepada peserta, dan sesi foto bersama. Kepalan tangan kiri ke atas menjadi penanda bahwa kesadaran kelas buruh tidak akan pernah utuh jika di dalam lingkaran perjuangan itu sendiri masih ada kawan sekerja yang merasa tidak aman dari pelecehan.

Melalui pendidikan ini, PUK SPAI FSPMI PT. Win Textile berhasil melahirkan 20 kader pelopor yang siap mengampanyekan lingkungan kerja zero-harassment di departemennya masing-masing. Perjuangan serikat pekerja bukan hanya soal upah dan kesejahteraan materi, tetapi juga tentang menjaga harga diri dan martabat kemanusiaan kaum buruh di atas lantai produksi.