Melihat Indonesia dari Dalam Pabrik

Jakarta, KPonline – “Ketika kekuasaan yang digandrunginya adalah kekuasaan yang semu, kekayaaan yang dipelototinya adalah kekayaan yang menipu, kemerdekaan yang dicintainya adalah kemerdekaan yang membelenggu.”

Sekali waktu, Emha Ainun Najib pernah menulis buku dengan judul ‘Indonesia Bagian dari Desa Saya’. Kalimat di atas saya kutip dari buku tersebut. Di sana, Emha juga menulis dengan jenaka mengenai jenjang kewiraswastawan: “Apa besok makan?” menjadi “Besok makan apa?”, dan lalu “Besok makan dimana?”, dan akhirnya “Besok makan siapa.”

Saya kira, Emha dengan lihai merefleksikan Indonesia dari Desa.  Kalau Indonesia beraneka warna, apalah lagi pabrik saya. Eh, bukan ding, maksudnya pabrik tempat saya bekerja.

Sebagaimana kita mencintai Indonesia, begitu juga kita mencintai tempat kerja. Tetapi cara orang mengekspresikan rasa cinta berbeda-beda. Ada orang yang mencinta dengan diam-diam, hanya lewat tatapan mata dan senyum yang menggoda. Tetapi ada juga yang ekspresif dengan melahirkan kata-kata bak pujangga.

Terhadap pabrik, ada orang yang menunjukkan rasa cintanya dengan menjadikannya sebagai rumah kedua. Berangkat pagi buta dan pulang ketika hari sudah petang

Tetapi ada juga yang mengungkapkan rasa cinta dengan perhatian yang berlebihan. Misalnya begini. Kalau ada pabrik telat membayar upah atau membayar kurang dari ketentuan, dia yang pertamakali protes. Kalau ada karyawan yang belum mendapatkan BPJS, dia segera tampil ke depan untuk menuntut agar hak-hak karyawan segera ditunaikan.

Karena itu, sejak hari ini, please; jangan sebut orang-orang yang suka protes ini adalah perusuh. Sebab itu adalah bagian dari cara mereka mencintai pabrik tempatnya bekerja.

Bukankah inti dari cinta adalah memberikan perhatian?

Begitu pun dengan mereka yang suka teriak-teriak di jalan menuntut agar revisi UU Ketenagakerjaan tidak dilakukan, menolak kenaikan BPJS Kesehatan, hingga memprotes kenaikan BBM. Mereka bukan orang yang suka bikin onar. Justru hal itu dilakukan sebagai ekspresi rasa cinta, yang tidak ingin melihat Indonesia melenceng dari cita-cita kemerdekaannya.

Kalau Indonesia punya penguasa, di pabrik juga ada. Mereka raja diraja, karena terpilih tanpa perlu ada pemilihan. Bahkan tak jarang kekuatan pemodal mengintervensi kebijakan. Bisa menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang dijatuhkan.

Meminjam kalimat Emha, Indonesia adalah bagian dari pabrik tempat saya bekerja. Sangat wajar jika selain menaruh perhatian pada pabrik, kami juga menyimpan harapan untuk bangsa dan negara ini.