Mau Jadi Buruh Yang Bermartabat? Jangan Korupsi

Batam,KPonline – Dari judul tulisan ini ijinkan saya sedikit mengkritisi sebagian minoritas kawan-kawan buruh yang yang korupsi ditempat kerja. Katanya buruh bermartabat, kok korupsi?

Jika hak kita dirampas, maka perjuangkan hak tersebut sampai titik darah penghabisan. Tapi jangan lupa, buruh yang bermartabat tidak lalai dengan kewajibanya. Memberikan yang terbaik selama jam kerjanya. Selama 8 jam kita digaji oleh perusahaan.

Bacaan Lainnya

Perkara gajinya sesuai atau tidak sesuai tentu sudah menjadi kesepakatan kedua belah pihak sebelum tandatangan kontrak kerja.

Ketika terjadi keseimbangan antara kewajiban dan hak disitulah kita bisa merasa menjadi buruh yang bermartabat.

Sekali lagi saya tekankan, saya hanya membicarakan golongan minoritas. Karna mayoritas buruh itu sangat loyalitas. Tidak diragukan lagi. Sangat disayangkan di dalam golongan minoritas ini ada sebagian aktifis-aktifis serikat pekerja.

Kenapa saya bilang mereka korupsi? Kerja delapan jam sehari di luar jam istirahat. Istirahat 1 jam. Di perusahaan yang ada “rolling break”, ini kesempatan untuk korupsi dengan cara “double break”. Ini kawan-kawan sudah korupsi 1 jam.

Belum lagi waktu untuk merokok di jam kerja 5 s/d 10 menit, dikorupsi menjadi 30 menit karna ke asyikan ngobrol.

Lanjut lagi pas jam sholat, yang seharusnya bisa di selesaikan 15 menit ke bablasan sampai 30 menit atau bahkan 45 menit. Bahkan ada yang tidur dulu di musholla sambil dengkuranya yang sangat mengganggu kuping orang sholat bersahut-sahutan.

Nah, kira-kira sudah korupsi berapa jam dalam sehari? Dua sampai tiga jam bahkan. Berapa jam yang benar-benar kerja? Hanya lima jam. Yang lima jam ini kadang masih sempat juga buka-buka facebook, HP atau youtube. Lalu dimana letak rasa malu kita? Apakah ini yang kita sebut buruh yang bermartabat? Barokah kah gaji yang kita terima? Entahlah!.

Dan untuk yang kerja shift, kesempatan korupsi lebih banyak lagi. Ini tentu saja pelaku korupsinya bukan selevel operator produksi. Tetapi kebanyakan selevel lebih tinggi dan bahkan ada juga yang di atasnya satu-satu.

Masuk shift second istirahat pertama jam 5.30 sore, makan lanjut sholat maghrib, eh nyambung lagi ikut orang-orang yang istirahat jam kedua 6.30 s/d 7.30 malam. Setelah itu lanjut sholat Isya. Baru masuk lagi bekerja jam 8 malam bahkan kadang lewat. Padahal tadi orang-orang nyariin karna membutuhkan bantuan orang-orang yang korupsi ini. Mungkin udah keliling-keliling nyari sampai kaki pegal.

Yang kerja shift malam juga sama. Baru datang mata udah ngantuk. Habis finger nyantai dulu, tidur-tidur ayam dulu sampe satu jam.

Jam dua malam mata udah ngantuk, istirahat pertama jam 3. Karna desakan mata akhirnya jadi mulai lebih awal. Tidurlah jam 2 s/d jam 4 pagi. Bahkan nyambung lagi pas istirahat kedua jam 4 s/d jam 5 pagi. Lanjut sholat subuh. Baru basuk kerja lagi jam 6 pagi, jam 7 udah pulang.

Oh mama, saya begitu kaget melihat fenomena ini. Yang lebih geramnya ketika ada masalah di produksi kita butuh orang tersebut.

Di cari tidak ada, ditelpon tidak di angkat. Pas kita tau ternyata “double break” atau lagi nyantai, atau lagi tidur rasanya kesal luar biasa. Apalagi yang punya perusahaan kan? Coba bayangin kita yang punya perusahaan. Apa kita mau orang-orang seperti itu? Tentu tidak kan?

Kita digaji untuk bekerja 8 jam. Bekerjalah sebaik mungkin. Berikan kontribusi terbaik kita selama jam kerja tersebut.

Biar ketika kita menuntut hak kita yang belum diberikan jadi enak. Dan yang paling penting gajinya barokah ketika dinikmati sama keluarga.

Ini hanya golongan minoritas saja. Tetapi jika golongan minoritas ini kebanyakan dari pengurus serikat pekerja atau orang-orang yang aktif dalam berserikat, pergi demo. Tentu akan menjadi catatan kotor untuk serikat pekerja itu sendiri.

Perusahaan akan memberi label serikat buruh itu orangnya pemalas. Maunya nuntut ini itu tetapi kerja malas. Padahal hanya segelintir orang yang seperti itu jadi berdampak kesemuanya. Bikin sakit hati nggak?

Pada kenyataanya memang ada kawan-kawan yang seperti itu. Dapat tugas dari serikat diberi dispensasi. Dengan senang hati keluar seolah-olah tanggung jawab diperusahaan tidak dipikirkan lagi.

Bahkan kadang minta dispensasi lebih awal dari acara kegiatan serikat dan pulangnya molor satu atau dua hari. Bener nggak? Walau hanya segelintir orang saja ya, tetapi orang yang seperti itu ada.

Dan ini bisa menghancurkan nama baik kawan-kawan yang benar-benar berjuang di serikat, berdedikasi, mengorbankan waktu untuk keluarga demi mengabdi untuk organisasi sosial ini.

Di lain cerita, tugas ratin mungkin dua atau tiga jam saja. Tapi lanjut lagi ngopi tiga atau empat jam. Ini sepertinya sudah menjadi tradisi alias “bad habit”. Padahal setelah selesai urusan kan bisa balik bekerja kembali. Nanti pulang kerja baru lanjut ngopinya.

Eits, kawan-kawan yang benar-benar bekerja dan jauh dari korupsi jangan marah ya. Ingat, saya hanya mengkritisi golongan minoritas. Mudah-mudahan tidak ada di antara pembaca tulisan ini. Kalau pun ada yuk kembali sama-sama kita renungkan. Pantaskah kita berbuat seperti itu? Pantaskah kita disebut buruh bermartabat?

(Maryam)

Pos terkait