Wonogiri, KPonline – Fenomena munculnya puluhan makam kuno di dasar Waduk Gajah Mungkur (WGM) menjadi perhatian warga Kabupaten Wonogiri. Menyusutnya debit air akibat musim kemarau panjang membuat sejumlah area yang selama puluhan tahun terendam kembali terlihat ke permukaan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah kompleks pemakaman kuno yang berada di wilayah Kecamatan Wuryantoro. Makam-makam tersebut tampak di antara hamparan tanah yang sebelumnya menjadi bagian dari kawasan yang ditenggelamkan untuk pembangunan waduk.
Kompleks makam yang sebagian menggunakan batu kapur itu diyakini berkaitan dengan permukiman lama sebelum kawasan tersebut menjadi bagian dari Waduk Gajah Mungkur. Di tengah masyarakat juga berkembang keyakinan bahwa salah satu kawasan makam tersebut merupakan makam legendaris Eyang Raden Santri.
Kemunculan makam bukan sekadar fenomena alam. Bagi masyarakat Wonogiri, terbukanya kembali dasar waduk seperti membuka lembaran sejarah yang selama ini tersimpan di bawah air.
Pembangunan Waduk Gajah Mungkur pada era 1970-an hingga 1980-an mengubah wajah kawasan Wonogiri. Sebanyak 51 desa ditenggelamkan untuk pembangunan waduk, sehingga ribuan warga harus meninggalkan kampung halaman dan berpindah ke berbagai wilayah melalui program transmigrasi maupun relokasi.
Kini, ketika permukaan air waduk menyusut, sebagian jejak kehidupan masyarakat masa lalu kembali terlihat. Makam, bekas permukiman dan berbagai peninggalan lainnya menjadi pengingat bahwa di balik kawasan perairan yang luas tersebut pernah berdiri desa-desa dengan kehidupan dan sejarahnya sendiri.
Fenomena ini pun memunculkan kembali perhatian terhadap pentingnya dokumentasi sejarah kawasan yang terdampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur.
Bagi warga, kemunculan makam kuno tersebut bukan hanya pemandangan yang menarik. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan memiliki konsekuensi sejarah yang panjang.
Saat air kembali naik, jejak-jejak itu kemungkinan akan kembali tenggelam. Namun sejarah masyarakat yang pernah hidup di kawasan tersebut seharusnya tidak ikut hilang. (Yanto)