Kesehatan, Sosial Dan Kemanusiaan Di Mata Inne

Kesehatan, Sosial Dan Kemanusiaan Di Mata Inne

Bogor, KPonline, – Pemeo yang mengatakan orang miskin itu dilarang sakit, sepertinya ada benarnya. Ratusan, ribuan bahkan mungkin saja jutaan kaum miskin, tidak mampu dan sering kali tidak mendapatkan akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan memadai. Dan yang menyakitkan adalah, sudah banyak rumah sakit-rumah sakit yang memasang tulisan di bagian pelayanan, mengkotak-kotakan pasien, berdasarkan jaminan kesehatan yang mereka miliki.

Sebut saja, layanan asuransi kesehatan, layanan umum, layanan VIP dan berbagai macam layanan. Dibedakan, dan dibagi-bagi berdasarkan golongan dan kemampuan. Bagaimana dengan warga masyarakat yang seharusnya masuk kedalam kategori miskin atau sangat miskin? Apakah mereka tidak layak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan memadai?

Menyoroti sebuah kasus yang telah terjadi di Bengkulu, Octaviani S, salah seorang Relawan Jamkeswatch dari DPD Cianjur memberikan pandangan dan komentar. “Masalah klasik sebetulnya itu. Almarhim Pak Rusli Sulaeman tidak tertolong nyawanya, dengan sakit yang di derita oleh almarhum selama 1 tahun lebih adalah kesalahan dari pemerintah setempat yang kurang peduli pada warganya. Apalagi bilamana yang menjadi kendala adalah kartu jaminan kesehatan” ungkap perempuan yang akrab disapa dengan panggilan Teteh Inne ini.

Berdasarkan informasi dan keterangan yang dihimpun oleh Media Perdjoeangan Daerah, seharusnya almarhum Pak Rusli Sulaeman, sangat layak untuk masuk kedalam kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI). “Seharusnya almarhum Pak Rusli Sulaeman bisa masuk kedalam kategori PBI, baik itu PBI yang dibiayai oleh APBD atau pun PBI yang dibiayai oleh APBN” lanjut Inne.

“Semua pihak, terutama pemerintah daerah setempat. Dimulai dari tingkat RT, RW, Lurah atau Kepala Desa, bahkan Camat hingga Bupati dan Gubernur, harus peduli dengan warga masyarakatnya. Dan perlu diteliti lebih lanjut, apakah sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tidak berjalan dengan baik disana? Perlu kita pertanyakan juga kan” tutur Inne kepada awak Media Perdjoeangan Bogor.

“Kasus almarhum Pak Rusli Sulaeman, seharusnya beliau dapat tertolong dengan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan memadai. Jika saja pihak-pihak terkait mampu dan mau berkoordinasi serta berkomunikasi dengan baik. Almarhum Pak Rusli Sulaeman itu sudah masuk kedalam kategori miskin. Beliau tidak mampu bekerja, karena kesehatan almarhum, mengakibatkan beliau tidak mampu untuk bekerja. Rumah almarhum masuk kategori sederhana, dan sudah selayaknya, almarhum dapat menjadi peserta BPJS Kesehatan kategori PBI” lanjut Inne.

“Dan saat ini, kita yang masih diberikan kelebihan rezeki, sudah seharusnya peduli dengan kondisi anak almarhum. Karena kini anak-anak dari almarhim Pak Rusli Sulaeman sudah yatim, dan sementara ini, diasuh oleh pihak bibi mereka. Saya berharap, semoga pihak pemerintah daerah, dan pihak-pihak terkait peduli kepada kondisi anak-anak almarhum” jelas Inne.

“Kedepannya, yang paling utama saat ini kalau menurut saya saat ini adalah, agar
Sosialisasi tentang Jaminan Kesehatan Nasional oleh Puskesmas-Puskemas. Pengerahan kader-kader kelompok kerja desa dan Posyandu harus bisa di gerakan kembali. Agar warga masyarakat peduli dengan jaminan kesehatan mereka. Bagi daerah-daerah yang dimana warga miskinnya banyak, pihak pengurua RT dan RW harus bisa melakukan pemutakhiran data ke Badan Data Terpadu (BDT) atau ke TKSK (Tenaga Kerja Sosial Kecamatan). Kenapa? Karena data-data warga masyarakat yang masuk kedalam kategori miskin berawal dari RT dan RW kan? tegas Relawan Jamkeswatch DPD Cianjur ini.

Inne pun memiliki harapan dan keinginan kepada seluruh Relawan Jamkeswatch, agar mampu bersinergi dengan berbagai pihak. ” Relawan Jamkeswatch harus terus menjalankan SKA. Sosialisasi, Konsultasi dan Advokasi yang berkesinambungan dan kontinyu. Setiap Relawan Jamkeswatch jangan sampai terkotak-kotak, harus mampu untuk saling bersinergi dengan wilayah-wilayah yang lain. Masyarakat sangat terbantu dengan adanya dan hadirnya Relawan Jamkeswatch. Dan hal itu yang selama ini saya pahami dan rasakan. Dan setiap Relawan Jamkeswatch pun harus mampu mendekatkan diri kepada aparatur-aparatur setempat, agar progran Jaminan Kesehatan Nasional bisa berjalan dengan baik secara berkesinambungan” harap Inne. (RDW)

Facebook Comments

Comments are closed.